JANGAN MUDAH KECIL HATI (KIS 15;35-41).

  • Pada minggu pertama yang lalu, kita telah diberitahu bahwa panggilan kita sebagai orang percaya yang telah lahir baru, disamping untuk beribadah dan melayani Allah, juga sebagai pelayan – pelayan pendamaian atau memutuskan siklus permusuhan. Hal ini kita pelajari dari  (2 Kor 5;16-19).
  • Disamping mengerti apa yang merupakan panggilan kita sebagai orang percaya yang telah lahir baru, minggu pertama itu, kita juga telah belajar darimana asal timbulnya konflik dalam hubungan – hubungan kita, yakni dari keunikan atau perbedaan – perbedaan yang ada pada setiap kita (Lih, Mzm 139;14).
  • Bd:  Manusia berbeda dalam beberapa hal, yakni; Genetika, kepribadian, dan dalam hal merespon atau mengerjakan sesuatu. Perbedaan – perbedaan ini tidak salah sehingga ia harus dihapuskan, ia hanya perlu diterima dan dimengerti, sebab ia merupakan keunikan/ keajaiban dalam penciptaan.

Mencabut ketersinggungan

  • Setelah mengerti bahwa panggilan kita sebagai orang percaya yang telah lahir baru adalah sebagai pelayan – pelayan pendamaian atau memutuskan siklus permusuhan. Pada minggu kedua kemaren kita belajar tentang bagaimana cara Alkitabiah untuk memtuskan siklus permusuhan, yakni: Mencabut Ketersinggungan (Luk 9;51-56).    
  • Dalam nats itu disampaikan bagaimana Yesus Kristus menegor para murid yang tersinggung dengan sikap/perbuatan orang Samaria. Alasannya adalah:  Karena ketersinggungan dapat mengakibatkan seseorang tergelincir kapan saja. Itulah sebabnya Yesus meminta agar mereka mencabut ketersinggungannya.
  • Setelah mengetahui poin pertama, metode Alkitabiah memutuskan siklus permusuhan, maka pada kesempatan ini saya akan berbagi kepada kita sekalian metode Alkitabiah yang kedua, yakni:

2. Jangan Mudah Kecil Hati (Kis 15;35-41).

  • Perhatikanlah bunyi kalimat yang dicatat dalam ay;38 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Tetapi Paulus dengan tegas berkata, bahwa tidak baik membawa serta orang yang telah meninggalkan mereka di Pamfilia dan tidak mau turut bekerja bersama – sama dengan mereka.
  • Pernyataan ini menjelaskan bagaimana rasul Paulus pernah dengan tegas menolak keikutseratan Markus dalam perjalanan pelayanan Misinya yang kedua bersama dengan Barnabas yaitu untuk mengunjungi jemaat – jemaat yang ada di kota Siria maupun Kilikia.
  • Tidak hanya sekedar ditolak untuk ikut dalam perjalanan misi, Markus juga disebut sebagai seorang yang malas, tidak bertanggung jawab serta dianggap tidak loyal pada panggilan dan tim (15;38).
    • Dengan kata lain, Markus dipermalukan, dipersalahkan dan dimarahi raul Paulus dihadapan Barnabas yang adalah paman dan sekaligus pemimpinnya.
  • Bd: Bahkan mungkin ada beberapa orang yang menganggap bahwa Markus adalah penyebab dari terjadinya perselisihan antara Paulus dan Barnabas (15;39). 

Markus tidak mudah kecil hati  

  • Hal istimewa dan sangat menarik untuk kita pelajari dari peristiwa yang sedang dialami oleh Markus ini adalah, bahwa Markus tidak kecil hati dengan semua sikap tegas serta kemarahan yang diperlihatkan oleh rasul Paulus kepadanya. Dimana Markus pada kala itu masih sangat muda dan sedang belajar melayani. 
  • Memang ada alasan mengapa rasul Paulus bersikap tegas dan marah kepada Markus, yakni karena Markus pernah meninggalkan Paulus dan Barnabas dipelayanan (15;38).
  • Bd: Para penafsir Alkitab memberitahukan alasan mengapa Markus meninggalkan Paulus dan Barnabas di Pamfilia adalah kemungkinan karena rindu pada ibunya, mungkin karena ada pergesekan dipelayanan, beratnya tantangan dipelayanan, dll.
  • Tetapi jika memperhatikan bagaimana tegas dan pedasnya sikap dan perkataan yang disampaikan Paulus kepada Markus, yakni;  disebut malas, tidak bertanggung jawab, tidak loyal, dll,  maka adalah wajar apabila Markus kecil hati/kecewa atas sikap dan perlakukan Paulus, bahkan ia bisa saja mundur dan meninggalkan pelayanan.
  • Namun ayat Alkitab yang kita baca ini melaporkan bahwa; Markus tetap setia, komit dan masih ikut melayani Bersama Barnabas. Dengan kata lain,   Markus menolak untuk kecil hati apalagi kecewa (lih, 15;39).
  • Bd: Seandainya Markus mudah kecil hati dan kecewa maka ia tidak akan lulus dari proses. Tentulah Markus tidak akan menjadi hamba Tuhan yang berhasil dan tidak pernah menjadi seorang yang dipakai Tuhan sebagai penulis kitab Injil Markus.
  • Bd: Hingga suatu waktu, rasul Paulus menyadari bahwa ia pernah salah dalam menilai dan memperlakukan Markus. Paulus meminta agar Timotius membawa serta Markus untuk membantu Paulus sebab tim yang bersama dia telah berbalik dan meninggalkannya  (2 Tim 4;11).

Jangan menghalangi jalan sendiri

  • Belajar dari pengalaman Markus yang juga disebut Yohanes ini maka dapat kita mengerti bahwa: Aturan pertama jika ingin manjalani hidup yang berkemenangan adalah: Jangan menghalangi jalan kita sendiri, jangan memukuli diri kita sendiri dengan mudah kecil hati. Ingat! Musuh terbesar kita adalah diri kita sendiri.
  • Dwight L. Moody, seorang Penginjil terkemuka dari Inggris  berkata: Saya tidak pernah bertemu dengan orang yang telah memberi kesulitan sebesar yang dilakukan oleh diri saya sendiri. Artinya, kememangan terbaik dan pertama yang bisa kita raih adalah apabila kita bisa menakhlukkan diri kita sendiri (Ams 16;32).
  • Sir. Edmund Hillary, penakhluk puncak Mount Everest pertama, berkata: Bukan gunung yang perlu kita takhlukkan, melainkan diri kita sendiri. Artinya, hanya kita yang dapat menahan diri kita; Hanya kita yang dapat menghalangi jalan kita sendiri. Tidak ada seorangpun yang dapat menghentikan kita selain diri kita sendiri.  

Yesus VS orang – orang yang menyebalkan

  • Bagaimana respon Yesus Ketika Dia diperhadapkan dengan orang – orang yang mengecewakan dan juga menyebalkan?
  • Yesus tidak kecil hati/kecewa. Ia bersikap realistis pada keterbatasan muridNya dan mengampuni mereka. Matius melaporkan bagaimana adegan mengecewakan itu berlangsung (Mat 26;36-38, 40-41, 43-46).

Nyanyian Dan Penyembahan

  • Kau kuatkan aku bertahan
  • Taman Tuhan  

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *