Pendahuluan
- Jika kita menyelidiki kitab suci kita mulai dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, maka akan tampak jelas bagi kita bahwa Kekristenan tidak hanya berbicara mengenai dimensi spiritual-individual tapi juga dimensi social yang mencakup hubungan finansial, usaha/pekerjaan, potensi, dll.
- Secara teologis dunia usaha (pekerjaan-bisnis) merupakan area potensial yang berhubungan langsung dengan kehendak Tuhan serta memiliki landasan yang kuat dalam Alkitab (Lih Mat 7;7. Kej 2;15. Kis 18;3. Kej 13, 14, 19, 21. 1 Raj ,9. Kis 16;14-15,40).
- Oleh sebab itu gereja tidak boleh berhenti mendorong jemaat mengembangkan potensi, kreativitas dan inovasinya dalam berkarya. Sehingga gereja tidak lagi berada pada posisi sebagai penerima berkat tetapi menjadi berkat, tidak lagi hanya mencari solusi/berdoa tapi menjadi solusi/jawaban doa, tidak hanya berbicara mengenai tantangan/kemiskinan tapi keberuntungan dan keberhasilan.
Tantangan dan peluang
- Memang tidak dapat dipungkiri bahwa ber-usaha itu memiliki tantangan, tuntutan serta persoalannya tersendiri, terlebih lagi di era digitalisasi yang serba terbuka saat ini, yaitu; transformasi digital, kecepatan, sumber daya manusia, masyarakat yang senantiasa berubah, persaingan tinggi, zero surveillance, dll.
- Ditambah lagi dengan keadaan ekonomi dunia yang diperkirakan akan “gelap” pada tahun depan karena berbagai factor; Pandemi Covid 19, perang Rusia – Ukraina, bencana alam/iklim di semua dunia, dsb, sebagaimana yang dikumandangkan oleh para ahli ekonomi, para pimpinan negara maju/presiden, Menteri keuangan, dll.
- Walau demikian beratnya tuntutan dan tantangan dalam dunia usaha namun sebagai orang percaya kita tidak perlu kuatir akan hal tersebut sebab Alkitab menjamin bahwa Allah dapat mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa melalui tangan kita (Kis 19;11).
Pertanyannya adalah apa kunci dalam mengalami mujizat di dunia usaha yang sedang dan akan kita bangun? Sehingga sehebat apapun nantinya goncangan yang akan terjadi usaha kita tetap eksis dan berbuah manis. Berikut penjelasannya:
- Menyatukan pikiran kita dengan pikiran Allah (Hab 2;1-2).
- Langkah pertama dan utama dalam hal membangun/memulai usaha berdasarkan penjelasan kitab suci kita ini adalah harus menerima/mendengar langsung dari Allah tentang usaha apa yang akan dibangun (Hab 2;1).
- Setelah menerima dan mendengar langsung dari Allah, maka langkah kedua adalah, mengerti bagaimana membangun/mengerjakannya. Ini berbicara mengenai perencanaan serta strategi pengerjaan (Hab 2;2).
- Mengapa harus mendengar dan mengerti? Karena setiap usaha/pekerjaan mengandung maksud serta tujuan Allah didalamnya. Oleh sebab itu perlu berdoa/meminta hikmat Tuhan tentang apa yang akan dikerjakan dan bagaimana mengerjakannya sehingga dengan demikian maksud/tujuan Tuhan tercapai.
- Persoalan yang sering sekali terjadi saat kita hendak memulai usaha/pekerjaan, atau saat kita ingin mengembangkan/meningkatkan pencapaian usaha adalah pikiran. Pikiran kita selalu menjadi penghalang yang pertama yang membatasi kemampuan Allah dalam melepaskan transformasi dan mujizatNya di usaha kita.
- Jika kita bersedia mengubah pikiran kita dalam merespons hal yang kita dengar dari Allah maka halangannya akan lenyap dan Dia dapat melakukan hal yang luar biasa melalui kita.
- Bd: Kol 3;2 mengingatkan, kita tidak perlu mencoba mencari tau cara mencapai tujuan Allah dengan ukuran manusia. Kita hanya perlu menyatukan pikiran kita dengan FirmanNya.
- Bd: Nasehat raja Daud pada Salomo (1 Twr 28;19 ; 28;20).
- Bd: Kunci bagaimana Maria mengalami Mujizat (Luk 1;38).
Tujuan Allah dalam dunia usaha
- Rasul Paulus menuliskan bahwa hanya ada satu tujuan utama yang sangat menonjol dari pemberian bisnis-usaha-pekerjaan bagi orang percaya yakni agar melalui usaha dan pekerjaan tersebut Tuhan dimuliakan. Artinya, setiap usaha dan pekerjaan, yang diberikan harus digunakan untuk melayani Allah (Kol 3:23).
- Larry Burkett seorang hamba Tuhan dan pakar ekonomi dari Amerika Serikat (1939-2003) menyebutkan lima kriteria usaha yang memuliakan Tuhan, yaitu:
- Bisnis yang dipergunakan sebagai alat penginjilan bagi perluasan pekerjaan Tuhan.
- Melatih dan memuridkan orang-orang Kristen untuk tumbuh semakin kuat dalam iman melalui kegiatan bisnis (2 Timotius 2:2);
- Memberi dana bagi pekerjaan Tuhan (1 Timotius 3:15);
- Memenuhi kebutuhan pemilik, karyawan, pelanggan, dan orang miskin.
- Mendapatkan keuntungan melalui perencanaan dan manajemen yang baik dengan melibatkan Tuhan (Amsal 16:9; Amsal 13:4).
2. Percaya bahwa Allah melakukan mujizat melalui kita.
- Setelah menyatukan pikiran kita dengan pikiran Allah maka kunci kedua untuk mengalami mujizat di dunia usaha adalah percaya bahwa Allah akan melakukan mujizat di dunia usaha kita melalui tangan kita (Kis 19;11).
- Dalam kitab Kisah Para Rasul ini, tabib Lukas mengatakan bahwa: Oleh Paulus Allah mengadakan mujizat – mujizat yang luar biasa… perhatikan kalimatnya berbunyi; Allah mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa. Dengan kata lain, Allah-lah yang melakukan mujizat yang luar biasa itu, tetapi Dia melakukannya melalui Paulus.
- Bd: Kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa kita bisa menjadi alat yang dipakai Allah untuk melakukan hal-hal luar biasa dan yang kelihatannya mustahil. Kita sering membatasi Allah dengan berpusat pada apa yang bisa/tidak bisa kita lakukan dengan diri kita sendiri. Kita menyisihkan kuasa Allah dari situasi tersebut.
- Jika kita bersedia taat dan mengambil tuntunan yang pertama, kemudian bergantung pada kuasaNya yang luar biasa, bertobat dari segala kecemasan, ketakutan dan kekuatiran, maka Dia dapat melontarkan kita maju untuk mencapai hal-hal yang sebelumnya mustahil bagi kita (bd, Ef 3;20).
- Bd: Daud VS Goliath. Semua orang Israel percaya bahwa Allah dapat membunuh Goliath tetapi hanya Daud satu-satunya yang percaya bahwa Allah dapat memakainya untuk membunuh Goliath (I Sam 17. Kel 34;10).
3. Menunggu Kasih Karunia Allah yang sedang bekerja (Hab 2;3).
- Kunci ketiga untuk mengalami mujizat di dunia usaha adalah menunggu sementara kasih karunia Allah sedang bekerja, yakni bekerja membawa kita bergerak dari tempat dimana kita berada menuju tempat dimana Allah menginginkan kita berada.
- Nabi Zakharia berpesan: Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan Roh-Ku, Firman Tuhan (Zak 4;6-7). Artinya, jika kita dipimpin oleh Roh Kudus maka kasih karuniaNya cukup untuk semua yang kita perlukan, dan akan menjadi sumber bagi terjadinya mujizat luar biasa di dunia usaha kita.
- Sering sekali dalam kehidupan sehari-hari kita, terutama dalam karir atau dunia usaha, kita mudah jatuh kedalam keputusasaan, kita tidak dapat melihat bahwa Allah bisa menggunakan usaha kita/kehidupan professional kita untuk mencapai hal-hal besar. Kita merasa bahwa kita kurang beruntung/berada diposisi yang salah, dsb.
- Janji Allah ialah bahwa Dia dapat membawa perubahan dalam dunia usha kita yang kecil menjadi lebih besar bahkan lebih besar lagi hingga hujan akan turun. Ia rindu membebaskan kita dari kekeringan dan kelaparan yang merusak dunia bisnis dan membawa kita tiba lebih dahulu dari para pesaing kita (I Raj 18;44-46)
- Bd: Ulangan 28;1-13.



https://shorturl.fm/oYjg5
https://shorturl.fm/5JO3e
https://shorturl.fm/LdPUr
Join our affiliate program and watch your earnings skyrocket—sign up now! https://shorturl.fm/j9r3F
Refer customers, collect commissions—join our affiliate program! https://shorturl.fm/eeaxD
Apply now and receive dedicated support for affiliates! https://shorturl.fm/Xtb2n
https://shorturl.fm/khNPh
https://shorturl.fm/6N6eJ
https://shorturl.fm/kY0KR
https://shorturl.fm/MQvnK
https://shorturl.fm/3eqyn