DITAKDIRKAN UNTUK BERBEDA (I PET 2:9)

Pendahuluan

  • Minggu pertama yang lalu kita telah belajar dari kitab I Tes 5;1-11. Ayat bacaan ini ini mengajarkan kita untuk tetap berkomitmen pada panggilan kita sebagai orang beriman, yaitu memberi nilai tambah bagi sesama, walau ditengah masa – masa sukar sekalipun.
  • Itu sebabnya kalimatnya berkata: Karena itu nasehatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan. Arti sederhana dari kata “nasihatilah”  dan “Saling membangunlah” adalah:  doronglah, desaklah, yakinkanlah, semangatilah seseorang untuk maju.  
  • Yang dimaksud dengan Memberi Nilai Tambah (adding value) secara umum ialah: Menjadikan atau meningkatkan kualitas seseorang sehingga menjadi lebih baik, lebih berbeda, lebih unggul, lebih menonjol, lebih beruntung dari yang lain/sebelumnya.
  • Memberi Nilai Tambah merujuk pada seberapa besar kontribusi kita terhadap pertumbuhan, kemajuan, pencapaian serta keberuntungan seseorang dalam  meningkatkan nilai atau pengaruh atau pendapatan seseorang. 

Cara menjalani kehidupan yang memberi nilai tambah

  • Pada minggu kedua semalam kita belajar dari kitab Ester 2;15-18. Perikop ini menolong kita semua untuk mengerti bagaimana cara menjalani kehidupan yang memberi nilai tambah bagi sesama.
  • Adapun beberapa cara yang dijelaskan dalam perikop tersebut, antara lain adalah:
    1. Menjadi “suara kemenangan” bagi seseorang (Est 2;15).
    2. Melihat melampaui hal yang mustahil (Est 2;7).

Mengapa meberi nilai tambah?

  • Pada hari ini, yakni minggu ketiga dan keempat nanti saya akan menjelaskan kepada kita sekalian alasan mengapa orang beriman dipanggil untuk memberi nilai tambah bagi sesama. Adapun beberapa alasan yang bisa disampaikan, antara lain adalah:
  1. Kita ditakdirkan untuk berbeda (I Pet 2;9).
    • Perhatikan kalimat yang berbunyi: Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri.
    • Kata, “kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri”  adalah menunjuk pada:  Bagaimana orang percaya telah di tetapkan/ ditakdirkan/ ditentukan untuk menjadi berbeda (lebih baik, lebih menonjol) dari kebanyakan orang pada umumnya.
    • Kita dipanggil untuk berbeda dalam hal bertindak, berbicara, bekerja bahkan juga dalam gaya hidup. Yaitu: Tidak meniru perilaku serta kebiasaan yang diajarkan oleh dunia ini,  sebaliknya, memiliki sifat yang baru serta pemikiran – pemikiran yang segar. Itulah sebabnya mengapa kalimatnya berbunyi: Supaya kamu… (2;9b).
    • Dengan kata lain ayat Alkitab ini mau memberitahukan bahwa: Walau kita  tinggal di dalam dunia, tetapi kita bukanlah dari dunia. Kita ditakdirkan/ ditentukan/ ditetapkan untuk sebuah tempat yang lain, yaitu tempat yang jauh berbeda dengan dunia dan segala sistemnya ini.   
      • Itulah sebabnya mengapa kita harus berbeda dalam hal bertindak, bekerja dan berbicara, karena hal tersebut mencerminkan tempat asal dan tujuan hidup kita.

Berbahagia karena berbeda dari yang lain

  • Salah satu pujian terbesar yang bisa membuat kita sedikit bahagia/ bangga, atau yang bisa kita berikan kepada seseorang sehingga ia sedikit bahagia adalah 2 kata, “kamu berbeda”. Ini menjelaskan bahwa, seharusnya kita senang ketika kita berbeda dari yang lain bukan ketika kita sama atau membaur dengan yang lain.   
  • Jika tidak ada sesuatu yang unik atau yang berbeda dalam hidup kita, jika kita tidak menonjol dalam suatu kelompok, seharusnya kita mengevaluasi kembali diri kita.  Mengapa kita tidak berbeda? Karena itu, perlu memperhatikan pemikiran, percakapan, dan Tindakan – tindakan kita.
  • Bd: Tulisan rasul Paulus kepada jemaat di kota Roma (Rom 12;2).  

Belajar dari Musa

  • Musa adalah teladan dalam hal menjadi berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Roh Kudus sendiri yang mengarahkan Musa untuk mencatat dalam FirmanNya yang kekal tentang kerendahan hatinya yang sangat menonjol (Bil 12;3).
  • Hanya Tuhan yang tau berapa puluh juta orang yang hidup pada saat itu, dan Musa adalah yang paling lembut hatinya dari antara mereka semua. Bukankah itu menakjubkan?
  • Mengapa Musa disebut  sebagai orang yang paling menonjol dalam hal kerendahan hati?  Karena Musa memohon ampun untuk kedua orang kakaknya yang mengatainya (Bil 12;13. Bd, ay;1-2).
  • Ini menerangkan bahwa Musa adalah orang yang bersedia berurusan dengan ke “aku’ -annya. Musa mengerti bahwa ketika orang mengatai dia, mereka sedang dalam masalah besar karena berurusan dengan Allah. Itu sebabnya ia berdoa buat mereka.
  • Bd: Ketenangan – dapat menahan diri – adalah salah satu kualifikasi untuk para hamba – hamba Tuhan (I Tim 3;1-2).

Lakukan penyekatan diri

  • Melalui kitab Amsal, raja Salomo memberitahu kita supaya setiap kita melakukan penyekatan diri terhadap orang – orang yang negative dan ide – ide negative. Sebaliknya, kita dihimbau untuk terbuka terhadap orang – orang berhikmat, nasehat bijak serta sahabat – sahabat yang mengeluarkan yang terbaik dari kita (Lih, Ams 13;20).
  • Saya telah menemukan bahwa: Lebih baik bekerja dengan satu orang yang cerdas dari pada sepuluh orang tetapi rata – rata. Lebih baik sendirian daripada berada dalam kumpulan orang yang salah. Satu hari percakapan dengan orang benar jauh lebih berharga daripada bertahun – tahun dengan para pakar/ pemikir negative.
  • Salah satu cara untuk bisa menjadi berbeda dari kebanyakan orang adalah dengan berdiri tegak mengatasi kerumunan yang ada, melakukan hal – hal benar secara teratur dan dengan antusias yang besar.
    • Tuhan melakukan hal – hal terbaiknya melalui seseorang bukan karena dia didukung oleh orang banyak melainkan karena orang tersebut benar, bahkan ketika orang bergerombol melawan mereka, ia tetap hidup tertib dan benar.
    • Suara terbanyak tidak selalu benar. Kebenaran tidak pernah bergantung pada pemufakatan pendapat bersama. Oleh karena itu jangan terbujuk oleh pendapat kelompok.

Nyanyian penyembahan

Kini aku percaya pada rancanganMu