Pendahuluan
- Perhatikanlah bunyi kalimat yang dicatat dalam ay;1 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Untuk segala sesuatu ada masanya. Untuk apapun dibawah langit ada waktunya.
- Pernyataan, “untuk segala sesuatu ada masanya. Untuk apapun dibawah langit ada waktunya”, mengungkapkan sedikitnya tiga hal, yakni:
- Tuhan ingin agar kita sadar akan waktu.
- Waktu adalah sesuatu yang sangat penting. Ia merupakan sesuatu yang sangat berharga keberadaannya dalam hidup. Waktu tidak mempunyai keberadaan, tidak menunggu siapapun untuk bergerak, bahkan tidak bisa diblokir atau diberhentikan oleh pihak manapun.
- Waktu itu ibarat arus yang sangat deras, dan menuntut kita untuk menanganinya, bekerja dengannya serta memanfaatkannya. Waktu disebut sebagai rangkaian/urutan dari berbagai-bagai kejadian yang berkesinambungan; baik kejadian yang telah terjadi, sedang terjadi, atau akan terjadi dimasa depan.
- Oleh karena waktu tidak mempunyai keberadaan, tidak menunggu siapapun, tidak bisa diblokir/diberhentikan oleh pihak manapun, bahkan ia ibarat arus… . Maka setiap kita perlu sadar akan waktu; mengerti bagaimana menggunakan waktu, bekerja dengan waktu dan mencintai waktu.
- Peter Drucker dalam bukunya, The Effective Excecutive berkata: Manusia adalah manager waktu, dan tugas utama sebagai manager waktu adalah sebisa mungkin mengendalikan waktu.
- Bd: Inti dari waktu adalah akumulasi dari berbagai – bagai kejadian, karena itu sadar akan waktu adalah kunci untuk memastikan kejadian – kejadian itu bukan saja terjadwal melainkan terlaksana.
- Hidup mempunyai awal dan dengan sendirinya mempunyai akhir
- Dua kata penting yang dicatat dalam pembukaan kitab pertama/kitabkejadian adalah kata: Pada Mulanya. Kata, “Pada Mulanya” ini menjelaskan kepada kita bahwa hidup di dunia ini mempunyai awal karena itu dengan sendirinya ia mempunyai akhir. Artinya bahwa hidup didunia ini ada waktunya.
- Banyak orang menghabiskan waktunya dengan berupaya menciptakan warisan yang tanpa akhir di bumi. Mereka ingin dikenang ketika mereka meninggal nanti. Namun apa yang akhirnya paling penting bukanlah apa yang dikatakan orang tentang kita melainkan apa yang dikatakan Allah tentang hidup kita.
- Apa yang gagal disadari oleh orang – orang adalah: Bahwa segala pencapaian pada akhirnya akan lewat, catatan akan rusak, reputasi akan memudar dan pujian akan dilupakan. Hidup unt menghasilkan warisan di dunia adalah sasaran yg dangkal.
- Adalah bijaksana jika kita menggunakan waktu unt membangun warisan yang kekal. Sebab Kita ditempatkan dibumi bukan untuk diingat tapi untuk siap – siap.
- Bd: James Dobson seorang juara tennis disekolahnya berkata: Sesudah beberapa lama, semua piala kita akan dianggap sampah oleh orang lain.
- Bumi bukan rumah terakhir kita.
- Raja Daud, dalam Mzm 39;5 berkata: Ya Tuhan, beritahukanlah kepadaku ajalku, dan apa batas umurku, Supaya aku mengetahui betapa fananya aku.
- Kata, “betapa fananya aku” adalah menunjuk pada, bagaimana si pemazmur menyadari bahwa bumi bukanlah rumah terakhirnya, sebaliknya; bumi adalah tempat penugasan yang sementara bagi dia (Lih, Mzm 39;6-7).
- Salah satu alasan mengapa Allah membiarkan kita mengalami banyak kesedihan, ketidakpuasan, keinginan yang tidak tercapai, kekalahan serta ketidakbahagiaan adalah supaya kita tidak mau terikat/tinggal berlama – lama di bumi ini.
- Dan memang kita tidak akan pernah merasa puas disini sebab kita dijadikan untuk sesuatu yang jauh lebih baik dari bmi ini (Mzm 119;19. 1 Pet 1;17).
- Bd: Rasul Paulus mengajarkan agar cara berpikir kita tentang kehidupan berbeda dengan orang – orang yang tidak percaya kepada Allah karena kewaganegaraan kita adalah di sorga (Flp 3;18-20).
- Bd: Kalau kita melancong ke luar negri harus membawa pasport dan Visa. Kalau kita bekerja disana, kita perlu memiliki Green Card yang menjelaskan bahwa kita bukan warga negara setempat tetapi kita bekerja disana.
Nyanyian Penyembahan
- Pujian dan syukurku, ku bawa padaMu
- JejakMu Tuhan
- Waktu Tuhan pasti yang terbaik


