KETIKA TUHAN BERKEHENDAK LAIN (YES 55;8-9)

dove, hand, trust-3426159.jpg

Pendahuluan

  • Perhatikanlah ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay;9 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu. 
  • Kalimat, “Demikianlah tingginya jalanKu dari jalanmu dan rancanganKu dari rancanganmu” menjelaskan: Betapa kecilnya (tidak sempurnanya) kehendak/ rancangan manusia jika dibandingkan dengan kehendak dan rancangan Allah. Bahkan nabi Yesaya mengambarkan perbedaan tersebut seperti tingginya langit dari bumi.
  • Menyadari betapa kecilnya/ tidak sempurnanya kehendak manusia jika dibandingkan dengan kehendak Allah-lah, sehingga sering sekali Ia tidak mewujudkan apa yang merupakan rancangan, kehendak serta maksud – maksud kita. Sebaliknya, Ia berkehendak lain atas apa yang merupakan doa, keinginan dan harapan – harapan kita.
  • Pertanyannya ialah, mengapa Allah sering sekali berkehandak lain atas apa yang kita doakan – rancangkan – inginankan? Apa alasannya? Apakah karena kita kurang beriman, tidak layak, atau karena Allah ingin agar kita tetap terpuruk?
  • Sedikitnya ada tiga alasan mengapa Allah sering sekali berkehendak lain atas apa yang merupakan doa, harapan serta keinginan – keinginan kita. Adapun ketiga hal tersebut antara lain adalah:   
  1. Karena Allah ingin menyelamatkan hidup kita (Yes 55;9).
    • Alkitab menjelaskan bahwa perbedaan antara kehendak Allah dan kehendak manusia adalah: Seperti tingginya langit dari bumi, demikianah tingginya jalan  Tuhan dari jalan kita dan rancangan Tuhan dari rancangan kita. Artinya, sangat jauh berbeda, sangat bertolak belakang, bahkan sangat tidak sebanding.
    • Menyadari betapa sangat kecilnya/ tidak sempurnanya kehendak manusia jika dibandingkan dengan kehendak Allah-lah, maka prioritas terbesar kita seharusnya adalah menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, sehingga kita terhindar dari hal – hal yang dapat membahayakan kehidupan kita di masa depan.
    • Tuhan adalah Tuhan yang melihat gambaran keseluruhan dari kehidupan kita. Dia mengetahui kemana arah/tujuan setiap jalan yang ada, mengerti setiap jalan yang tergolong sebagai jalan buntu, mengenali jalan – jalan pintas namun berbahaya, bahkan Ia mengetahui jalan mana yang melingkar sehingga kita akan berputar disitu – situ saja.
    • Sedangkan manusia tidak dapat melihat apa yang Tuhan lihat, oleh sebab itu bagian kita sebagai orang – orang beriman adalah menjaga cara pandang kita agar tetap benar dan yakin bahwa Tuhan selalu memiliki keinginan yang terbaik atas hidup kita.
    • Bd: Sering sekali, alasan mengapa Tuhan tidak membuka pintu atas keinginan/doa/rencana kita adalah karena Ia ingin menyelamatkan kita dari sesuatu yang buruk yang sedang menanti didepan. Bukan karena Dia ingin membatasi/ iman kita terlalu kecil/ belum waktunya/ belum siap.
    • Bd: Seorang pria yang bersedia meninggalkan kota kelahirannya dan juga pekerjaan yang telah dirintisnya selama 25 tahun demi mendapatkan pekerjaan yang besar di kota yang berbeda…
  2. Supaya kita mengalami rencana Allah yang sesungguhnya (Yes 55;8). 
    • Ayat Alkitab memberitahukan bahwa rancangan Tuhan bukanlah rancangan kita, dan jalan Tuhan bukanlah jalan kita. Bahkan ay;9 menegaskan bahwa rancangan Tuhan atas hidup kita jauh lebih besar/ lebih tinggi dari rancangan terbaik kita sekalipun.
    • Menyadari akan kebenaran ini, maka prioritas terbesar kita seharusnya adalah menyelaraskan kehendak kita dengan kehendak Allah, dan rancangan kita dengan rancangan Allah. (Bd: Tuhan hanya akan menggenapi apa yang merupakan rancanganNya, Yes 55;10-11).
    • Jika Tuhan mewujudkan semua hal yang kita rancang/kehendaki, maka hal itu dapat menjauhkan kita dari rencana dan kehendak Allah yang terbaik atas hidup kita. Itulah sebabnya mengapa Tuhan sering sekali harus menutup pintu – pintu tertentu, yakni supaya kita dapat mengalami penggenapan rencana Allah yang sesungguhnya.
    • Bd: Begitu sering kita berkata bahwa kita percaya pada janji dan rencana Tuhan, tetapi kebenarannya adalah kita bahagia hanya jika Allah melakukan apa yang kita mau/ kehendaki, dan jika itu sesuai dengan jadwal kita.
      • Sikap yang benar seharusnya adalah: kita meletakkan mimpi dan kehendak kita di altar Tuhan, dan berkata: Tuhan, jika ini adalah kehendakMu…, jika ini yang terbaik dariMu…, Engkau akan menolongku mendapatkannya. Namun jika tidak, aku tidak akan memaksakan kehendakku (Lih Mat 26;39).
      • Jika hal ini terjadi aku sungguh berterima kasih, tetapi jika hal ini tidak terjadi, aku tidak akan putus asa. Aku puas dengan kehendakMu.
  3. Sebagai ujian kepercayaan (Yes 55;8).
    • Alasan lain mengapa Allah sering sekali berkehendak lain atas apa yang merupakan rancangan, keinginan serta doa – doa kita adalah karena Ia ingin melihat seperti apa kita mempercayai Allah sebagai pemegang kendali atas segala sesuatu; apakah kita menjadi pahit hati, kecewa atau mengasihani diri sendiri?
    • Ketika kita berhasil menghadapi ujian kepercayaan, maka Tuhan akan melepaskan apa yang Ia miliki untuk masa depan kita. Ia akan membawa Kembali apa yang kita doakan dan dambakan, dsb.
    • Bd: Ujian kepercayaan yang diberikan kepada Abraham (Kej 22).

 Nyanyian penyembahan

  • Tak sedetikpun, Kau tinggalkan ku.. (Betapa ku merindukan, Engkau ya Tuhanku).

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *