Pendahuluan
- Perhatikanlah ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay;9 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu.
- Kalimat, “Demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu” menjelaskan: Betapa kecilnya (tidak sempurnanya) kehendak/ rancangan manusia jika dibandingkan dengan kehendak dan rancangan Allah. Bahkan nabi Yesaya mengambarkan perbedaan tersebut seperti tingginya langit dari bumi.
- Menyadari betapa kecilnya/ tidak sempurnanya kehendak manusia jika dibandingkan dengan kehendak Allah-lah, sehingga sering sekali Ia tidak mewujudkan apa yang merupakan rancangan, kehendak serta maksud – maksud kita. Sebaliknya, Ia berkehendak lain atas apa yang merupakan doa, keinginan dan harapan – harapan kita.
- Pertanyannya ialah, mengapa Allah sering sekali berkehandak lain atas apa yang kita doakan – rancangkan – inginankan? Apa alasannya? Apakah karena kita kurang beriman, tidak layak, atau karena Allah ingin agar kita tetap terpuruk?
- Sedikitnya ada tiga alasan mengapa Allah sering sekali berkehendak lain atas apa yang merupakan doa, harapan serta keinginan – keinginan kita. Adapun ketiga hal tersebut antara lain adalah:
- Karena Allah ingin menyelamatkan hidup kita (Yes 55;9).
- Alkitab menjelaskan bahwa perbedaan antara kehendak Allah dan kehendak manusia adalah: Seperti tingginya langit dari bumi, demikianah tingginya jalan Tuhan dari jalan kita dan rancangan Tuhan dari rancangan kita. Artinya, sangat jauh berbeda, sangat bertolak belakang, bahkan sangat tidak sebanding.
- Menyadari betapa sangat kecilnya/ tidak sempurnanya kehendak manusia jika dibandingkan dengan kehendak Allah-lah, maka prioritas terbesar kita seharusnya adalah menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, sehingga kita terhindar dari hal – hal yang dapat membahayakan kehidupan kita di masa depan.
- Tuhan adalah Tuhan yang melihat gambaran keseluruhan dari kehidupan kita. Dia mengetahui kemana arah/tujuan setiap jalan yang ada, mengerti setiap jalan yang tergolong sebagai jalan buntu, mengenali jalan – jalan pintas namun berbahaya, bahkan Ia mengetahui jalan mana yang melingkar sehingga kita akan berputar disitu – situ saja.
- Sedangkan manusia tidak dapat melihat apa yang Tuhan lihat, oleh sebab itu bagian kita sebagai orang – orang beriman adalah menjaga cara pandang kita agar tetap benar dan yakin bahwa Tuhan selalu memiliki keinginan yang terbaik atas hidup kita.
- Bd: Sering sekali, alasan mengapa Tuhan tidak membuka pintu atas keinginan/doa/rencana kita adalah karena Ia ingin menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk yang sedang menanti didepan. Bukan karena Dia ingin membatasi/ iman kita terlalu kecil/ belum waktunya/ belum siap.
- Bd: Seorang pria yang bersedia meninggalkan kota kelahirannya dan juga pekerjaan yang telah dirintisnya selama 25 tahun demi mendapatkan pekerjaan yang besar di kota yang berbeda…
- Supaya kita mengalami rencana Allah yang sesungguhnya (Yes 55;8).
- Ayat Alkitab memberitahukan bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita, dan jalan Tuhan bukanlah jalan kita. Bahkan ay;9 menegaskan bahwa rancangan Tuhan atas hidup kita jauh lebih besar/ lebih tinggi dari rancangan terbaik kita sekalipun.
- Menyadari akan kebenaran ini, maka prioritas terbesar kita seharusnya adalah menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, dan rancangan kita dengan rancangan Allah. (Bd: Tuhan hanya akan menggenapi apa yang merupakan rancanganNya, Yes 55;10-11).
- Jika Tuhan mewujudkan semua hal yang kita rancang/kehendaki, maka hal itu dapat menjauhkan kita dari rencana dan kehendak Allah yang terbaik atas hidup kita. Itulah sebabnya mengapa Tuhan sering sekali harus menutup pintu – pintu tertentu, yakni supaya kita dapat mengalami penggenapan rencana Allah yang sesungguhnya.
- Bd: Begitu sering kita berkata bahwa kita percaya pada janji dan rencana Tuhan, tetapi kebenarannya adalah kita bahagia hanya jika Allah melakukan apa yang kita mau/ kehendaki, dan jika itu sesuai dengan jadwal kita.
- Sikap yang benar seharusnya adalah: kita meletakkan mimpi dan kehendak kita di altar Tuhan, dan berkata: Tuhan, jika ini adalah kehendakMu…, jika ini yang terbaik dariMu…, Engkau akan menolongku mendapatkannya. Namun jika tidak, aku tidak akan memaksakan kehendakku (Lih Mat 26;39).
- Jika hal ini terjadi aku sungguh berterima kasih, tetapi jika hal ini tidak terjadi, aku tidak akan putus asa. Aku puas dengan kehendakMu.
- Sebagai ujian kepercayaan (Yes 55;8).
- Alasan lain mengapa Allah sering sekali berkehendak lain atas apa yang merupakan rancangan, keinginan serta doa – doa kita adalah karena Ia ingin melihat seperti apa kita mempercayai Allah sebagai pemegang kendali atas segala sesuatu; apakah kita menjadi pahit hati, kecewa atau mengasihani diri sendiri?
- Ketika kita berhasil menghadapi ujian kepercayaan, maka Tuhan akan melepaskan apa yang Ia miliki untuk masa depan kita. Ia akan membawa Kembali apa yang kita doakan dan dambakan, dsb.
- Bd: Ujian kepercayaan yang diberikan kepada Abraham (Kej 22).
Nyanyian penyembahan
- Tak sedetikpun, Kau tinggalkan ku.. (Betapa ku merindukan, Engkau ya Tuhanku).


