Pendahuluan
- Dalam terjemahan NKJV, kalimat “orang yang sabar” di terjemahkan sebagai orang yang slow to angar, yaitu: orang yang lambat untuk marah. Disebut lambat untuk marah karena memiliki kemampuan mengelola/mengendalikan emosi dengan baik (showing emotional management). Orang yang demikian ini disebut sebagai orang yang melebihi seorang pahlawan dan melebihi seorang yang merebut kota.
- Kata, “pahlawan” atau “orang yang merebut kota” dalam konteks ini adalah menunjuk pada: Orang yang memiliki semangat serta hasrat juang yang menggebu-gebu dan telah mencapai hal-hal hebat.
- Dengan kata lain ayat Alkitab ini ingin berkata bahwa: orang yang memiliki kemampuan mengelola emosi dengan baik adalah orang yang jauh lebih hebat dari pada orang yang memiliki semangat juang yang menggebu-gebu namun tidak dapat megendalikan emosi.
- Bd: Dimanapun, semangat adalah modal utama/terbesar dalam mencapai hal-hal hebat, namun emosi yang tidak terkendali dapat melenyapkannya dengan seketika. Belajar dari kebenaran ini maka dapat kita mengerti betapa penting mengelola/mengendalikan emosi.
Penting memiliki kecerdasan emosional
- Pada tahun 1990-an dunia digemparkan oleh sebuah penemuan yang merubah paradigma berpikir manusia. Daniel Goleman tokoh konsep EQ berkata: Orang yang memiliki kecerdasan secara emosional memiliki peluang keberhasilan jauh lebih besar dari sekedar memiliki kecerdasan inteligensi biasa (IQ). Sejak saat itulah orang disadarkan bahwa emosi manusia merupakan faktor penting yang sering diabaikan.
- Bagaimana pendapat Alkitab mengenai temuan Daniel Goleman? Jauh sebelum konsep EQ di populerkan, Allah telah sejak awal mengajarkan tentang pentingnya memperhatikan kondisi emosi/memiliki kecerdasan emosional. Yakni, melalui berbagai peristiwa yang dialami oleh para tokoh iman, Allah memberitahukan bahwa tanpa pengenalan dan pengelolaan emosi yang sehat maka banyak masalah dan kegagalan terjadi.
- Bd: Musa gagal karena meluapkan amarahnya. Simson gagal karena tidak bisa mengendalikan emosinya. Saul di rasuk roh jahat karena kecemburuan/ketakutannya. Yudas menjual imannya karena kecewanya, dll.
- Bd: Emosi adalah hal yang netral, respon atau cara menggunakannya sering menjadi sumber masalah.
- Bd: Allah menjadikan emosi sebagai jalan atau cara untuk menunjukkan kasihNya kepada manusia.
- Bd: Yesus teladan dalam mengelola emosi saat di cobai iblis dalam tiga hal, antara lain: dalam hal prestasi (Luk 4;3-4), dalam hal kepemilikan dan nilai (Luk 4;5-8), dalam hal popularitas (Luk 4;9-12).
Gambaran dari emosi yang sehat
- Salah seorang anggota gereja di sebuah negara membagikan kesaksiannya di depan hamba – hamba Tuhan dan jemaat. Dia berkata, “Saya sudah menjadi orang kristen selama 22 tahun. Tetapi saya bukan orang kristen yang berumur 22 tahun. Sebaliknya, saya hanya menjadi orang kristen yang berumur 1 tahun selama 22 tahun”. Jemaat ini menjelaskan bahwa ia masih saja melakukan hal yang sama berulang-ulang selama bertahun-tahun.
- Mengukur tingkat pertumbuhan kerohanian seseorang dapat dilakukan dengan melihat gambaran pertumbuhan emosi seseorang. Berikut keterangan tentang tingkat kesehatan emosi:
- Bisa menyadari, mengenali dan mengatur perasaannya sendiri.
- Dapat menempatkan diri dan memiliki belas kasihan yang aktif bagi orang lain.
- Bisa melepaskan diri dari pola yang merusak diri.
- Peka terhadap dampak masa lalu terhadap masa kini.
- Bisa mengembangkan kapasitas untuk menyatakan pikiran dan perasaan secara jelas.
- Bisa menghormati dan mengasihi orang lain tanpa harus mengubah mereka.
- Bisa meminta apa yang kita butuhkan, inginkan, pilih secara jelas, secara langsung dan dengan sikap hormat.
- Bisa secara akurat menilai kekuatan diri sendiri, keterbatasan serta kelemahannya dan menyatakannya secara bebas tanpa menutup-nutupi.
- Memiliki kapasitas untuk menyelesaikan konflik secara dewasa, merundingkan solusi dan mempertimbangkan sudut pandang orang lain.
- Bersuka dan berduka dengan benar.
Nyanyian dan penyembahan:
- Aku mengasihi Engkau Yesus
- Seperti rusa rindu sungaiMu



https://shorturl.fm/P58w0