MENGATASI EMOSI – EMOSI LIAR (KEJ 1;26-28).

Pendahuluan

  • Berdasarkan keterangan ayat Alkitab yang kita baca ini, kita mengetahui bahwa: Allah menciptakan kita sebagai manusia yang sempurna. Memiliki tubuh, jiwa dan roh yang didalamnya terdapat kemampuan berpikir dan bernalar – rasional. Kemampuan membuat pilihan dan keputusan – Kehendak bebas. Memiliki hati nurani dan kesadaran akan apa yang benar atau salah – Kecerdasan intelektual. Kemampuan menjalin hubungan dengan Allah dan sesama – Bersekutu (Kej 1;27).  
  • Pada pasal berikutnya diberitahukan bahwa: Keadaan manusia yang diciptakan dalam rupa dan gambar Allah ini rusak oleh dosa (Kej 3;1-7). Hubungan langsung antara manusia dengan Allah terputus, pikiran manusia menjadi gelap, kehendak manusia adalah memberontak dan jahat. Emosinya tidak stabil/liar, hubungan dengan sesama penuh konflik dan kecurigaan, tubuh menjadi fana, menua, sakit, menjadi sarang dosa dan lenyap. Semesta turut merasakan dampaknya, tanah terkutuk dan perlu kerja keras untuk beroleh hasil.
  • Singkatnya, kejatuhan manusia kedalam dosa menyebabkan kerusakan total pada seluruh aspek rupa dan gambar Allah, baik aspek fisik, rohani dan jiwa yang didalamnya terdapat emosi – sosial – mental – intelektual. Namun walaupun demikian, Allah menjanjikan anugerah ilahi bagi manusia untuk pemulihan kesempurnaan setiap aspek rupa dan gambar Allah itu, sehingga emosi yang rusak, liar dan tidak terkendali bisa pulih kembali.
  • Pertanyannya ialah, apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa mengatasi emosi yang liar dan tidak terkendali akibat dosa yang telah merusak seluruh aspek rupa dan gambar Allah itu?  Simak penjelasan berikut ini:
  1. Jangan terperangkap hanya pada satu aspek rupa dan gambar Allah (Kej 1;27).
  • Diawal telah disampaikan bahwa kita diciptakan sebagai manusia yang utuh dalam gambar dan rupa Allah, dimana di dalamnya terdapat dimensi fisik, rohani, emosi, intelektual, dan sosial.
  • Menyadari bahwa kita diciptakan dalam rupa dan gambar Allah yang dikenal dalam spesis laki – laki dan perempuan yaitu manusia dengan dimensi fisik, rohani, emosi, sosial dan mental, maka  kita tidak boleh mengabaikan salah satu dari aspek rupa dan gambar Allah tersebut. Mengabaikan salah satu dari aspek gambar dan rupa Allah, pasti menghasilkan konsekuensi yang dapat merusak bahkan mematikan, baik hubungan kita dengan Allah, dengan sesama termasuk dengan diri kita sendiri.  
  • Bd: Alasan mengapa seseorang hidup dalam kepalsuan ialah; Karena Injil tidak menyentuh atau tidak menyembuhkan luka dan pola dosa di kedalaman batin mereka. Mereka terperangkap dalam satu aspek rupa dan gambar Allah saja yaitu, kerohanian, sedangkan aspek emosional, intelektual dan mental tidak berkembang. Ini adalah penerpan Alkitab yang salah, inilah yang menyebabkan hal – hal buruk, pertengkaran, konflik, kemunduran bisa muncul saat pencobaan terjadi (Lih 2 Kor 4;16-18).

Tanda emosi yang tidak sehat

  • Berikut ini akan diuraikan beberapa tanda dari kehidupan emosi yang tidak sehat, yang terus – menerus merusak kehidupan pribadi, gereja dan hubungan – hubungan kita. Tanda – tanda ini tidak dapat diatasi hanya dengan melakukan beberapa bagian dan membiarkan bagian lain dengan cara mengikuti kegiatan doa serta ibadah saja. Perlu tindakan radikal yang menyentuh hingga menghasilkan perubahan yang mendasar dan berlanjut. Tanda – tanda dimaksud antara lain:
  • a). tidak bisa mengenali dan mengatur perasaannya sendiri. b). tidak bisa menempatkan diri dan tidak memiliki belas kasih yang aktif. c). tidak berinisiatif menjaga hubungan yang bermakna. d). tidak bisa melepaskan diri dari pola yang merusak diri. e). tidak peka terhadap dampak masa lalu di masa kini.
  • f). tidak mengembangkan kapasitas. g). tidak bisa menghormati dan mengasihi orang lain kecuali harus mengubah mereka. h). tidak bisa memilih secara jelas dan langsung dan dengan sikap hormat apa yang mereka inginkan. i). tidak bisa secara akurat menilai diri sendiri, kekuatan, keterbatasan, kelemahan dan tidak mau menyatakannya kepada orang lain. j). tidak bisa menyelesaikan konflik secara dewasa, merundingkan solusi dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain. k). tidak bisa mengekspresikan suka dan duka dengan benar. 
  • Bd: Jika kita bertemu dengan seseorang yang pertumbuhan mental, intelektual atau spiritualnya tidak sehat maka pertumbuhan yang terhambat tersebut pasti akan terlihat; ia akan menyendiri selama berjam – jam tanpa berinteraksi dengan teman – temannya yang sedang bermain, memperlihatkan sikap atau perbuatan yang mencolok dari teman – temannya yang lain, dsb.
  • Bd: Ada kalanya keberadaan Inner Life seseorang tidak langsung terlihat dipermukaan, apa lagi jika baru pertama sekali bertemu dengan orang tersebut. Tetapi seiring berjalannya waktu atau jika sudah lama saling mengenal, maka kenyataan Inner Life seseorang akan terlihat jelas.

2. Hidup mengikuti cara Allah hidup (Gal 5;16-26).

  • Melalui ayat Alkitab ini, rasul Paulus mengajarkan kepada kita bagaimana cara Roh Allah hidup dan bagaimana cara manusia daging hidup (Gal 5;16, 17-21 : 5;16, 22-23).  Selain itu, rasul Paulus juga memberitahukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita jika kita hidup secara autentik mengikuti cara Roh Allah hidup VS jika mengikuti cara manusia daging hidup? Yaitu: tidak mendapat bagian dalam kerajaan Allah Vs hidup menjadi indah dan menyukakan (Gal 5;21 : 5;23).
  • Rasul Paulus memang mengajarkan bahwa: Setiap orang yang percaya kepada kristus adalah ciptaan baru (2 Kor 5;17). Namun walaupun demikian bukan berarti kita tidak perlu berupaya mengintegrasikan antara kesehatan spiritual dengan kesehatan mental, emosional, sosial, dan intelektual. Apabila kita tidak mengintegerasikan pertumbuhan rohani kita dengan perkembangan emosi kita maka sangat sulit bagi kita untuk mengalami semua janji indah Allah dalam kehidupan kita, bagi gereja atau komunitas kita.
  • Tidak peduli sudah berapa lama kita mencari Tuhan, berapa banyak kelas pemuridan dan pelatihan yang di ikuti, buku apa yang telah dibaca, dsb. Emosi, mental, sosial dan intelektual kita akan tetap seperti bayi, liar dan tidak bertumbuh kecuali kita mengijinkan Kristus membongkar dan mengubah inner life kita  dan kita berupaya untuk memunculkan buah  dari kebun kehidupan kita (Gal 5;22-23).
  • Bd: Hanya sedikit orang yang muncul dari keluarga asli mereka yang tidak memiliki masalah dalam semua aspek rupa dan gambar Allah atau dewasa secara rohani, emosi, intelektual dan sosial. Mungkin alasannya ialah, faktor perkawinan campuran, ekonomi, pendidikan, dsb.  Tetapi, intinya ialah: Kedewasaan rohani dan kedewasaan emosi tidak bisa dipisahkan, dan tidak mungkin seseorang menjadi dewasa rohani namun kanak – kanak secara emosi.   

8 komentar untuk “MENGATASI EMOSI – EMOSI LIAR (KEJ 1;26-28).”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *