Pendahuluan
- Perhatikan bunyi kalimat yang dicatat dalam ay:6 bagian B, ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya kepada ibunya: “Tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir (2 Raj 4:6b).
- Kalimat, “Lalu berhentilah minyak itu mengalir” menjelaskan bahwa: ada suatu hal yang bisa menghambat/dapat menyebabkan mujizat atau penyediaan Allah berhenti mengalir atas hidup/keluarga kita, sebagaimana yang dikisahkan dalam perikop bacaan kita ini, dimana minyak dalam buli-buli itu tiba-tiba berhenti mengalir.
- Jika kita menyimak secara teliti ayat bacaan kita ini, maka kita akan menemukan bahwa penyebab berhentinya mujizat tersebut mengalir atau terhambat bukan dari pihak Tuhan, atau karena penyediaan di sorga sudah menipis? Bukan pula karena Tuhan yang menginginkan atau membatasi pemberianNya bagi kita; seolah Tuhan berkata, “sudah cukup, sekarang waktunya berbagi kepada yang lain, dsb.
- Bd: Penyediaan sorga itu tidak terbatas. Mujizat bisa mengalir terus-menerus tanpa henti bahkan setiap hari. Tetapi mengapa dalam konteks ini, mujizat/minyak itu bisa berhenti mengalir? Apa sebenarnya yang menjadi penyebab atau penghambat sehingga mujizat itu bisa berhenti mengalir? Berikut penjelasannya:
- KEMALASAN (2 RAJ 4:3).
- Perhatikan bunyi kalimat: Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari para segala tetanggmu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Perhatikan penggunaan kalimat, “Jangan terlalu sedikit”.
- Perintah yang disampaikan oleh nabi Elisa kepada perempuan dan anak-anaknya untuk pergi mengumpulkan bejana kosong dari segala tetangganya, sebanyak mungkin/jangan terlalu sedikit, menjelaskan bahwa kunci untuk mengalami mujizat adalah jangan malas, jangan mudah menyerah, jangan lekas puas serta tidak tahan menderita. Sikap seperti ini dapat menyebabkan mujizat berhenti atau terhambat mengalir dikehidupan kita, usaha dan masa depan kita.
- Sang ibu dan kedua putranya mengira bahwa bejana yang sudah ada/sudah terkumpul ini sudah lebih dari cukup. Mungkin mereka mengira bahwa mereka sudah tidak mampu lagi untuk mengumpulkan bejana yang lebih banyak lagi sebagaimana yang diharapkan, karena orang-orang menolak mereka, mencemooh, bahkan merendahkan mereka. Itu sebabnya mereka lebih memilih untuk menyerah, pulang lebih awal, lalu masuk kamar dan menutup pintu.
- Ini adalah metafora/gambaran lain dari kata malas, tidak memiliki daya tahan serta daya juang yang tinggi. Akibatnya, mujizat berhenti mengalir atau terhambat, dan kita hanya menerima sedikit aliran mujizat atas hidup kita.
Kemalasan adalah dosa
- Kitab Suci kita dengan tegas menyatakan bahwa kemalasan adalah dosa. Karena itu kita di dorong untuk terus bekerja, dan bertekun (Ams 24:30-34). Melalui ayat ini raja Salomo menggambarkan dengan jelas adanya konsekuensi dari kemalasan, yakni membawa kemiskinan, kekurangan dan kehancuran.
- Bahkan melalui Ams 26:15 penulis merangkum bahwa sifat dari kemalasan itu benar-benar merusak. Dalam ayat ini diberitahukan bahwa si pemalas bahkan tidak mampu makan. Sungguh memprihatinkan, bukan? Keinginan untuk tidak melakukan apa pun bisa begitu kuat sehingga menyebabkan penderitaan yang ditimbulkannya sendiri.
- Lebih lanjut lagi, dalam Ams 19:15, Alkitab menggambarkan bagaimana konsekuensi dari kemalasan; ia menyebabkan orang tertidur lelap, dan menderita kelaparan. Sekali lagi, sebuah metafora yang disusun dengan cermat untuk menanamkan dalam diri kita konsekuensi dari kemalasan. Perhatikan bagaimana ayat tersebut mengaitkan kemalasan dengan ‘tidur’ dan ‘kelaparan,’ keduanya merupakan keadaan yang merusak dalam kehidupan manusia.
- Bd: Sama seperti dosa-dosa lainnya, kemalasan dapat menyesatkan kita dari tujuan ilahi kita. Sebagai orang percaya, kita didorong untuk mengatasi kemalasan ini, untuk melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh, untuk mengandalkan kasih karunia-Nya yang memungkinkan kita bekerja demi kemuliaan-Nya. Akankah kita membiarkan dosa menjerat kita, atau berjuang untuk mengatasinya dengan pertolongan Tuhan?
2. TIDAK DIPERCAYA (2 RAJ 4:3).
- Perhatikan kalimat: Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu. Kata, “Pergilah, mintalah …” menjelaskan bahwa kunci untuk mengalami mujizat tanpa henti adalah dipercaya; dipercaya teman, tetangga terkhusus Tuhan. Sebaliknya, penghambat terjadinya mujizat atas hidup kita adalah, tidak dipercaya; tidak dipercaya oleh teman, oleh tetangga termasuk oleh Tuhan.
- Ketika anak-anak Israel bersama ibunya pergi meminta bejana dari tetangga-tetangganya, maka sebagaimana para tetangganya mempercayai mereka demikianlah mereka memberikan bejana mereka, dan sebagaimana ukuran serta jumlah bejana yang diberikan demikianlah ukuran mujizat yang mereka terima/yang mengalir ke atas hidup mereka.
- Sesungguhnya kekristenan itu saling ketergantungan, saling membutuhkan atau saling melengkapi antara satu dengan yang lain. Sama seperti suami dan istri saling membutuhkan dan saling melengkapi, demikian juga dengan karunia-karunia tidak boleh saling mengabaikan tetapi saling harmonis dan saling percaya.
- Bd: Pengalaman pertama kekristenan Saulus (Kis 9:3-6).


