Pendahuluan
- Pada minggu pertama yang lalu, kita telah belajar dari kehidupan Ishak yang dicatat dalam Kej 26;1-13. Kisah kehidupan Ishak tersebut mengajarkan kepada kita tentang, bagaimana bisa eksis walau berkali – kali diterpa krisis. Rahasia keberhasilan Ishak adalah BERSANDAR PENUH KEPADA ALLAH (25;21. Bd, 22;1-10 ; 24;1-67 ; 25;21 ; 26;2,25).
- Pada minggu yang lalu, yakni minggu kedua, kita belajar dari kisah kehidupan Yusuf yang dicatat dalam Kej 37, 39-47. Dari kisah kehidupan Yusuf kita belajar tentang, kunci mengatsi krisis. Keberhasilan Yusuf dalam mengatasi berbagai – bagai krisis yang terjadi dalam hidupnya adalah, TETAP DEKAT DENGAN TUHAN (39;1-2).
- Bd: Sebagaimana yang telah kita pelajari bersama pada minggu yang lalu, bahwa kemampuan Yusuf dalam mengelola, menangani dan mengatasi krisis-lah yang membuat dia mengalami berbagai promosi dan keberhasilan hidup.
Manfaat krisis
- Pada kesempatan ini, saya akan berbagi kepada kita sekalian mengenai Manfaat dari sebuah krisis. Topik ini akan menolong dan memampukan kita sekalian untuk kembali mengerti bagaimana bisa eksis ditengah – tengah terpaan krisis.
- Adapun salah satu manfaat dari sebuah krisis yang terjadi dalam hidup kita sehari – hari, yang dapat kita pelajari pada kesempatan ini, antara lain:
- Krisis menyingkapkan gaya hidup seseorang (Mat 7;24-27).
- Perhatikanlah ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay;24 dan ay;26 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi:
- Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu.
- Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya diatas pasir.
- Kalimat, “ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya diatas batu” dan “ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya diatas pasir.” adalah menunjuk pada bagaimana gaya hidup yang dibangun oleh seseorang, yakni apakah bijaksana atau bodoh.
- Yesus melanjutkan: Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan diatas batu (7;25). Tetapi tentang rumah yang satunya lagi, Yesus berkata: Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya (7;27).
- Belajar dari apa yang disampaikan oleh Yesus melalui perumpamaan ini, maka dapatlah kita mengerti bahwa: Yang menjadi penyebab terjadinya kehancuran/ kemerosotan/ kemunduran dalam diri seseorang, bukanlah badai/krisis/peristiwa – peristiwa yang tak terduga/tak terkendali? Tetapi gaya hidup yang dibangun oleh seseorang, yakni gaya hidup tidak bijaksana (lih, 7;24-25. Bd, Ams 3;1-4, 5-8).
- Perhatikanlah ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay;24 dan ay;26 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi:
Bertunas seperti pohon korma
- Kitab PL memberitahukan bahwa, apabila kita mau hidup secara bijaksana, tinggal dalam hadirat Allah, hidup dalam iman kepada Allah, maka kita akan bertunas seperti pohon korma, tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon(Mzm 92;13-16).
- Bukankah ini menarik? Tuhan tidak menggambarkan orang benar sperti pohon beringin, pohon kayu jati, pinus atau tusam yang memiliki batang yang besar, cabang yang kuat serta daun yang rindang?
- Mengapa? Karena Tuhan tau bahwa akan ada masa – masa sulit yang datang, musuh melawan, krisis menerjang. Dan pohon korma tidak akan patah/tergeletak melainkan terus bertumbuh dan semakin kuat.
- Tidak ada gunanya berdoa agar krisis tidak terjadi. Cepat atau lambat, setiap orang pasti didatangi/mengalami krisis (Yoh 16;33. Bd 1 Yoh 5;4).
- Yang perlu dilakukan oleh setiap orang ialah, memperhatikan bagaimana ia membangun gaya hidupnya setiap hari (Bd, Mzm 1;1-6).
Nyaniyan dan penyembahan
- Penolong yang selalu setia


