Pendahuluan
- Setiap keluarga/rumah tangga tentu mempunyai masalah atau pernah menghadapi masa-masa krisis dalam hubungan, yang mana hal tersebut mengakibatkan timbulnya ketegangan dan perselisihan pendapat antara sesama pasangan maupun orang tua dan anak.
- Tidak dapat dipungkiri bahwa ada banyak perbuatan salah lainnya yang dapat menimbulkan kesenjangan antara suami dan istri. Walaupun suami-istri itu terlihat tetap setia terhadap pasangannya, tidak tertutup kemungkinan kalau mereka adalah sering saling melukai antara satu sama lain, baik melalui sikap, perbuatan maupun kata-kata yang pedas.
- Mengapa demikian? Karena kita adalah pasangan yang tidak sempurna. Kita semua mempunyai kecendrungan untuk memberi respons terhadap apa yang salah/yang diperbuat oleh pasangan kita, dengan cara yang tidak efektif bahkan kadang-kadang berbahaya dan merusak (egois, sewenang-wenang, balas dendam, dll).
Bagaimana menangani ketidaksempurnaan dalam pernikahan?
- Jadikan pengampunan sebagai gaya hidup (Mat 18;21-22).
- Kalau kita memperhatikan gambaran kepribadian Petrus maka kita akan menemukan bahwa, ia adalah seorang yang gamblang (berbicara apa adanya), cendrung membual, bahkan kadang kala suka ribut.
- Pada suatu kesempatan, Petrus hendak menunjukkan kepada Tuhan bahwa Petrus adalah seorang yang sangat paham tentang pengampunan, sehingga dengan angkuh ia berkata: Kalau ada yang berbuat salah kepada saya, maka saya mengampuni orang itu 7x atas kesalahan yang sama. Apakah itu tidak cukup?
- Pada jaman itu, para rabi menentukan agar orang-orang mengampuni sesamanya 3x untuk kesalahan yang sama. Jadi, jika kita sudah mengampuni seseorang sebanyak 3x untuk kesalahan yang sama maka kita sudah memenuhi kewajiban kita dengan baik.
- Dengan berkata: Sampai berapa kali aku harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku? Sampai tujuh kali? Dengan mengatakan demikian, Petrus mau berkata bahwa, 7x itu sudah lebih dari dua kali lipat daripada yang resmi, tidakkah itu cukup?
- Dengan berkata demikian, Petrus mengharapkan kalau Yesus akan mengatakan, “Petrus, engkau memang orang yang baik dan murah hati! Engkau jauh lebih paham soal pengmpunan jika dibandingkan dengan yang lain”. Tetapi kenyataannya Yesus tidak berkata demikian, bahkan Ia berkata: tidak cukup hanya 7x tapi 70×7 kali (490x).
- Dengan berkata bahwa tidak cukup satu, dua atau tujuh kali, Yesus mau mengatakan bahwa: Pengampunan itu harus menjadi suatu gaya hidup atau suatu kebiasaan/perbuatan yang alamiah. (Bd: Jika kita sudah melakukannya hingga 100-200x maka itu akan menjadi kebiasaan).
Pengampunan tidak hanya terkait dengan masalah besar
- Banyak orang berpikir bahwa pengampunan itu hanya berkaitan dengan masalah besar, seperti; kekerasan dalam rumah tangga, penyelewengan, pelanggaran moral dan perceraian, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Pengampunan harus dimulai dari hal-hal kecil, sebab jika tidak maka ia dapat membengkak menjadi besar.
- Raja Salomo mengerti akan bahaya dari “hal-hal” kecil sehingga ia berkata: Tangkaplah bagi kami rubah-rubah itu, rubah-rubah yang kecil, yang merusak kebun-kebun anggur kami yang sedang berbunga! (Kid 2;15).
- Raja Salomo tidak hanya mengkhawatirkan angin atau hujan yang besar yang dapat merusakkan kebun anggurnya, tetapi juga rubah-rubah kecil yang dapat merusak sedikit demi sedikit. Demikianlah dengan sikap saling melukai dan kata-kata pedas, ia dapat merusak pernikahan yang sehat.
- Bd: Pernikahan pecah hanya karena cipratan odol dicermin. (Pernikahan tidak hanya berbicara mengenai hal besar tetapi banyak hal kecil)
- Bd: janji pernikahan harus disempurnakan. Kita berjanji untuk mengasihi, menghormati dan mentaati tapi belum untuk saling mengampuni.
- Berhenti menuntut kesempurnaan dari pasangan (I Kor 13;4-7).
- Perhatikanlah ungkapan kalimat yang dicatat dalam ay;7, yakni kalimat yang berbunyi: Ia menutupi segala sesuatu. Kata “ia menutupi segala sesuatu” adalah menunjuk pada, bahwa manusia mempunyai kelemahan/kekurangan. Ia adalah terbatas dan tidak sempurna.
- Oleh karena ia adalah terbatas dan tidak sempurna, maka adalah tidak adil jika kita menuntut pasangan kita menjadi sempurna. Yang perlu kita lakukan ialah, menutupi segala sesuatu yang berkaitan dengan kekurangan dan kelemahannya.
- Dengan kata lain, ayat Alkitab ini mau mengajarkan kepada kita supaya kita belajar mengabaikan beberapa hal tentang pasangan/perasaan kita. (Bd, para orang tua berkata “ waktu pacaran buka mata lebar-lebar, setelah menikah tutup mata rapat-rapat).
Individu yang unik
- Tuhan menciptakan kita sebagai pribadi yang berbeda antara satu dengan yang lain (unik). Berbeda dalam kepribadian, tempramen, cara bekerja, meresponi dan menyikapi suatu masalah.
- Bd: Ada yang rapi, terampil, disiplin, rajin, susah tidur, pendiam, malas makan, mudah marah, dsb.
- Oleh karena kita berbeda dalam banyak hal, seharusnya kita tidak boleh merasa terkejut atau tersinggung jika kadang-kadang kita saling menjengkelkan, apalagi jika kita berada disekitar orang tersebut cukup lama, kita akan berkesempatan untuk saling menjengkelkan/menyinggung.
- Oleh karena itu, yang harus kita lakukan adalah; berhenti untuk saling menuntut kesempurnaan dari pasangan kita, serta belajar untuk memberi ruang bagi kekurangan dan kelemahan pasangan kita.

