Pendahuluan
- Perhatikan bunyi kalimat yang dicatat dibagian awal ay;18 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa.
- Kalimat, “namun Abraham berharap dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa” menjelaskan bagaimana Abraham begitu berani mempercayai janji Allah yang disampaikan kepadaNya, yakni janji yang berkata: Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu (ay;18b).
- Jika memperhatikan usia serta kondisi fisik Abraham dan Sarah saat Firman Tuhan ini datang, adalah normal/cukup bisa dipahami jika seandainya ia gagal untuk mempercayai janji tersebut.Bahkan bisa dipastikan bahwa tidak akan ada yang memperbincangkan mereka kelak, namun demikian Abraham percaya penuh (4;20).
- Bd: Usia Abraham dan istrinya saat Firman Tuhan ini datang telah mendekati umur 100 tahun. Bahkan Abraham mengetahui kalau tubuh mereka sudah sangat lemah, dan rahim Sara pun telah tertutup (4;19).
- Belajar dari kebenaran ini maka dapat kita mengerti bahwa: Abraham adalah tipe orang yang berani dan percaya penuh; Bahkan, Abraham tidak hanya berani mempercayai janji Allah tapi juga berani mempercayai dirinya sendiri. Ia percaya bahwa ia memang terpanggil untuk melakukan itu (menjadi bapa banyak bangsa).
Kunci mengalami berkat tanpa batas
- Berani dan percaya adalah kunci untuk masuk pada musim berkat tanpa batas. Sejarah telah menjadi saksi bagaimana keberanian dan percaya berhasil menghantarkan banyak orang dalam mencapai puncak kesuksesan diberbagai bidang; baik karir, usaha dan ajang pencarian bakat atau talenta, dll.
- Terlepas dari kenyataan apakah orang – orang disekitar kita menenatang atau mendukung, kita pernah gagal saat mencoba, hanya mereka yang berani dan percaya bahwa mereka memang terpanggil untuk sesuatu yang besar-lah yang akan berhasil mencapai puncak dan mampu menangani berbagai kesulitan, gangguan/godaan.
- Bd: Terlalu banyak orang Kristen menyerah pada keadaan biasa – biasa saja, memiliki keberanian dan kepercayaan yang mudah tergoyahkan serta tidak percaya pada diri sendiri. Padahal jauh didalam diri mereka, ada berbagai potensi untuk menjadikan mereka besar, keluar dari berbagai keterbatasan/tekanan hidup.
4 cara dalam memandang diri sendiri
- Melalui cara pandang orang lain: kita melihat atau mendefinisikan diri kita sebagaimana orang lain melihat. Ini bisa baik atau buruk, tergantung lingkungan yang ada disekitar kita.
- Melalui cara pandang diri sendiri: ini bisa positif atau negatif, tergantung pada bagaimana pandangan dan penerimaan kita terhadap diri kita sendiri.
- Melalui cara pandang iblis: sudut pandang ini membuat kita melihat kehidupan sebagai sesuatu yang buruk, negatif, jahat, kejam, dst. Akibatnya kita tidak mau bergerak maju, tidak bergairah, bahkan menyerah sebelum berkarya.
- Melalui cara pandang Tuhan: cara yang benar dan recommended dalam melihat dan menerima diri kita adalah melihat/menerima sebagaimana Tuhan melihat dan menerima kita. Bd: Dimata Tuhan, kita adalah pribadi yang lengkap, sempurna, Ajaib dan luar biasa (Mzm 139;14). Bd: Saat Janji beroleh keturunan datang kepada Abraham, ia segera melihat dirinya sebagaimana Allah melihatnya, yakni tidak ada yang mustahil bagi Allah (Kej 18;14).
Sikap rasul Paulus
- Penulis kitab Kisah para rasul bernama dr. Lukas, melaporkan bagimana sikap berani dan percaya yang dimiliki oleh rasul Paulus dalam menghadapi sengsara dan penjara, yakni ia tidak menghiraukan nyawanya sedikitpun. Hal ini disampaikannya kepada para penatua (pimpinan jemaat) di Efesus (Kis 20;23-24).
- Demikianlah sikap kita seharusnya, yakni berani dan percaya. walau keadaan tampak mustahil, orang mengatakan sesuatu yang tidak akan pernah terjadi, berpikiran negatif atau mengkerdilkan hati; kita seharusnya berkata, itu tidak akan mengubah kepercayaanku, aku tidak terpengaruh oleh apa yang aku lihat tapi oleh apa yang aku tau dari Firman.
- Bd: Yusuf tidak pernah kehilangan kepercayaan pada dirinya sendiri, mimpinya atau kemampuan unik yang Tuhan berikan kepadanya untuk menafsirkan mimpi orang lain. Akhirnya, melalui ketekunan yang bertahan, mimpi Yusuf menjadi kenyataan, saudara – saudaranya datang ke Mesir membungkuk dihadapannya.
Nyanyian Penyembahan
- Sungguh besar setiaMu
- Tiada yang seperti Engkau begitu mengasihiku


