KEBUTUHAN-KEBUTUHAN PRIBADI YANG MENDASAR
Ayat Hafalan: Markus 12:29-31: Filipi 4:19
Jika kita mampu berfungsi dengan cara yang bertanggung jawab dalam lingkungan keseharian dan hubungan kita, kita harus tahu beberapa kebutuhan tertentu yang ditemui dalam hidup kita. Jauh di atas kebutuhankebutuhan dasar kita akan makanan dan tempat tinggal, ada kebutuhan yang sulit dimengerti tanpa kita penuhi seluruhnya sebagai manusia. Kebutuhan-kebutuhan “pribadi” ini adalah keintiman dengan Allah, persekutuan dengan orang-orang lain, dan harga diri. Cara lain untuk mendeskripsikan kebutuhan-kebutuhan pribadi kita adalah kita harus memiliki kasih dan penerimaan yang tidak bersyarat, suatu perasaan bahwa diri diperhatikan dan sebuah gaya hidup yang membawa pengaruh bagi orang lain dengan efek yang baik dan kekal. Harga diri kita ditumbuhkembangkan sehingga emosi-emosi dan kualitas-kualitasnya memberi arti pada hidup kita.
Cara lain yang masih ada untuk mendeskripsikan dasar ini adalah bahwa kita membutuhkan perasaan memiliki, suatu jaminan bahwa kita dianggap berharga oleh orang lain yang penting bagi kita, dan suatu perasaan bahwa kita berguna dan kompeten. Ketika saya percaya bahwa seseorang yang penting bagi saya mengingini dan menerima saya, maka saya dapat memandang diri saya sendiri “baik’, disetujui, cakap, dan cukup puas untuk menghadapi hidup sehari-hari, dan sedikit banyak dapat memuaskan orang tersebut.
Dr. Lawrence Crabb, Jr., mengatakan bahwa setiap individu pasti memiliki cara yang sah untuk menghormati dirinya sendiri sebagai seorang manusia yang berharga. Hal ini akan tepat pada tempatnya dan berfungsi dengan benar ketika dua kebutuhan dasar dipenuhi: kebutuhan akan rasa aman (security) dan kebutuhan untuk merasa diri bermakna atau penting (significance). Sepanjang zaman, para wanita membutuhkan lebih banyak rasa aman daripada rasa bermakna dan bahwa para pria telah menekankan “signifikansi.” Beberapa orang akan membantah generalisasi ini, tetapi mungkin ini menjadi satu alasan bahwa Allah menginstruksikan para suami untuk mencintai istri mereka dan para istri tunduk pada suami mereka. “Cinta” memberi kontribusi secara signifikan pada perasaan aman seseorang dan rasa hormat atau “kepatuhan” memberi kontribusi pada perasaan penting seseorang. Keamanan meliputi kemampuan menghargai diri kita sendiri sebagai individu-individu yang dicintai, diterima, dan diperhatikan. Rasa bermakna atau penting meliputi kemampuan untuk menghargai diri kita sendiri sebagai individu-individu yang penting dan bernilai bagi orangorang lain di dalam mempengaruhi hidup mereka untuk kebaikan.
Dua kebutuhan dasar ini dipenuhi Adam dan Hawa melalui kapasitas mereka untuk menikmati persekutuan dengan Pencipta mereka di Taman Eden. Ketika mereka berdosa terhadap Allah, bagaimanapun, persekutuan mereka dengan-Nya menjadi rusak. Di antara konsekuensi-konsekuensi lain dari kejatuhan ini adalah kekacauan kapasitas mereka—dan kita—untuk menikmati rasa aman dan bermakna di dalam hubungan dengan Allah.
Setiap orang di antara kita datang ke dunia ini dengan suatu kekosongan di dalam jiwanya. Sejak masa anak-anak, kita berusaha untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang belum terpenuhi melalui orang tua kita, saudara-saudara kandung kita, teman-teman sebaya di sekolah, guru-guru dan figur-figur berotoritas lainnya. Saat dewasa kita merasakan penegasan khusus dari pasangan pernikahan kita yang penuh kasih, tetapi pencarian itu tetap berlangsung sepanjang hidup. Pada derajat tertentu kita menemukan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi kita di dalam relasi kita dengan orang-orang tertentu, dan tidak ada yang salah dengan itu. Bagaimanapun, cepat atau lambat kita menemukan bahwa mereka, juga, adalah manusia: cinta dan penerimaan mereka bersyarat. Karena kepedulian mereka pada kita terbatas, kita kadang-kadang merasa tidak aman dan tidak bermakna.
Lalu bagaimana kebutuhan kita akan rasa aman dan bermakna dapat bertemu? Kita belajar dari Firman Allah bahwa Allah menciptakan manusia untuk diri-Nya sendiri. Karena Dia mencari persekutuan kita dan mengasihi kita, Dia telah menyediakan sebuah cara untuk rekonsiliasi kita. Ketika kita mempercayai Kristus sebagai Juruselamat kita, kita dipersatukan kembali ke dalam persekutuan dengan Allah yang bahkan lebih dekat daripada yang dulu dinikmati oleh orang tua duniawi kita, Adam dan Hawa. Saat kita mengenal Kristus, Allah melihat kita dan menerima kita tanpa syarat di dalam nama Kristus. Kita sejak saat ini dicintai, diterima, dan diperhatikan oleh yang paling penting di seluruh alam semesta—Allah, pencipta kita dan Bapa yang penuh kasih.
Hidup kita kemudian menjalani suatu kepentingan yang baru, berhubungan dengan orang-orang lain dengan kasih-Nya di dalam cara yang sedemikian rupa sehingga pengaruh dari tindakan kita itu bersifat kekal untuk selamanya. Kebutuhan-kebutuhan pribadi kita dipenuhi Allah melalui hubungan kita dengan Anak-Nya, Tuhan Yesus Kristus, dengan maksud apapun yang Dia pilih untuk digunakan. Bahkan saat kita merasa ditolak atau tidak mampu secara manusia, kita dapat melatih iman kita untuk percaya kebenaran kekal bahwa kita aman dan bermakna di dalam Kristus. Dengan demikian kita dapat terus berfungsi di dalam suatu tanggung jawab, cara yang penuh kasih, dan kita dapat melepaskan orang-orang lain dari pengharapan bahwa mereka harus menjadi sumber utama pemenuhan kebutuhan-kebutuhan pribadi kita. Allah akan menyediakan semua keperluan kita (Flp. 4:19)—di dalam Kristus kita telah dipenuhi (Kol. 2:10).
Ayat-ayat untuk Dipelajari
- Markus 12:29-31. Tanggung jawab-tanggung jawab yang dikutip dalam ayat-ayat ini merupakan tiga dimensi. Dapatkah Anda mendaftarkan tiga objek kasih? (Dua dinyatakan dengan jelas, yang satu secara implisit.)
- Yohanes 17:23. Di sini Tuhan Yesus berdoa bahwa dunia suatu hari akan mengetahui betapa Allah Bapa begitu mengasihi semua orang percaya. Dengan cara apakah Anda melihat betapa Bapa di Surga mengasihi Anda?
- Efesus 1:18. Siapa yang menyusun warisan Allah? Apakah ini berarti kita dianggap bemilai untuk Allah?
- Filipi 4:19. Siapa sumber tertinggi pemenuhan kebutuhan-kebutuhan kita?
- Efesus 2:10. Bagaimana ayat ini menunjukkan bahwa Allah memiliki sebuah tujuan penting bagi hidup Anda?
- Matius 6:25-34. Emosi apa yang Tuhan tidak mau kita rasakan, dalam pengertian kebaikan-Nya yang penuh kasih dan kepedulian pada hidup kita? Apakah strategi untuk hidup keseharian yang disebut dalam ayat 33-34?
Proyek Pribadi
Telitilah ayat-ayat berikut ini. Tentukan apa yang ayat-ayat itu katakan tentang makna Anda sebagai seorang manusia. Kemudian daftarkan atau tuliskan aplikasi atau pemahaman yang Anda dapatkan dari meneliti ayat-ayat ini.
| Bagian Alkitab | Arti | Aplikasi Pribadi |
| Matius 6:26-39 | ||
| Roma 12:3 | ||
| 1 Korintus 12:12-2 | ||
| Efesus 2:10 | ||
| Mazmur 139:13-16 |


