Pendahuluan
- Perhatikanlah bunyi kalimat yang dicatat dalam ay;14 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Janganlah kamu takut… berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak – anak lelaki dan anak – anak perempuanmu, untuk istrimu dan rumahmu.
- Kata, “Berperanglah untuk…” adalah menunjuk pada, bagaimana Allah menginginkan agar setiap kita memberikan perhatian pada hubungan – hubungan keluarga kita, memperkuat serta membela keluarga kita dari berbagai serangan yang ingin mengkacaubalaukannya, menjaga agar keluarga kita tetap mempermuliakan Tuhan.
- Itulah sebabnya mengapa kalimatnya berkata: Berperanglah untuk saudara – saudaramu, untuk anak – anak lelaki dan anak – anak perempuanmu, untuk istrimu dan seisi rumahmu.
Ancaman terbesar abad ini
- Ancaman terbesar yang kita hadapi abad ke- 21 ini, sebenarnya bukanlah serangan teroris, krisis, bencana alam atau Pandemi covid -19. Melainkan serangan-serangan terhadap hubungan keluarga, rumah tangga dan pernikahan. Hal itu terlihat dari:
- Setiap hari buku-buku, majalah-majalah, sinetron, film dan internet membombardir semua orang dengan siaran dan gambar-gambar yang tidak menghormati keluarga atau pernikahan.
- Para pria/wanita (tua-muda) jalan sama dengan yang bukan pasangannya, bahkan anak-anak muda/remaja sudah gonta-ganti pasangan dan sudah punya panggilan khusus buat pasangannya.
- Bd: Orang-orang dalam memilih teman hidup itu sudah sama seperti belanja pakaian…. Ada yang menganut Filosopi: sekali pake lepas. Bahkan ada yang menganut, tanggal kadaluarsa.
- Menyadari adanya serangan-serangan tersebutlah sehingga Nehemia berkata: Berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk istri dan seisi rumahmu. Sebab jika tidak maka kita akan kehilangan hubungan/orang-orang yang paling berarti bagi kita.
Bagaimana membuat keluarga tetap menghormati Tuhan?
- Berikut ini saya akan membagikan beberapa upaya yang dapat kita lakukan jika kita ingin memperkuat hubungan-hubungan keluarga, baik hubungan antara orang tua – mertua dengan anak-mantu, maupun hubungan dengan pasangan kita, sehingga keluarga kita menjadi keluarga yang kuat dan tetap mempermuliakan Tuhan?
- Jangan keluar dari hubungan (1 Korintus 13;4-5).
- Keluarga adalah satu kesatuan, suatu ikatan, yakni ikatan darah. Kesatuan dan ikatan ini lahir dari sebuah perjanjian pernikahan yang pernah dibangun (Ibrani: Berith) yang artinya adalah; menyatukan atau mengikat sampai kematian memisahkan. Inilah esensi dari sebuah keluarga.
- Dalam hubungan keluarga-terlepas dari apakah kita sudah menikah atau belum, sebab tidak semua yang ada dalam keluarga sudah menikah, ada dua hal yang harus kita prioritaskan:
- Sebagai anggota keluarga kita harus berkomitmen kepada Tuhan. Menjalani kehidupan yang menghormati Tuhan, ini akan menjadikan kita unggul dan berintegritas dalam apapun yang kita lakukan.
- Kita harus berkomitmen pada hubungan sesama anggota keluarga. Kadang-kadang kita bisa saja tidak sepakat, mengucapkan hal-hal yang seharusnya tidak diucapkan, jengkel atau benar-benar marah. Tetapi setelah semuanya itu dilakukan, kita harus melupakannya, mengampuni dan melanjutkan kembali hubungan yang ada, bukan justru pergi meninggalkan hubungan.
- Bd: Jika keluar dari suatu hubungan adalah suatu jalan keluar/alternative maka kita akan selalu menemukan alasan-alasan untuk membenarkannya. Jika kita mengalami ketidak sepakatan, belajarlah untuk tidak sepakat dari leher keatas, jangan biarkan turun ke hati.
Etika dalam mengemukakan pendapat
- Etika dalam mengemukakan pendapat: Jangan berusaha untuk membuat orang lain mengubah pikirannya. Berikanlah hak kepada orang lain untuk mengutarakan pendapatnya. Jika kita tidak merasa puas karena mereka tidak setuju dengan kita, itu namanya berusaha memaksakan pendapat kita (memanipulasi hubungan).
- Bd: Selama kita suka memaksakan pendapat maka akan terjadi perdebatan/pertikaian. Dimana ada pertikaian disitu pasti ada kebingungan atau ketegangan atau perasaan tertekan.
- Bd: Saat kita tergoda untuk berdebat/bertikai, tariklah nafas dalam-dalam, dan segera berkata dalam hati, “apa yang sedang ku lakukan atau apa sebenarnya yang ku mau”. (Lih, maju 7 langkah-mundur 7 langkah sambil menghitung keras-keras).
2. Jangan mengatakan hal-hal yang menyakitkan (Efesus 4;26).
- Perhatikanlah ungkapan kalimat yang berbunyi: Apa bila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa.
- Kemarahan adalah suatu luapan emosi – perasaan yang Tuhan taruh dalam diri kita yang bersifat “netral”, dan Tuhan tidak ada masalah dengan emosi atau kemarahan.
- Tuhan hanya menginginka agar kita mengerti, bahwa kita tidak perlu meledak, serta mengatakan hal-hal yang menyakitkan yang dapat merusak hubungan kita. Sebaliknya belajarlah untuk menenangkan diri, mengendalikan perasaan – perasaan kita dan memikirkan apa yang ingin kita katakan.
- Bd: Kata-kata bisa menikam seperti sebilah pisau. Kita mengatakannya hanya dalam beberapa detik, tetapi dua atau tiga bulan kemudian kita masih bisa merasakan sengatannya. Sama seperti menyentuh api kompor gas yang sedang menyala.
- Bd: Kata-kata mempunyai kuasa kreatif, dan saat kita berbicara buruk kita sedang memberikan hak kepada iblis untuk mewujudkannya.
- Semua orang mengalami saat-saat tertekan-berantakan-dll, tetapi kita tidak perlu mengijinkan hal itu terus berlangsung. Berusahalah untuk menciptakan atmosfir yang penuh damai. Lakukanlah apa saja yang yang diperlukan untuk menjaga kedamaian, jangan sebaliknya, kita melakukan apa saja untuk merusak hubungan.
3. Jadi berkat bagi keluarga (Amsal 31;28).
- Secara tidak langsung, ayat Alkitab ini sebenarnya sedang menyampaikan kepada kita sekalian bahwa, cara kita dalam memperlakukan pasangan hidup kita memberikan dampak yang mendalam pada cara anak-anak kita dalam menghargai dan menghormati ibu mereka.
- Jika suami memuji dan memberkati istrinya, tidak diragukan lagi anak-anaknya akan meniru teladannya. Anak-anak kita secara tidak sadar memasukkan kedalam otak mereka nada-nada suara, bahasa tubuh, dan tingkah laku pribadi kita.
- Bd: Bagaimana perasaan kita jika kelak putra dan putri kita menikah dengan orang yang berkepribadian mirip dengan kita? Oleh karena itu, perlakukanlah suami/istri kita dengan cara yang kita inginkan agar orang lain lakukan kepada mereka. Berusahalah memperlihatkan kepada mereka cinta, penghargaan dan penghormatan.
- Para ayah, kita perlu bertekat untuk selalu menguatkan anak-anak kita dan menjadi berkat bagi mereka. Apapun yang kita lakukan turut membentuk identitas anak-anak. Jika kita hanya menegur kesalahan mereka, terlalu sibuk dan tidak mendukung mereka, kelak ia akan bertumbuh sebagai anak yang tidak percaya diri.
- Para orang tua, kita harus berjuang demi anak-anak kita, jika kita mau berjuang untuk mereka maka Tuhan akan berjuang bersama kita. bawalah mereka ke gereja – jangan kirim, temanilah mereka untuk saat-saat tertentu.
- Bd: Yang menyebabkan anak-anak bermasalah sering sekali karena mereka tidak mempunyai figur ayah atau ibu yang positif. Mereka tidak punya siapapun untuk mengucapkan berkat atas mereka, dan mendoakan mereka.
Nyanyian Penyembahan:
- Ku menyembah dalam kudus hadiratMu
- Ku sembah kau Allahku


В мессенджере Telegram появилась новая функция — внутренние звёзды.
Они используются для вознаграждения каналов.
Любой пользователь имеет возможность передавать звёзды чатам.
купить звезды втг
Звёзды обмениваются в реальные деньги.
Это простой способ выразить благодарность.
Оцените функцию уже немедленно.