Pendahuluan
- Pada minggu pertama yang lalu kita telah belajar dari Efesus 4;17-25 yang mengajarkan kepada kita sekalian tentang bagaimana Allah menginginkan agar setiap kita memiliki/ memperlihatkan sikap atau cara pandang yang baru (yang diperbaharui) dari sehari kesehari.
- Pada minggu kedua kemaren, kisah perjalanan seorang yang bernama Daud telah menginspirasi kita sekalian perihal pentingnya atau hebatnya manfaat dari memiliki cara pandang yang telah dibaharui, yakni:
- Daud tiba – tiba muncul kepermukaan dan namanya mencuat dengan sangat luar biasa sesaat setelah ia berhasil mengalahkan Goliath, menjadi seorang pahlawan yang dielu – elukan di bangsa Israel, raja yang berhasil mempersatukan bangsa Israel, dan sebagai symbol kemakmuran bagi Israel (I,II Samuel, Mzm).
- Pada minggu ketiga yang lalu kita belajar tentang bagaimana mengubah cara pandang menjadi baru (baik) dari tulisan rasul Paulus kepada jemaat di Efesus (Ef 4;17-24), yakni:
- Memprogram ulang pikiran kita (Ef 4;23).
- Beroperasi berdasarkan identitas yang baru (II Kor 5;17).
Menangani cara pandang yang tidak normal
- Pada hari ini kita akan belajar mengenai bagaimana menangani cara pandang yang tidak normal, yakni; Cara pandang yang negative, buruk, penuh kebingungan dan tidak sesuai dengan Firman Tuhan/ belum diperbaharui.
- Adapun beberapa cara yang diajarkan oleh Alkitab dalam menangani cara pandang dimaksud, antara lain adalah:
- Periksa keadaan (isi) pikiran kita (I Korintus 2;16).
- Perhatikan kalimat akhir yang dicatat dalam ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Tetapi kami memiliki pikiran Kristus.
- Kata, “kami memiliki pikiran Kristus” menjelaskan kepada kita bagaimana rasul Paulus dan timnya mengerti atau mengetahui secara sadar seperti apa kehidupan/ keadaan berpikir mereka/ hal – hal yang mengisi pikiran mereka. Yaitu: Pikiran yang telah dibaharui, normal, rohani, sesuai Firman, dst.
- Setiap orang percaya harus mengerti bahwa kita dapat berbuat sesuatu terhadap kehidupan/ keadaan berpikir kita. Kita dapat menaruh pikiran yang normal/ tidak normal kedalamnya. Oleh karena itu:
- Kita seharusnya melakukan pendataan secara teratur pada pemikiran kita serta bertanya, “apa sebenarnya yang telah kupikirkan?”
- Perlu meluangkan waktu untuk memeriksa pemikiran kita.
- Bd: Biasanya iblis menipu manusia untuk berpikir bahwa sumber sengsara/ kesusahan mereka adalah sesuatu yang lain dari yang sebenarnya, yakni: Keadaan sekitar, orang lain, dst. Padahal sengsara kita itu akibat dari apa terjadi dipikiran kita.
- Bd: Tanggapan Daud terhadap sengsara dan perasaan sedihnya adalah bukan merenungkan masalahnya melainkan menentang masalah itu dengan memilih untuk mengingat pekerjaan Allah dan perbuatan tanganNya yang hebat dimasa lalu (Mzm 143;4-5).
- Jangan sekali – kali lupa akan kebenaran ini: Pikiran kita berperan penting dalam kemenangan kita (Rom 12;2). Artinya: Jika kita ingin melihat kehendak Allah yang baik dan yang sempurna dinyatakan dalam hidup kita – kuncinya baharui pikiran.
Pikiran tidak normal
- Dalam banyak kasus, sering kita mendapati bahwa sebahagian besar keadaan berpikir kita sebagai orang percaya adalah tidak normal bahkan jauh dari normal (abnormal).
- Misalnya: Dalam suatu keadaan, pikiran kita bisa begitu tenang dan sangat tentram, tapi pada suatu saat bisa berubah menjadi gelisah dan sangat cemas. Dalam suatu keadaan begitu mudah bagi kita untuk mengambil suatu keputusan, dan kita merasa sangat yakin dengan apa yang kita putuskan itu, tapi suatu saat kemudian kita bisa mendapati pikiran kita dalam keadaan bingung, cemas serta kuatir mengenai apa yang tadinya sudah tampak jelas dan sangat pasti?
- Oleh karena kehidupan berpikir kita dapat berada dalam berbagai keadaan yang berbeda pada suatu saat. Wajarlah jika kita bertanya, adakah keadaan berpikir demikian normal/ rohani/ sesuai dengan Firman Tuhan?
- Bd: Alkitab menegaskan bahwa pikiran yang suka mencela, menghakimi, mencurigai, cemas atau kuatir harus dianggap abnormal bagi orang percaya, walau sebahagian besar orang menganggap itu adalah normal, tetapi tidak bagi orang percaya (bd: Flp 4;8-9. Rom 12;2. 1 Kor 2;11).
- Jangan ketagihan pada pikiran yang berantakan (Rom 12;2).
- Seperti yang pernah saya ajarkan bahwa, pikiran kita tidak lahir baru bersamaan dengan pengalaman kelahiran baru yang terjadi pada kita saat menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruslamat kita. Sebaliknya, pikiran kita harus diperbaharui terus – menerus dan dari sehari kesehari.
- Berbicara mengenai pembaharuan pikiran, ia adalah sebuah proses yang membutuhkan waktu. Oleh sebab itu kita tidak perlu merasa gagal/ terpuruk jika suatu saat kita mendapati pikiran kita dalam keadaan abnormal. Orang bijak berkata: Menyadari masalah adalah Langkah awal menuju pemulihan.
- Yang perlu kita perhatikan adalah: Saat pikiran kita berada dalam keadaan berantakan, keliru – tidak sebagaimana seharusnya, berusahalah segera meruntuhkannya/ jangan biarkan itu berlangsung lama sehingga ia ketagihan/ datang kembali.
- Sadarilah bahwa iblis dengan gencar menentang pembaharuan pikiran. Ia ingin agar pikiran kita mengembara kesegenap penjuru, tidak focus pada pekerjaan yang sedang kita lakukan, sedih, bingung, ketakutan dan tanpa arah. Tetapi Firman Allah berkata, kita mempunyai pikiran Kristus (I Kor 2;16).
- Bd: Bagaimana kira – kira pikiran Kristus selama Ia hidup dimuka bumi ini sebagai manusia biasa? Bd: I Pet 5;7.
Nyanyian penyembahan
- Kusembah Kau Allahku


