GIGIT JARI (KIS 1;6-11).

Cover

GIGIT JARI (KIS 1;6-11).

Pendahuluan

  • Perhatikan bunyi kalimat yang dicatat dalam ay;10 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Ketika mereka sedang menatap ke langit waktu naik itu, tiba – tiba berdirilah dua orang yang berpakaian putih dekat mereka. 
  • Terjemahan Bahasa Inggris versi The Mesagge Bible, berkata: They stood there staring into the empty sky. Artinya, mereka berdiri disana menatap ke langit yang kosong.  
  • Saya yakin bahwa kata, “Staring into the empty sky – menatap ke langit yang kosong” adalah pilihan kata yang paling bagus untuk mengekspresikan/menggambarkan apa yang ada dalam pikiran dan perasaan para murid saat peristiwa kenaikan Yesus ke Sorga terjadi.  Yakni seperti orang yang melihat kearah yang kosong atau gigit jari karena pada akhirnya Yesus pergi dan hilang dibalik awan.
  • Alasan mengapa keadaan para murid digambarkan seperti orang yang sedang gigit jari pada kala itu adalah, karena permintaan para murid tidak dikabulkan (Kis 1;6).
  • Bd: Sepanjang perjalanan menuju Bukit Zaitun, para murid meminta agar Yesus segera mendeklarasikan sebuah kerajaan baru di Israel dan membebaskan bangsa itu dari penindasan Roma, tetapi Yesus malah pergi dan menghilang dibalik awan.

Berhadapan dengan pengalaman gigit jari

  • Saya yakin bahwa, setiap orang termasuk orang yang sungguh – sungguh beriman, dapat berhadapan dengan pengalaman staring into the empty sky alias pengalaman gigit jari seperti para rasul. Mungkin karena keinginan yang tidak terkabul, Kesehatan yang tidak membaik, keuangan, pekerjaan, relasi, dll.
  • Ketika berhadapan dengan situasi tersebut, mungkin kita menatap ke atas; arah tatapannya benar, tapi isi tatapannya menjadi masalah. Yaitu kosong – pikiran kosong – hati kosong – dan diperlukan kehadiran malaikat untuk menyadarkan.
  • Bd: Kesan dari kalimat berikut ini seolah seperti lelucon namun sesungguhnya benar adanya. Ada tiga hal yang tidak disukai oleh manusia, yaitu perut kosong, omong kosong dan dompet kosong.     
  • Pertanyaannya adalah, apa yang harus kita perbuat supaya kelak kita tidak  diperhadapkan dengan pengalaman “langit kosong” atau pengalaman “gigit jari”? seperti yang dialami oleh para murid?  Berikut adalah penjelasannya.  
  1. Ikut Tuhan dengan hati yang murni  (Mrk 9;33-37).
  • Ayat Alkitab yang kita baca ini memberitahukan bahwa, sementara  dalam perjalanan menuju Kapernaum, para murid sibuk memperbincangkan soal siapa yang terbesar di Kerajaan Allah nanti. Yang seorang berkata, “saya lebih layak, yang lain berkata saya yang lebih pantas, demikian seterusnya, bahkan mereka nyaris bertengkar.    
  • Firman Tuhan memberitahukan bahwa, setibanya ditujuan,  Yesus segera bertanya, “apa yang kamu perbincangkan tadi?”  Yesus tidak sedang kepo – penasaran/mau ikut campur, ketika bertanya mengenai apa yang mereka perbincangkan ditengah jalan. Tapi ingin mengajarkan bahwa Dia memperhatikan/peduli pada isi perbincangan (lih, 9;34-35, 36-37. Bd, Mal 4;16).   
  • Belajar dari peristiwa ini maka dapatlah kita mengerti bahwa awalnya ke – 12 murid ini mengikut Tuhan dengan hati yang tidak tulus tapi ada motivasi dan kepentingan pribadi.
  • BD: Yudas mencari uang, Yakobus kekuasaan, dan yang lain cari aman.
  • Akibatnya, para murid mengalami langit kosong atau gigit jari (Kis 1;10).
  • Bd: Banyak umat Tuhan yang seperti itu, awalnya tulus – hatinya murni dan sangat  serius tapi setelah mulai berkembang, fokusnya berubah; kegiatan, kenyamanan, dll. Tetapi Allah mengurusi hati. Dia peduli pada hati bukan kegiatan (lih, Rom 12;2).  

2. Ikuti aturan main Kerajaan-Nya (Luk 17;7-10).

  • Selama beberapa tahun tinggal bersama dengan para muridNya, Yesus tidak pernah berhenti mengajar mereka tentang rahasia Kerajaan Allah dan kebenaranNya, demikian juga dengan aturan main bagai warga KerajaanNya.  Semua diajarkan dan disampaikan secara terang benderang.
  • Ayat Alkitab yang kita baca ini berisi tentang salah satu dari aturan main bagi warga Kerajaan Allah yakni; jangan menuntut imbalan, jangan merasa berjasa dan jangan merasa penting (Luk 17;10). Artinya, jikalau orang tidak berterima kasih, tidak menghargai/tidak memberi imbalan, itu alkitabiah, memang begitu aturan mainNya.
  • Yang diperlihatkan para murid sebaliknya;  mereka menuntut imbalan – jasa – penghargaan – dll. Itu sebabnya mereka diberi pengalaman langit kosong (gigit jari)  sebagai bentuk proses.
  • Baca: Mat 19;27. Ul 9;4-6. 1 Kor 4;6-7.

Nyanyian penyembahan:

  • Ku ada sebab anugerahMu
  • Lawatlah Tuhan, kami rindukan kemuliaanMu datanglah.   

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *