RESEP MENGALAHKAN HAMBATAN – HAMBATAN DALAM MENGALAMI HADIRAT TUHAN (2 Sam 6;1-10).

Pendahuluan

  • Dari pembelajaran Firman Tuhan minggu lalu kita mengetahui bahwa kebutuhan terbesar (utama) umat manusia adalah kehadiran Tuhan bukan yang lain. Hal itu dijelaskan melalui pemberian tempat tinggal kepada manusia pertama yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah yang bernama Adam dan Hawa, yakni taman eden (Kej 2;8).
  • Alkitab menjelaskan bahwa Taman Eden merujuk pada sebuah tempat dimana Allah hadir, taman Allah, taman Kesukaan atau taman Hadirat  (Yeh 28;13. Yes 51;3).  Dengan kata lain, tempat tinggal atau lingkungan yang paling ideal bagi manusia agar ia bisa hidup, bertumbuh, beranak cucu, berkarya dan memerintah adalah Taman Eden, yakni taman dimana Allah hadir dan bersekutu bersama dengan manusia.
  • Menyadari bahwa kebutuhan terbesar manusia adalah hadirat Tuhan dan bukan yang lain,  maka sebagai seorang beriman kita perlu mengerti bagaimana menangani hambatan – hambatan dalam mengalami hadirat Tuhan. Sebab, sejak kejatuhan manusia pertama kedalam dosa maka sejak saat itu manusia terpisah dari hadirat Allah/diusir keluar dari taman eden (Kej 3;23-24).
  • Walau Kristus telah menebus manusia dari dosa namun tidak bisa dipungkiri bahwa masih banyak orang beriman yang hidup jauh dari hadirat Tuhan, tidak mengalami hadirat Allah serta mengerti bagaimana menangani hambatan – hambatan dalam mengalami hadirat Tuhan.

Simbol kehadiran Allah

  • Ayat Alkitab yang kita baca ini memberitahukan kepada kita bagaimana Daud diperhadapkan dengan hambatan – hambatan dalam mengalami kehadiran Allah. Dikisahkan bahwa setelah Daud menjadi raja atas seluruh Israel, maka hal pertama yang dikerjakan oleh Daud adalah memindahkan Tabut Allah dari Kyirbat – Yearim ke Yerusalem yang juga disebut dengan Kota Daud (2 sam 6;1-5).  
  • Tabut Allah adalah peti kayu yang dilapisi emas berisi dua loh batu Sepuluh Perintah Allah, yang menjadi simbol kehadiran dan perjanjian Allah di tengah umat Israel. Peti ini diperintahkan oleh Allah untuk dibuat oleh Musa dan bangsa Israel, dan tempat ini menjadi tanda di mana Allah bertemu dan berbicara dengan umat-Nya atau tanda kehadiran Allah ditengah – tengah umatNya (Kel 37;1-29).
  • Dalam perjalanan menuju Yerusalem, kereta pengusung Tabut Allah itu tergelincir, dan Uza yang berjalan disamping kereta itu menahan tabut tersebut supaya tidak jatuh, namun tindakan itu justru membuat Allah murka dan membunuh Uza. Daud marah dan sangat ketakutan. Ia pun menghentikan proses pemindahan Tabut Allah dan menitipkannya di rumah Obed Edom (2 sam 6;6-10,11).
  • Belajar dari kebenaran ini maka dapat kita mengerti bahwa jika kita tidak hati – hati dan tidak mengerti hukum tentang hadirat Allah maka sesuatu bisa menghalangi atau menghambat kita dalam mengalami kehadiran Tuhan, dan itu merugikan diri kita sendiri, keluarga bahkan kota dimana kita berada (2 sam 6-7,11).
  • Pertanyaanya ialah, apa hambatan atau penghalang dalam mengalami kehadiran Tuhan dalam konteks ini, dan bagaimana resep dalam menanganinya?       
  1. Menangani hadirat Tuhan dengan cara biasa (2 Sam 6;3-7).
  • Ayat Alkitab yang kita baca ini memberitahukan kepada kita penyebab mengapa Daud beserta seluruh rombongannya terhalang membawa tabut perjanjian ke Yerusalem, yakni karena mereka menangani hadirat Allah dengan cara biasa, yakni diangkut oleh kreta, di jaga oleh orang biasa/bukan orang Lewi, dan didahului oleh barisan prosesi sebagaimana yang dilakukan oleh orang pada umumnya ketika mengangkut benda berharga.
  • Hadirat Tuhan  atau kemuliaan Tuhan tidak pernah dimaksud untuk ditangani dengan cara biasa, mekanisme dan program – program manusia. Kemuliaan Tuhan hanya akan dinyatakan di dalam dan melalui bejana – bejana manusia yang memiliki rasa hormat dan menjunjung tinggi kekudusanNya. Jika kita tidak hati – hati, kita bisa mengijinkan hal – hal kudus mejadi terlalu biasa sehingga kita berpikir bahwa kita bisa mengabaikannya.
  • Beberapa penulis menduga bahwa penyebab mengapa rumah Obed Edom diberkati selama ditinggali oleh Hadirat Allah ialah karena tidak seorangpun menyentuh Tabut Allah. Walau tidak dicatat seperti apa mereka memperlakukan Tabut itu, tetapi belajar dari peristiwa Uza, besar kemungkinanan  mereka memiliki rasa hormat yang tinggi atas Tabut Allah itu.
  • Cara kita dalam menangani Tabut Allah mempengaruhi manifestasi kuasa kemuliaan Tuhan atas hidup kita. Ketika Tabut Allah berada di rumah imam Eli namun manifestasi kuasa hadiratNya terbatas. Demikian juga saat masa pemerintahan raja saul, bahkan setelah 20 tahun lamanya berada di rumah Abinadab, kuasa hadirat Tuhan terbatas sebab dianggap sebagai sesuatu yang biasa (bd, 2 Sam 6;12-14. Mzm 134;1-3. Lih, Mrk 6;1-5).

