Pendahuluan
- Belakangan ini pemerintah maupun media sosial sering memperdengarkan istilah yang tampaknya dipendengaran kita sehari – hari, yaitu; “The New Normal.”
- New normal artinya adalah: situasi baru yang normal, atau menjadikan situasi yang baru/tidak biasa menjadi normal, menggantikan pola/gaya hidup sehari – hari yang umum dengan pola atau gaya hidup yang baru.
- Istilah “the new normal” disampaikan oleh pemerintah berkaitan dengan adanya pandemi covid 19 yang telah melanda lebih dari 80 persen negara – negara diseluruh dunia, termasuk Indonesia.
- Berdasarkan laporan dari media TV, virus ini telah menelan korban jiwa yang tidak sedikit, dan telah menimbulkan krisis diberbagai sektor diseluruh belahan dunia.
- Walau banyak upaya yang telah dilakukan, namun hingga kini (6 bulan) virus ini belum dapat diatasi dan belum ditemukan obatnya. Oleh karena itu, mau tidak mau kita harus masuk pada era the new normal.
- The New Normal mengharuskan kita untuk tetap memperhatikan protokol kesehatan; tidak bersalaman/cipika-cipiki, menggunakan masker, cuci tangan, jaga jarak, belajar dan bekerja dari rumah, dst. Hal ini demi keberlangsungan hidup.
New normal adalah kawan bukan lawan
- Jika kita memperhatikan ayat Alkitab yang kita baca barusan ini, maka kita akan menemukan bahwa, peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke sorga membawa para murid serta seluruh orang percaya lainnya masuk pada era new normal, yakni; era dimana mereka harus melakukan sesuatu yang tidak biasa/asing, bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.
- Misalnya: Pola beribadah membangun hubungan dengan Allah (Yoh 4;20-21 bd 23-24). Pola pelayanan (Mat 10;5-7 bd Kis 1;8). Pola hidup sehari – hari (Kis 1;6-7 bd 9-10). Hukum agama (Rom 3;28). Kepribadian (Kis 5;39). Dll.
- Bd: (Peringatan Yesus tentang “new normal”) Jauh sebelum Yesus disalibkan, Ia telah memperingatkan para muridNya agar mempersiapkan diri dan tidak kecewa atas berbagai kemungkinan dan perubahan yang pasti akan terjadi (Luk 21;10-13, 16-19. Bd Yoh 16;1-4a).
- Belajar dari apa yang disampaikan oleh Firman Tuhan ini, maka dapat kita mengerti bahwa kita tidak perlu terguncang, gelisah atau marah terhadap perubahan (new normal) yang terjadi, sebaliknya; kita harus menyambutnya dan memperlakukannya seperti kawan yang sedang mendorong kita untuk menjadi yang terbaik/lebih maju.
Keluar dari kecendrungan buruk
- Disamping sebagai awal lahirnya era “new normal”, peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke sorga, ternyata memberi pelajaran lain kepada para murid dan seluruh orang percaya lainnya, yakni supaya mereka keluar dari kebiasaan – kebiasaan buruk yang menggoda, dalam konteks ini egoisme dan eksklusivisme (Kis 1;5).
- Para murid paham apa yang namanya “momentum”, yaitu saat yang tepat untuk melakukan sesuatu dengan sukses. Para murid mengerti bahwa momentum itu datang hanya sesekali, bahkan dalam beberapa kasus malah datang hanya sekali, lalu raib. Itu sebabnya mereka memanfaatkannya secepat – cepatnya dan setepat – tepatnya.
- Bagi para murid, “momentum” untuk mendapatkan keinginan/mewujudkan cita – cita mereka yang sempat gugur akibat peristiwa penangkapan dan penyaliban Kristus adalah sekarang, sebelum Yesus naik ke sorga. Itu sebabnya mereka berkata: Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?
- Permintaan para murid agar Tuhan memulihkan kerajaan Israel sekarang menjelaskan bahwa mereka egois; ingin mendapatkan apa yang diinginkannya sekarang, seolah mereka mau memaksa/mengatur Tuhan untuk bertindak.
- Bd: Iman yang benar adalah bersedia mempercayai Tuhan walau tidak melihat, bukan harus sekarang. Ini yang disebut dengan egois.
- Respon Yesus atas pertanyaan para murid menjelaskan bahwa Ia tidak setuju dengan kecendrungan – kecendrungan buruk; egoisme (memikirkan kerajaan sendiri) dan eksklusivisme (memisahkan diri dari dunia luar) sebab misi kita adalah keluar atau seluruh dunia.
Nyanyian dan penyembahan:
- Kusadar tak semua dapat aku miliki didalam hidupku
- Waktu Tuhan pasti yang terbaik


