RAHASIA MENGALAMI REALITAS HADIRAT TUHAN (YOH 4:23-24)

religion, faith, cross-3452571.jpg

Pendahuluan

  • Perhatikan ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay;23 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah – penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah – penyembah demikian.
  • Frasa, “sebab Bapa menghendaki penyembah – penyembah demikian” menjelaskan bahwa: Realita dari kehadiran Tuhan itu ternyata tidak serta merta dapat dirasakan/dialami oleh semua orang, hanya karena dia adalah orang yang percaya, datang kepada Allah melalui doa dan nyanyian penyembahan, memintanya, atau menginginkannya.
  • Ada syarat/tanggung jawab/ketentuan – ketentuan lain yang bersifat sangat prinsip yang  harus dipenuhi oleh setiap orang jika ingin mengalami  realita dari kehadiran Tuhan secara terus – menerus dalam hidupnya.  Artinya, mengalami realita kehadiran Tuhan bukanlah hal yang terjadi secara otomatis karena kita sudah percaya kepada Yesus Kristus, dst.
  • Memang benar bahwa tabir yang didalam Kemah Suci telah terbelah dua melalui kematian Yesus Kristus (Mrk 15;38), sehingga sekarang setiap orang yang percaya memiliki akses masuk langsung ke Tahta Tuhan dan jalan masuk kehadirat Tuhan telah terbuka bagi semua orang percaya.  
  • Tetapi bukan berarti bahwa Tuhan tidak punya standart/syarat/ketentuan yang harus dipenuhi oleh setiap orang yang ingin menghampiri hadiratNya? Atau, bukan berarti bahwa kita bisa menghampiri Dia sembarangan/sambil lalu saja? Atau mempersembahkan pujian dengan sembarangan, lalu mengahrapkan manifestasi hadiratNya?

Syarat agar mengalami realita hadirat Tuhan

  • Berikut ini adalah syarat atau ketentuan – ketentuan yang harus diperhatikan jika ingin mengalami manifestasi hadirat Tuhan saat demi saat. Antara lain:
  1. Memiliki kehidupan rohani yang benar (Yoh 4;23).
    • Firman Tuhan ini berkata bahwa Bapa menghendaki penyembah – penyembah yang demikian. Yang dimaksud dengan “penyembah – penyembah demikian” adalah,  penyembah – penyembah yang menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran. Hal ini dipertegas kembali dalam ay;24.
    • Saya meyakini bahwa yang dimaksud dengan menyembah dalam roh dan kebenaran menurut konteks ini, tidak hanya menunjuk pada pola penyembahan yang tidak lagi dibatasi oleh ruang, tempat maupun waktu, juga sama sekali tidak berbicara tentang menyembah dalam karunia Roh Kudus, tetapi menunjuk pada kehidupan rohani yang benar dari para penyembah, yaitu:
      • Yaitu: sikap hati yang murni/jujur, menghormati Tuhan serta berkomitmen kepada Allah. Ini adalah standart bagi mereka yang mau menghampiri Tuhan melalui pujian – penyembahan, doa, serta hubungan pribadi lainnya.
    • Dengan kata lain, pujian penyembahan atau doa – doa yang dipanjatkan secara sembarangan akan berakibat minus hadirat Tuhan/membuat kita tidak mengalami realita kehadiran Tuhan.
      • Tidak perduli dengan air mata yang tertumpah, rasa nyaman dan senang dengan nyanyian, termasuk apa yang kita rasakan saat bernyanyi  (bulu roma berdiri, serasa distrum listrik, dsb).
    • Pujian penyembahan atau doa yang kita panjatkan harus lahir dari hati/roh yang murni, bersih dari dosa, serta tidak mempunyai maksud – maksud yang tersembunyi.

Anak – anak VS orang dewasa (Mat 18;3).