2.  Hidup sembrono (2 Sam 6;6-8).   

  • Peristiwa kematian Uza yang terjadi dalam sekejap, tepatnya saat prosesi pengangkutan Tabut Perjanjian berlangsung, mengajarkan kepada kita bahwa: hubungan yang intim antara Tuhan dan umatNya tidak dapat terbangun jika cara hidup kita masih berbau duniawi, sembrono, teledor serta kedagingan.
  • Tuhan tidak dapat mengunjungi daging yang masih hidup karena itu masih berbau duniawi. Dia hanya dapat mengunjungi daging yang mati; hidup dalam pertobatan, remuk/rendah hati. Daud membutuhkan waktu 3 bulan untuk pulih dan bertobat kembali barulah kemudian ia mengalami Hadirat Allah (2 Sam 6;11-14).
  • Mengapa Tuhan menginginkan kematian daging/hidup dalam pertobatan? Ada sesuatu yang menyengat dari balik bulu dan kulit binatang kurban yang dibakar sehingga itu menarik perhatian Tuhan dan sekaligus mengundang Tuhan mengunjungi dimana kurban sedang dibakar. Bau semacam itu tidak menggugah indera – indra manusia tetapi sangat menggugah Tuhan, sebab merupakan tanda bahwa Ia dapat lebih mendekat lagi.
  • Setiap kebaktian seharusnya diatur untuk menyenangkan hati Tuhan bukan untuk menyenangkan hati manusia. Banyak pria dan wanita kristen menginginkan “hidup” atau kesenangan dalam pertemuan kebaktian sementara Tuhan mencari “kematian”, melalui pertobatan dan keremukan hati. Kematian dan pertobatan di bumi membawa suka cita di sorga (Luk 15;10).

2 komentar untuk “RESEP MENGALAHKAN HAMBATAN – HAMBATAN DALAM MENGALAMI HADIRAT TUHAN (2 Sam 6;1-10).”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *