Pendahuluan
- Dari tulisan rasul Paulus kepada jemaat di Korintus yang telah kita baca dan pelajari pada minggu yang lalu, yakni yang dicatat dalam 2 Kor 5;16-18 menjelaskan kepada kita bahwa: Allah ingin agar setiap orang percaya mengerti bahwa panggilan mereka adalah sebagai pelayan – pelayan pendamaian atau sebagai pemutus siklus permusuhan.
- Itu sebabnya dalam ay;18 Firman Tuhan berkata: Kristus telah mendamaikan kita dengan diriNya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Kalimat ini menjelaskan bahwa panggilan kita sebagai orang percaya adalah menjadi pelayan – pelayan pendamaian atau sebagai pemutus siklus permusuhan.
- Bukan sebaliknya; turut menciptakan permusuhan atau terus – menerus membiarkan permusuhan terjadi/ hidup dalam permusuhan! Karena itulah kita diingatkan agar tidak menilai seorang jugapun menurut ukuran manusia sehingga tidak timbul konflik (2 Kor 5;16).
Bagaimana memutus siklus permusuhan?
- Setelah mengerti apa yang merupakan panggilan orang – orang percaya, maka pada kesempatan ini saya akan mengajak kita sekalian untuk melihat bagaimana cara memutuskan siklus permusuhan?
- Hal ini penting untuk dipahami oleh semua orang khususnya orang percaya, sehingga mereka semua dapat keluar dari siklus permusuhan yang terus – menerus membelenggu kehidupan banyak orang.
- Adapun beberapa metode Alkitabiah dalam memutuskan siklus permusuhan sebagaimana yang disampaikan dalam Alkitab, antara lain adalah:
- MENCABUT KETERSINGGUNGAN (LUK 9;51-56).
- Perhatikan apa yang dikemukakan dalam ay;54 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Ketika dua muridNya, yaitu Yakobus dan Yohanes, melihat hal itu, mereka berkata: Tuhan apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?
- Kalimat, “Tuhan apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?” adalah menunjuk pada: Bagaimana Yakobus dan Yohanes tersinggung dengan sikap dan perlakuan orang Samaria. Hal ini disebabkan oleh ketidaksediaan orang samaria membiarkan Yesus dan para muridNya lewat melalui Samaria (ay;53).
- Melihat apa yang terjadi, Yakobus dan Yohanes tersinggung. Mereka tidak bisa terima perlakuan yang diperlihatkan tersebut, yakni tidak mengijinkan Yesus lewat melalui Samaria menuju Yerusalem. Mereka marah dan ingin menghancurkan desa – desa orang Samaria sehingga dengan demikian rasa sakit mereka menjadi impas. Amarah itu “netral”
- Pada dasarnya, marah itu tidak buruk, ia adalah sebuah luapan emosi yang “netral”. Apa yang kita lakukan dengan amarah, itulah yang menentukan apakah itu akan menjadi positif atau negative (konstruktif atau menghancurkan) hidup kita.
- Konstruktif, apabila marah kita adalah marah yang bernilai/benar:
- Ketika hak – hak pribadi kita yang Allah berikan terancam/diganggu.
- Apabila keyakinan pribadi diganggu/ terancam.
- Bd: Mrk 2;27 ; 3;6.
- Menghancurkan, apabila marah kita adalah marah yang bercampur aduk dengan:
- Motif pembalasan dendam, bersifat permusuhan.
- Penyelesaiannya dengan penganiayaan fisik, bertindak kasar – membanting pintu – nyetir dengan ceroboh, berkata kasar/ merendahkan, berteriak, mengancam, dll.
Respon terhadap ketersinggungan
- Hal menarik yang ingin saya bagikan kepada kita sekalian dari kisah ini ialah: Seperti apa respon atau tanggapan Yesus kristus pada kedua orang muridNya yang sedang tersinggung dan marah kepada orang samaria itu. Apakah Yesus mendukung atau menghentikan mereka?
- Berdasarkan keterangan ayat Alkitab: Yesus berpaling dan menegur mereka (ay;55). Dengan kata lain, Yesus mengingatkan kedua murudNya akan identitas mereka sebagai pelayan pendamaian, akan roh apa yang ada dalam diri mereka, dan Yesus meminta agar Yakobus dan Yohanes mencabut ketersinggungan mereka.
- Bd: Penulis kitab Markus menyebut bahwa Yakobus dan Yohanes adalah anak – anak guruh (Mrk 3;17). Seseorang tidak akan mendapat julukan tanpa alasan. Yakobus dan Yohanes dikenal sebagai orang ‘kasar’. Mereka tidak akan mundur menghadapi konfrontasi apapun. Mereka sangat agresif dan juga sangat sensitif.
- Alasan mengapa Yesus menegor kedua murid kesayanganNya itu adalah karena Yesus mengerti bahwa ketersinggungan dan kemarahan dapat mengakibatkan seseorang tergelincir kapan saja.
- Bd: Yesus adalah pemimpin yang berhasil dalam Visi dan MisiNya. Dan salah satu kunci keberhasilanNya adalah Ia mencabut ketersinggungan setiap kali masuk kedalam diriNya.
- Bd: Kini Boanerges menjadi pribadi yang berbeda. Yakobus adalah rasul pertama yang menjadi martir. Dan Yohanes dikenal sebagai rasul kasih. Dan dia adalah penulis Injil Yohanes dan juga surat Yohanes 1, 2, dan 3.
Teguh pada tanggung jawab
- Peristiwa dimana Yesus menegor serta meminta Yakobus dan Yohanes untuk segera mencabut akar ketersinggungan mereka atas sikap dan perlakukan kasar dari orang Samaria ini, mengajarkan bahwa: Kita bertanggung jawab penuh atas kendali diri kita.
- Orang – orang lain yang merupakan musuh kita tidak mempunyai kuasa atas diri kita kecuali jika kita mengijinkannya, yakni mengijinkan kemarahan orang lain mempengaruhi kita.
- Perlu digaris bawahi, bahwa cara terbaik untuk meredam ketersinggungan adalah jangan menyalahkan orang lain atas hilangnya kesabaran kita.
- Bd: Setiap orang percaya perlu berpaling dari cercaan pribadi. Sebab melekat padanya sama dengan memupuk taman apa yang kita beri makan untuk bertumbuh.
- Bd: Setiap orang memiliki “beban dosa” dan kita semua rentan terhadapnya (Ibr 12;1). Bagi sebahagian besar orang, beban dosa itu adalah ketersinggungan, sebab diatasnya kuasa kegelapan dapat membangun benteng yang kokoh.
Nyanyian dan Penyembahan
- Selidiki aku…
- Inilah rinduku…


