Pendahuluan
Kita hidup ditengah-tengah dunia yang sedang mengalami ketegangan, kemerosotan dan kegelisahan. Bahkan para ilmuan menyebutkan bahwa era ini adalah era/abad kecemasan, dimana kita diperhadapkan dengan berbagai situasi yang membuat kita terbebani/tertekan, hilang damai sejahtera, marah, dsb.
Dari laporan medis kita mengetahui bahwa hidup dalam tekanan/terus-menerus terbebani oleh berbagai hal merupakan penyebab utama terjadinya kemerosotan kesehatan, khususnya serangan jantung dan hipertensi.
Bd: Sebuah artikel menulis, lebih dari Rp 7,5 M dibelanjakan untuk obat penenang demi menurunkan ketegangan emosi seseorang.
Bd: Isi pembicaraan banyak orang pada umumnya menggambarkan ketegangan atau beban hidup yang terjadi akibat konflik atau perselisihan yang tidak terselesaikan. Baik konflik berkaitan dengan sesame, dengan diri sendiri maupun dengan berbagai urusan/kepentingan lainnya.
Belajar dari Musa
- Pada kesempatan ini kita akan belajar dari seorang tokoh Alkitab terkemuka di PL bernama Musa, yakni seorang tokoh yang dianggap sebagai orang yang Hidup Tanpa Terbebani Oleh Apapun sepanjang hidupnya. Itu sebabnya kisah hidupnya ditulis lebih banyak dari tokoh lainnya, baik PL maupun PB (Ibr 12).
- Alasan mengapa Musa disebut sebagai tokoh terbesar yang pernah hidup tanpa terbebani oleh apapun ialah:
- Sejak dari awal hidup Musa penuh dengan konflik dan luka (Ibr 11;23).
- Sejak dari awal Musa dibesarkan oleh putri Firaun (Kel 2;3-10).
- Panggilan Musa adalah memimpin bangsa Israel menuju Kanaan tapi sepanjang perjalanan bangsa ini memberontak, bersungut-sungut dan bertengkar melawan Musa.
- Musa tidak sampai ke negri perjanjian.
- Jika ada orang yang hidupnya terbebani dengan kekecewaan, luka dan sakit hati, maka Musa adalah orangnya dan ia memang berhak untuk hal tersebut karena alasan-alasan diatas, tetapi Alkitab berkata: Musa adalah orang yang lembut hatinya. Artinya dia tidak membiarkan hidupnya terbebani oleh apapun (Bil 12;3).
- Faktor penguat yang menyebabkan Musa hidup tanpa terbebani oleh apapun, antara lain adalah:
- Musa menerima siapa dirinya sebagaimana adanya (Ibr 12;24-25)
- Hal pertama yang membuat Musa hidup tanpa terbebani oleh apapun adalah karena Musa menerima siapa dirinya sebagaimana adanya. Artinya Musa memahami dan mengerti siapa dirinya. Dia tau bahwa dia bukan orang Mesir melainkan budak orang Mesir-bangsa Israel.
- Sepanjang waktu berlalu, semua orang mengetahui bahwa Musa adalah orang Mesir asli sebab dia dibesarkan oleh putri Firaun. Tetapi ketika ia menjadi dewasa, ia mengetahui kebenaran itu dan menolak dikenal sebagai putri Firaun.
- Bd: Musa telah berusia 40 tahun, bahkan ia telah dipersiapkan untuk menjadi orang nomor 2 dikerajaan itu. Ia memiliki segala kesenangan yang didambakan dan ia bisa saja tetap tinggal di istana walau dengan pertanyaan, siapakah aku ini?
- Belajar dari pengalaman Musa ini maka dapat kita mengerti bahwa menerima dan mengenali siapa diri kita apa adanya adalah kunci hidup tanpa beban. Berusaha menjadi orang yang bukan diri kita adalah cara cepat membuat kita sakit Maag/hidup dalam tekanan yang sangat berat sebab harus berpura-pura.
- Bd: Bagaimana kita akan mengingat Musa saat ini jika seandainya ia tetap tinggal di istana Firaun. Mungkin hanya sebagai salah satu mumi di museum atau tidak di ingat sama sekali.
2. Menerima Tanggungjawab Pribadi (Ibr 11:24-25)
- Hal kedua yang membuat Musa hidup tanpa terbebani oleh apapun adalah dia memutuskan akan menjadi siapa aku dan akan menuju kemana aku? Dia menolak untuk menjadi yang bukan dirinya tapi menerima tanggung jawab atas pribadinya (membuat keputusan setelah dewasa) dan mengikuti jalan Tuhan (11;25).
- Menerima tanggung jawab pribadi adalah kebenaran yang tidak populer dimasyarakat kita sekarang ini. Kita hidup dalam budaya senang menyalahkan orang lain dan tidak melihat adanya sedikitpun tanggung jawab pribadi kita atas kondisi dan keadaan kita. Ini yang disebut senang menyalahkan tapi tidak mau disalahkan.
- Bd: Ada banyak dalam hidup ini yang tidak dapat kita kendalikan; kita tidak bisa menentukan siapa orang tua kita, dimana kita akan dilahirkan, memilih gen yang membentuk diri kita, dll. Namun ada satu yang pasti bisa kita kendalikan yaitu respon terhadap kehidupan. Meresponi dengan cara negative, kritis, iman atau positif.
- Bd: Kita tidak bisa memilih dan mengendalikan situasi yang terjadi dalam hidup tetapi kita dapat memilih apakah situasi tersebut akan menjadikan kita lebih baik atau tetap pahit. Artinya, tidak ada yang dapat menghancurkan diri kita selain diri sendiri, sijahatpun tidak apa lagi Tuhan.



Sign up — your commission is waiting! https://shorturl.fm/bODKa
https://shorturl.fm/bODKa
https://shorturl.fm/PFOiP
Unlock exclusive rewards with every referral—apply to our affiliate program now! https://shorturl.fm/j7tgh
Grow your income stream—apply to our affiliate program today! https://shorturl.fm/FfnSN
https://shorturl.fm/Medpx