  • Pernahkah saudara memperhatikan dan membandingkan antara seorang anak yang memuji dan menyembah dengan seorang yang dewasa?
    • Seorang anak yang memuji dan menyembah tidak memiliki sesuatu yang lain dalam pikiran mereka. Jika mereka bernyanyi “Kurindu Kau Tuhan…” mereka sungguh – sungguh dengan apa yang mereka katakan, dan dengan penuh kesederhanaan.
    • Sebaliknya, jika seorang dewasa yang menyanyikan lagu itu, pikiran mereka segera sibuk dengan berbagai hal; sibuk dengan gaya bernyanyi, sikap tubuh, penampilan, suara. Mereka kuatir akan apa yang tampak, seperti apa suara mereka terdengar ditelinga orang lain, dst.
  • Kedua kelompok menyanyikan jenis nyanyian yang sama tetapi mempunyai mentalitas yang berbeda, yang satu murni sedangkan yang satunya lagi tercemar dengan berbagai – bagai pemikiran. Itu sebabnya tidak heran kalau yang satu mengalami realita hadirat dan pengurapan yang kuat sedangkan yang lain tidak.
  • Tuhan menginginkan kasih atau pujian seperti yang dipersembahkan oleh seorang anak kepada ayah/ibunya. Ketika mereka mengatakan “aku sayang ayah”, maka hanya sayang-lah yang mereka pikirkan/maksudkan.
    • Beda dengan orang dewasa. Ketika ia mengatakan, “aku mengasihiMu Tuhan”, orang tersebut mempunyai sederet daftar panjang dibenaknya yang ia ingin agar Tuhan jawab. Tentang keluarga, cicilan, kebutuhan, dll.
  • Pada dasarnya, Tuhan tidak ingin kita berpikir tentang apapun atau siapapun ketika kita mengatakan “aku mengasihiMu Tuhan”. Ia tidak mau kita datang kepadaNya hanya karena daftar panjang kebutuhan dan keinginan yang kita inginkan dipenuhi oleh Tuhan.

Tuhan itu kudus

  • Firman Tuhan berkata: Kuduslah kamu sebab Aku ini kudus (1 Pet 1;16). Ungkapan ini sangat sering diperdengarkan oleh Tuhan Allah bagi orang Jahudi (Kel 3;5 ; 19;10,22 ; 29;30. Imm 11;44-45, dll).
  • Perintah menguduskan diri dalam PL selalu berkaitan dengan membersihkan diri dari dosa sebelum datang kedalam hadirat Tuhan. Ini berarti, serangkaian ritual pembasuhan diri dan pakaian mereka termasuk para imam sebelum melayani Tuhan. Tidak boleh makan makanan yang haram, menyentuh apapun yang najis.
  • Alasan mengapa umat Israel harus menguduskan diri sebelum masuk kedalam hadirat Tuhan ialah karena Tuhan adalah kudus, artinya; Ia murni dalam pikiran, motif, dan juga sikap. Itu sebabnya Ia mengharapkan agar umat Tuhan juga kudus.
  • Dengan kata lain, Tuhan tidak ingin kita mengatakan sesuatu kecuali kalau kita bersungguh – sungguh. Ia tidak berkenan kita mengucapkan kata – kata yang benar tetapi melakukan tindakan yang salah.
  • Bd: Penyembahan adalah keintiman. Itu sebabnya Tuhan tidak rela hubungan intim itu dicemari dengan berbagai sampah yang masuk kedalam roh kita. Oleh sebab itu periksalah diri kita ketika kita datang kepada Tuhan. Pastikan bahwa apa yang kita katakan sejalan dengan apa yang kita lakukan. Kalau tidak, kita hanya membuang – buang waktu.
  • Baca Mzm 15;1-5 ; 24;3-6 ; 101;7. Mat 5;8. Mrk 7;14b-23.

Nyanyian dan Penyembahan

  • Ku datang Tuhan dalam hadirat Mu
  • Tuhan hadir di Bait suciNya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *