Pendahuluan
- Banyak pendapat yang mengatakan bahwa, salah satu tujuan dari sebuah pernikahan adalah, supaya mendapatkan kebahagiaan, supaya tidak kesepian/ada teman hidup dihari tua, supaya memiliki keturunan, atau supaya mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
- Tetapi jika kita memperhatikan serta mempelajari ayat Alkitab yang kita baca ini, secara cermat dan hati-hati, maka kita akan menemukan bahwa:
- Yang menjadi tujuan utama dari sebuah pernikahan bukanlah supaya mendapatkan kebahagiaan/supaya tidak kesepian/supaya mendapat keturunan. Melainkan untuk memperlihatkan bagaimana hubungan antara Kristus dan jemaatNya.
- Darimana kita mengetahui bahwa, yang menjadi tujuan utama dari sebuah pernikahan bukanlah untuk mendapatkan kebahagiaan/ supaya tidak kesepian/supaya ada keturunan. Melainkan untuk memperlihatkan bagaimana hubungan antara Kristus dan jemaatNya?
- Kita mengetahuinya dari ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay:32 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.
- Kata, “Rahasia ini besar” adalah menunjuk pada: adanya sebuah alasan/tujuan dari pernikahan yang belum diberitahukan oleh Allah kepada orang Israel selama ini, yakni: Untuk memperlihatkan bagaimana hubungan antara Kristus dan jemaatNya.
- Dengan kata lain, ayat Alkitab ini mau memberitahukan kepada kita sekalian bahwa: melalui pernikahan Allah memberikan kesempatan kepada laki-laki untuk menjadi “kristus” bagi istrinya dan istrinya menjadi “jemaat” bagi suaminya.
- Pertanyaannya adalah, bagaimanakah hubungan antara Kristus dengan jemaatNya?
- Sebagai pemberi dan penerima (I Yohanes 4:16).
- Alkitab memberitahukan kepada kita sekalian bahwa, Allah adalah kasih. Bahkan salah satu dari nama panggilan Allah yang paling terkenal adalah Maha pengasih.
- Oleh karena Allah adalah kasih, itu sebabnya Dia menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah, tujuannya adalah supaya manusia menjadi objek atau penerima dari kasih itu. Sebab Allah tidak dapat disebut kasih jika tidak memiliki objek atau penerima kasih (Bd Yoh 3:16).
- Sebagaimana Allah adalah pemberi kasih, dan jemaat/manusia adalah penerima kasih, demikianlah Ia berharap; Suami sebagai pemberi kasih dan Istri sebagai penerima dari kasih suami. Jadi jika kita bertanya, bagaimanakah hubungan antara Kristus dan jemaat? Hubungannya adalah sebagai pemberi dan penerima.
Mengapa Mengekspresikan hubungan Kristus dan jemaat?
- Alasan mengapa tujuan abadi dari sebuah pernikahan bukanlah untuk mendapatkan kebahagiaan, bukan supaya tidak kesepian, bukan supaya mendapatkan keturunan/hidup yang lebih baik, melainkan untuk merefleksikan hubungan Kristus dan Jemaat, adalah:
- Karena pernikahan diciptakan oleh Allah (Kol 1:16).
- Perhatikanlah Kalimat yang berbunyi: Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Kalimat ini menunjuk pada, bahwa Allah adalah pencipta dari segala sesuatu, termasuk pernikahan.
- Dari ungkapan kalimat ini dapat kita mengetahui bahwa pernikahan itu dirancang oleh Allah dan diperuntukkan untuk Allah, bukan untuk sekedar hidup bahagia, supaya beroleh keturunan, dsb.
- Jika hidup bahagia, mempunyai teman dihari tua, mendapatkan keturunan, dst, yang menjadi tujuan abadi dari sebuah pernikahan, maka kita bisa saja pergi keluar sana dan menikah dengan semua orang yang kita sukai dan yang menurut kita bisa memberi kita kebahagiaan, dsb.
- Tetapi sebaliknya, Alkitab PL maupun PB justru melarang kita menikah dengan sembarangan orang, bahkan Ia mengatur syarat-syarat tentang pernikahan orang kristen, tujuannya adalah supaya melalui pernikahan orang dapat memahami Kepribadi Kristus (Im 18:1-30. I Kor 7:1-16).
- Bd
- :Perempuan Samaria (Yoh 4:1-19).
- :Kejadian 1:28. Bd: Kol 1:16.


