BERANI BERKORBAN DEMI KEBENARAN (1 PET 1;1-2).

Pendahuluan

  • Jika memperhatikan kehidupan praktis sehari – hari, umumnya semua orang tampak berbeda dalam segala area hidup: Mempunyai selera yang berbeda terhadap makanan yang dimakan, buku yang dibaca, tayangan yang ditonton, tempat wisata yang dikunjungi, musik yang dinikmati demikian juga dengan pakaian yang di pakai.
  • Bukan hanya dalam hal sederhana yang disebutkan diatas kita tampak tidak sama. Kebanyakan dari kita juga berbeda dalam hal hoby, hal filsafat, pandangan dan juga sikap politik. Begitu pula dalam hal menjalankan rumah tangga dan usaha, merawat dan membesarkan anak, pendidikan, warna kulit termasuk tinggi badan.
  • Menariknya, dari sekian banyak hal yang membuat kita tampaknya berbeda itu, ternyata ada satu hal yang  merupakan kesamaan kita semua, baik pria/wanita, kulit hitam/putih, terpelajar/tertinggal, dst; yakni sama – sama tau apa artinya rasa sakit, apa artinya disakiti, atau mengalami sesuatu hal yang menyakitkan.
  • Bd: Rasa sakit adalah bahasa universal (umum) dimana semua orang mengerti dan pernah merasakannya. Air mata yang diakibatkan oleh rasa sakit memiliki  makna yang sama baik bagi orang Kristen, Hindu, Budha maupun Muslim. Bagi warna kulit putih, sawo matang, kulit hitam, anak – anak, dewasa maupun lansia.
  • Oleh karena semua orang mengerti makna rasa sakit maka tidak heran jika sengatan rasa sakit ini membuat banyak orang berupaya menghindari ujian hidup, sakit penyakit, penderitaan termasuk bencana atau tragedi kehidupan.

Petrus paham rasa sakit akibat berkorban  

  • Rasul Petrus dalam tulisannya di kitab Petrus yang pertama ini memusatkan perhatiannya pada satu pokok bahasan yang menarik, yakni berbicara mengenai  berani berkorban demi kebenaran atau rela menderita/rela mengalami rasa sakit demi kebenaran/demi iman kepada Yesus Kristus.
  • Artinya, Petrus mengerti bagaimana sakitnya sengat api penderitaan dan siksaan yang dialami oleh orang – orang percaya pada jaman gereja mula-mula itu.
  • Bd: Oleh karena iman kepada Yesus Kristus, mereka harus jauh dari tempat tinggal mereka. Ini bukan karena pilihan,  kesalahan atau kelalaian sehingga mereka harus tersebar ke Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil…  (I Pet 1;1).
  • Bd: Sebahagian besar dari orang Kristen pada jaman itu menderita karena mereka hidup saleh, melakukan apa yang baik dan benar. Yang sebahagian lagi mengalami rasa sakit akibat dipermalukan, dihina dan dicaci maki didepan orang – orang yang tidak percaya hanya karena membela nama Yesus Kristus.
  • Bd: Sekitar 7-8 kali kata pederitaan  disebutkan dalam kitab ini, dan semua itu merujuk pada “orang – orang pendatang yang tersebar”.
  • Bd: Jika kita pernah diperlakukan dengan semau – maunya, maka kita pasti mengerti seberapa besar godaan untuk membela diri, melawan bahkan membalas dendam namun Petrus mendorong orang percaya untuk  menempatkan rasa sakit dan penderitaan (pengorbanan) pada perspektif yang benar.

Menempatkan rasa sakit pada perspektif yang benar

  • Alasan mengapa rasul Petrus mendorong semangat orang percaya untuk  menempatkan rasa sakit dan penderitaan (pengorbanan) pada perspektif yang benar,  antara lain adalah:
  1. Pemeliharaan Allah (1 Pet 1;5).
    • Perhatikan kalimat: Kamu (kita) yang dipelihara dalam kekuatan Allah. Katakan, di pelihara dalam kekuatan Allah.
    • Kata “dipelihara dalam kekuatan Allah” menjelaskan bahwa, walau orang-orang percaya diijinkan mengalami rasa sakit, dituntut untuk berkorban bukan berarti mereka akan mati kelaparan/teru-menerus tinggal dalam sengsara.  Alkitab melaporkan bahwa dalam penderitaan sekalipun, kita tetap dipelihara dan dilindungi oleh system pengamanan yang sangat memadai yaitu kuasa Allah.
    • Tidak peduli apapun jenis kekecewaan yang dialami, seberapapun dalamnya rasa sakit yang dirancang oleh musuh/jenis kehancuran yang kita alami. Tidak ada rasa sakit bahkan kematian sekalipun yang dapat menyesatkan kita dalam proses menjalani penderitaan/dapat melemahkan pemeliharaan Allah atas hidup kita.
    • Bd: Pemeliharaan yang dimaksud tidak hanya berlaku pada tubuh/fisik tetapi juga jiwa/roh. Saat kehancuran dan kematian terjadi pada tubuh kita karena bencana atau kekejaman perang dunia maka roh kita tidak hilang begitu saja bersama dengan tubuh kita. Dia yang menciptakan kita dari debu akan memelihara dan melindungi roh kita sehingga sampai ketujuan abadi.
    • Bd: Allah berada diantara kita dan semua hal yang mengancam urusan kekekalan kita. perlindunganNya menyeluruh dan langsung merupakan pekerjaan Allah (Yoh 17;14-15).

2. Rasa sakit menguji keaslian iman kita (1 Pet 1;6-7).

  • Perhatikan kalimat: Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berduka cita…
  • Kalimat, “Sekalipun sekarang ini kamu harus berduka cita” menjelaskan bahwa sesungguhnya suka cita itu tanpa syarat, tidak bergantung pada keadaan sekeliling, mengingatkan agar kita tidak mengabaikan kenyataan bahwa suka cita sering sekali terjadi setelah rasa sakit.
  • Namun bukan berarti kita harus memuliakan penderitaan dan mencari-cari penderitaan. Kita bersuka cita bukan karena menghadapi masa – masa sukar tapi karena melalui masa-masa sukar keaslian iman kita diperlihatkan. 
  • Hal yang signifikan yang dapat dihasilkan oleh penderitaan/ujian ialah: Membakar kotoran-kotoran yang ada (1 Pet 1;6).
  • Kata “berbagai” berasal dari bahasa Gerika “Poikolos”. Artinya bervariasi atau beraneka warna. Dari kata ini muncullah istilah titik-titik atau berbintik-bintik atau berbagai bentuk/warna.
  • Mengapa penderitaan berbeda-beda? Karena manusia satu sama lain juga berbeda. Oleh sebab itu sesuatu yang tidak terasa berat bagi seseorang dapat mengakibatkan seseorang jatuh terjerembab. Karena itu kita tidak boleh meremehkan/membanding-bandingkan  ujian yang dihadapi orang lain.
  • Ukuran ujian bagaikan ukuran temperature yang berbeda-beda dalam dapur perapian Allah, dimana satu sama lain disesuaikan dengan maksud untuk membakar jenis-jenis kotoran yang ada sehingga membentuk dan memperhalus kita supaya sesuai dengan tuntutan yang maha tinggi.
  • Bd: Rasul Paulus tiga kali memohon kepada Allah untuk menyingkirkan duri dalam dagingnya (2 Kor 12;7-10).

Nyanyian dan Penyembahan

  • Ku hidup karena anugerahMu

7 komentar untuk “BERANI BERKORBAN DEMI KEBENARAN (1 PET 1;1-2).”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *