DAMAI DITENGAH BADAI (BIL 12:1-3).

hands, grasses, sunset-2667461.jpg

Pendahuluan

  • Hari – hari ini kita sedang berada ditengah – tengah dunia yang tingkat kecemasan dan kegelisahannya sangat tinggi. Bahkan boleh dikatakan bahwa, ini adalah abad yang paling menegangkan; dimana setiap hari kita berhadapan dengan situasi –situasi yang membuat kita jengkel, marah dan kehilangan damai sejahtera.
  • Ketegangan, setres dan mudah marah adalah salah satu penyebab utama dari terjadinya serangan jantung dan hipertensi. Mungkin hal ini juga-lah yang mengakibatkan obat penenang laris terjual diberbagai tempat yakni, karena ingin menurunkan ketegangan emosi seseorang.
  • Sebahagian besar dari ketegangan yang dialami oleh banyak orang adalah karena krisis keuangan, harapan yang tertunda, konflik yang tidak terselesaikan, dsb. Namun pada hari ini, saya akan mengajak kita untuk mempelajari bagaimana memiliki damai sejahtera ditengah dunia yang penuh dengan ketegangan dan kecemasan ini.

Belajar dari Musa

  • Ayat Alkitab yang kita baca ini memberitahukan kepada kita bahwa: Musa adalah seorang yang sangat lembut hatinya, bahkan lebih dari setiap manusia yang ada diatas muka bumi (Bil 12;3). Yang dimaksud dengan lembut disini bukan berarti “lemah”, meskipun itu yang sering sekali terbersit dalam pikiran banyak orang.
  • Yang dimaksud dengan “lembut hatinya” dalam ayat bacaan kita ini adalah: Sikap percaya diri yang tenang, keadaan hati yang teduh, dan penuh dengan damai sejahtera.  Dengan kata lain, Musa adalah orang yang lebih memilih untuk tidak gelisah/tegang pada saat semua orang menentangnya. Ia memilih untuk tidak kehilangan kendali disaat semua keadaan tidak seperti yang didoakannya.
  • Bd: Hanya ada dua orang yang dicatat dalam ayat Alkitab yang sedemikian lembut hatinya, yakni: Yesus Kristus dan Musa. Itulah sebabnya, mengapa Musa layak untuk diteladani dalam hal damai ditengah badai.
  • Adapun cara praktis yang dapat kita pelajari dari seorang yang bernama Musa dalam mendapatkan damai ditengah – tengah badai, ialah:
  1. Musa mencondongkan hidupnya pada hal – hal yang benar (Ibr 11; 23, 24-29).
    • Satu – satunya hal yang membuat Musa memiliki damai sejahtera bahkan ketika ia berada ditengah – tengah badai sekalipun adalah: Karena Musa mencondongkan dirinya; keputusan – keputusannya, pilihan dan rencananya, bahkan seluruh hidupnya pada hal – hal yang berkenan kepada Allah bukan pada perasaannya dan aturan – aturan picik lainnya (Ibr 11;24-29).
    • Pada masa itu belum ada Hukum Taurat/Firman Tuhan yang telah dibukukan, namun Alkitab menyebutkan bahwa Musa adalah seorang yang memiliki iman.  Bahkan dari antara nama – nama pahlawan iman di PL, kisah yang menggambarkan tindakan iman Musa lebih banyak/luas diutarakan dalam kitab Ibrani itu.
    • Bd: Jika ada orang yang berhak untuk gelisah, cemas, hidup dalam ketegangan/ marah, Musa adalah orangnya, sebab sejak dari awal hidupnya penuh dengan konflik/krisis.

Maksud badai bagi orang benar

  • Banyak orang mengira bahwa setelah dia mencondongkan diri pada prinsip – prinsip kebenaran maka ia akan terhindar dari berbagai badai dan kesulitan yang tak terduga. Keliru.
  • Sebelum kita bahas poin ini, baiklah kita membaca Mat 5;45. Yesus Kristus mengajar bahwa, Bapa di sorga menurunkan hujan dan memberikan sinar matahari baik kepada orang benar maupun orang yang tidak benar. Artinya, semua orang diberi potensi yang sama untuk memperoleh berkat dan keberhasilan hidup.
  • Pertanyaannya adalah, jika demikian, apa perbedaan antara orang yang mencondongkan diri kepada Allah dengan yang tidak? Bagi orang benar, badai dimaksudkan untuk:
  1. Memberitahukan bahwa Tuhan punya rencana besar bagi masa depannya (Yes 54;17).
    • Bd: Daud Vs Goliath
  2. Memberitahukan bahwa iblis merencanakan sesuatu untuk menghentikan kita (Yoh 1;5).
    • Ketika kita berhadapan dengan badai yang tak terduga, mudah bagi kita untuk segera berpikir bahwa: “jangan – jangan kita sedang melakukan hal yang salah, dst, pada hal belum tentu.
    • Sering sekali yang menjadi alasan mengapa badai dan kesulitan masuk dalam hidup kita adalah, karena kita sedang melakukan hal – hal yang benar, melakukan banyak perubahan, menjangkau banyak daerah baru/jiwa – jiwa baru, sehingga kita merupakann ancaman bagi iblis.
    • Iblis-lah satu – satunya pribadi yang tidak ingin melihat kita melakukan hal – hal yang benar dan perubahan – perubahan, itu sebabnya merencanakan sesuatu untuk menghentikan kita. Iblislah satu – satunya yang tidak ingin melihat kita berjalan diatas karpet merah.
    • Bd: Musa, Ayub, Paulus, Yesus Kristus, dll.
  3. Tuhan ingin menunjukkan kuasaNya (Mrk 4;35-41).

Nyanyian dan penyembahan

  • Tak ada yang sukar tak ada yang berat
  • Disaat ku berbeban berat ku ingat ku punya Kau Tuhan

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *