PINTU GERBANG MENUJU HADIRAT ALLAH (MZM 100;1-5).

Pendahuluan

  • Kita semua percaya dan mengerti bahwa Allah maha hadir, Dia ada dimana – mana, Dia memenuhi langit dan bumi, memenuhi masa lalu, masa kini serta masa depan pada waktu yang sama. Tidak seorangpun bisa lari menjauh dari hadirat Allah, kemudian  kembali lagi kedalamnya. Hadirat Allah selalu ada dan selalu sama dimana saja dan untuk selama – lamanya  (Mzm 139;7-12).  
  • Alkitab menulis bahwa pada waktu Adam dan Hawa jatuh kedalam dosa, “maka bersembunyilah manusia dan istrinya itu terhadap Tuhan Allah diantara pohon – pohonan dalam taman” (Kej 3;8). Yang dimaksud dengan bersembunyi terhadap Tuhan Allah dalam konteks ini ialah; Sadar diri atau sadar akan dosa sehingga tidak ingin mendekat dengan Allah atau kehilangan gairah untuk bersekutu dengan Allah.
  • Kata Ibrani untuk “hadirat” yang dipergunakan dalam ayat ini ialah “berada dihadapan atau di depan”. Ini adalah level kedekatan tertinggi dalam hubungan, yang menggambarkan sebuah tempat dimana ada keterbukaan, keintiman dan cengkrama yang nyata.
  • Namun manusia jatuh dalam dosa, dan sejak saat itu pula manusia kehilangan hadirat Allah  yang nyata, serta tidak dapat mengalaminya, kecuali hanya beberapa orang, yakni orang – orang tertentu dan pada saat – saat tertentu pula, seperti; Abraham, Ishak, Yakub, Musa, para Imam, hakim dan para Nabi.

Gerbang menuju hadirat Allah yang nyata disingkapkan  

  • Setelah berabad – abad lamanya manusia  hidup tanpa mengalami hadirat Allah yang nyata,   sebagaimana yang dialami oleh Adam dan Hawa ketika di taman Eden. Seorang raja Israel bernama Daud berhasil menemukan pintu gerbang menuju hadirat Allah yang nyata, yang telah dirampas oleh dosa. Akses atau pintu gerbang yang dimaksud ialah: Nyanyian syukur (Mzm 100;4a) dan puji – pujian (Mzm 100;4b).
  • Kata, “nyanyian syukur” atau “pengucapan sykur” yang ditulis dalam ayat ini berasal dari bahasa Ibrani, yaitu: TODAW. Artinya, sekelompok besar orang percaya yang menyembah dengan tangan terangkat. Ini mirip seperti kumpulan jemaat yang beribadah di hari minggu.
  • Sedangkan kata “puji – pujian” yang dimaksud adalah bukan puji – pujian yang sembarang. Kata yang dipergunakan dalam penulisan ini ialah TEHILLAH. Artinya, nyanyian yang berfokus pada Allah. Jenis pujian ini tidak sama dengan pujian musikal, ini merupakan jenis nyanyian yang spesifik atau spontan, nyanyian baru yang tanpa persiapan, dan bersifat begitu pribadi yang keluar langsung dari hati (Mzm 33;3 : 40;3 : 96;1 : 98;1 : 144;9 : 149;1. Why 14;3).      
  • Bd: Atas pengucapan syukur dan puji – pujian seperti inilah  Allah hadir, duduk dan bertahta sebagai Hakim dan Raja, yakni pengucapan syukur dan puji – pujian yang lahir dari hati (Mzm 22;3).
  • Bd: Inilah alasan mengapa Daud disebut sebagai orang yang berkenan di hati Allah, yaitu karena Daud seorang yang senang menyanyikan nyanyian syukur dan puji – pujian yang baru, yang spontan dan yang lahir dari hati (Kis 13;22).
  • Alkitab mencatat bahwa, pola penyembahan yang ditemukan oleh raja Daud ini adalah  pola penyembahan yang berkenan bagi Allah sehingga akan dibangun dan dipulihkan kembali (Kis 15;15-17). Dalam penyembahan Daud ada gairah serta kasih yang meluap – luap (2 Sam 6;12-13), ada tari – tarian (2 Sam 6;14. Mzm 150;4), ada sorak – sorai dan alat musik, dll (Mzm 5;12. 2 Sam 6;15. Mzm 33;2).   

Dimensi hadirat Allah yang nyata

  • Hadirat Allah yang nyata atau yang dimanifestasikan adalah aspek yang tidak biasa dan berbeda dari pernyataan kehadiran Allah secara univesal atau secara pribadi melalui iman pada Firman Allah (Kol 1;27. Mat 28;18-20. 1 Kor 3;16. Kis 17;28). Dimensi dari hadirat Allah yang dimanifestasikan/yang nyata adalah kehadiran Allah yang dapat dilihat dan dirasakan (2 Twr 5;12-14).
  • Meskipun Allah maha hadir namun Dia tidak nyata disetiap tempat, tidak dikenali bahkan sering sekali terlewatkan. Contoh: Yakub dalam perjalanan menuju Haran, dan bermalam disuatu tempat yang kemudian disebut Betel (Kej 28’10-19). Dua orang murid Yesus dalam perjalanan menuju Emaus (Luk 24;13-25). Imam Eli mengira Hana sedang mabuk (1 Sam 1;1-18). Pelayan Elisa ketakutan karena pasukan raja Aram mengepung rumah mereka (2 Raj 6;14-17).
  • Berdasarkan survey yang dilakukan pada penganut ajaran kristen dan jemaat: 2 dari 3 orang dewasa (68%) responden mengaku  bahwa kadang – kadang mereka merasakan seolah – olah mereka berada dalam hadirat Tuhan. Hanya 13 % dari jemaat yang pernah merasakan kehadiran Tuhan sekitar 1-2 kali sepanjang hidup mereka. 32% responden mengaku bahwa mereka sama sekali tidak pernah mengalami hadirat Tuhan. 

3 komentar untuk “PINTU GERBANG MENUJU HADIRAT ALLAH (MZM 100;1-5).”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *