Pendahuluan
- Perhatikan kalimat yang berbunyi: Siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, yang baru sudah datang.
- Ada dua sebutan untuk kata, “baru” yang sering dipergunakan dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu: Neos dan Kainos.
- Neos artinya adalah: sesuatu yang lebih mutakhir, berbeda dengan yang lama atau hanya merupakan reproduksi atau bentuk baru dari dari yang lama. Kata “baru” dalam arti NEOS ini menunjuk pada sesuatu yang dapat dikerjakan atau dihasilkan oleh manusia. Misalnya; sepatu baru, baju baru, tas baru, HP baru, dll.
- Kainos artinya adalah: sama sekali baru, bukan perbaikan dari yang lama, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya, sesuatu yang secara kualitatif berbeda. Kata “baru” dalam arti KAINOS ini hanya dapat dikerjakan atau dihasilkan oleh Allah saja, tidak oleh manusia.
- Kata, “baru” yang dipergunakan dalam 2 Korintus 5;17 ini adalah KAINOS bukan NEOS. Artinya, ciptaan baru yang dimaksud oleh Paulus ini adalah karya Tuhan bukan hasil pekerjaan manusia. Secara fisik memang kita masih sama sebagai manusia terdiri dari darah dan daging tetapi di dalam diri kita ada yang baru.
- Mengapa disebut baru? Karena setelah di dalam Kristus manusia baru itu hidup berdasarkan nilai – nilai Kristus bukan nilai – nilai manusia yang dipengaruhi oleh dosa sehingga dengan demikian kita dapat hidup untuk kemuliaan Allah. Kunci untuk mengalami ini adalah DI DALAM KRISTUS (Lih, Gal 5;22-23. Ef 4;17-32).
Diciptakan dalam rupa dan gambar Allah
- Kitab Kej 1;27 mencatat bahwa sebagai manusia yang utuh, kita diciptakan dalam rupa dan gambar Allah. Yang dimaksud dengan rupa dan gambar Allah tentu tidak hanya berbicara tentang unsur – unsur rohani yang terdapat dalam diri kita yakni roh kita tetapi juga dimensi emosi, intelektual dan juga sosial.
- Mengingat manusia diciptakan dalam rupa dan gambar Allah, maka mengabaikan salah satu aspek yang membentuk kita sebagai pria dan wanita ciptaan Allah pasti menghasilkan konsekuensi yang merusak, yakni merusak hubungan kita dengan Allah – dengan sesama – dan juga dengan diri sendiri.
- Contoh: Jika kita bertemu dengan seseorang yang cacat mental atau cacat fisik, maka kekurangan mental atau fisiknya pasti akan terlihat. Sementara orang – orang akan bermain ditempat yang ramai sedangkan seorang anak yang autis akan berdiri sendirian selama berjam – jam tanpa berinteraksi dengan anak lainnya – akan sangat mencolok.
- Walau kurangnya perkembangan emosi (ketidakdewasaan emosi) tidak langsung terlihat ketika kita baru pertama sekali bertemu dengan seseorang. Tetapi seiring berjalannya waktu, ketika kita sudah lama mengenal dia, kenyataan tersebut akan terlihat jelas dan akan menimbulkan masalah dalam banyak hal.
- Oleh sebab itu spiritualitas Kristen (kedewasaan rohani) tanpa diintegrasikan dengan emosi yang sehat bisa mematikan – bagi diri sendiri – hubungan kita dengan Tuhan Allah – begitu pula dengan sesama (orang – orang disekitar kita).
Orang yang meninggalkan gereja
- Alan Jamieson dalam laporan penelitiannya menyampaikan beberapa alasan mengapa jumlah orang – orang yang meninggalkan gereja semakin lama semakin besar jumlahnya, yakni:
- Spiritualitas yang diajarkan dalam gereja tidak menghasilkan perubahan hidup dalam diri mereka maupun orang lain.
- Kelompok ini adalah orang percaya yang tidak lagi pergi ke gereja. Walau mereka telah membuat komitmen tulus kepada Kristus tetapi kemudian secara perlahan menyadari bahwa spiritualitas yang ada dalam gereja tidak menghasilkan perubahan hidup sebagaimana yang Kristus inginkan.
- Apa yang salah? Mereka adalah para pengikut kristus yang tulus tetapi mempunyai pergumulan yang sama seperti kebanyakan orang yang tidak ber-Tuhan pada umumnya: Pernikahan, perceraian, persahabatan, menjadi orang tua, membujang, kecanduan, seksualitas, kekuatiran, keinginan untuk diterima, perasaan gagal, dll.
2. Frustrasi dan kecewa
- Alasan lain mengapa orang tidak ke gereja, atau tidak aktif bergereja adalah frustrasi dan kecewa. Setelah bertahun – tahun berkomitmen kepada Kristus, mereka menyadari bahwa apa yang diajarkan oleh Iman kristiani tidak cocok dengan pengalaman hidup mereka.
- Akibatnya mereka menyerah dengan alasan demi anak – anak dan keluarga mereka, tidak punya pilihan lain, tetap di gereja tetapi pasif, tidak bisa menunjukkan masalah yang tepat, tetapi mereka tau ada yang tidak beres, ada ketidaknyamanan dalam jiwa.
- Bd: Matius 11;30.
3. Lelah menghadapi orang Kristen.
- Kelompok ini adalah mereka yang menyaksikan orang – orang yang sedang terperangkap dalam kerohanian dan kelelahan dalam menghadapi mereka karena seolah – olah menemukan jalan buntu.
- Meskipun mereka adalah orang – orang yang memiliki pengetahuan Alkitab, terlibat dalam gereja, sangat bersemangat namun mereka memiliki sikap pemarah, memaksakan kehendak, sangat dogmatis, suka membela diri, sombong dan terlalu sibuk untuk mengasihi Yesus yang mereka sembah.
Memiliki tingkat rohani yang baik namun tidak disertai perkembangan emosi
- Mencermati penelitian diatas maka dapat disampaikan bahwa banyak umat Tuhan yang terperangkap dalam tingkat kerohanian yang baik namun tidak disertai dengan perkembangan emosi yang dewasa atau lebih tepatnya kehidupan spiritual yang mereka jalani tidak mengubah kehidupan batiniah mereka.
- Kenyataannya; masih ada luka, pola hidup seperti orang berdosa, hal – hal buruk sering muncul dalam rumah tangga, pertengkaran, konflik, kemunduran, pencobaan, dan lain sebagainya.
- Walau sudah puluhan tahun menjadi Kristen tetapi jika kita terlalu sibuk untuk introspeksi emosi maka kita akan asik dengan pekerjaan Tuhan tapi tanpa menyadari betapa dangkalnya pengaruh Yesus dalam diri kita. Seolah – olah kehidupan emosi kita terkubur sangat dalam sehingga tidak tersentuh oleh kuasa Allah yang mengubahkan.
- Saat krisis besar ini terus dibiarkan terjadi maka tidak heran jika kita tidak pernah mengalami kebenaran radikal yang mengubah hidup; baik hidup pelayanan, pernikahan maupun gereja yang kita layani. Demikian sebaliknya.
- Bd: Seperti gunung es, semua model spiritualitas masa kini hanya menjamah 90% dari lapisan permukaan. Masalahnya adalah ada bagian besar yang tetap tidak terjamah oleh Yesus Kristus sampai adanya keterlibatan yang serius dalam menangani emosi kita.


