Pendahuluan
- Ada dua hal yang merupakan tujuan penulisan Roma 12:1-2 ini, pertama, agar seluruh kehidupan kita menjadi ibadah yang sejati di hadapan Allah (ay;1). Kedua, hidup kita seturut/ sesuai dengan apa yang di kehendaki Allah (ay;2).
- Ibadah yang sejati itu melibatkan hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan sebagai korban persembahan, sehingga Kristus akan terlihat berharga sebagaimana Ia adanya. Sedangkan hidup seturut dengan kehendak Allah itu melibatkan perubahan perilaku. Bukan hanya eksternal tapi juga internal; cara berpikir, bersikap, merasa, dst. Dengan kata lain tidak serupa dengan dunia.
- Dari kedua hal yang merupakan tujuan penulisan kitab Roma 12;1-2 ini, saya ingin mengajak kita untk berfokus kepada bagian yang kedua, yakni: agar hidup kita seturut/ sesuai dengan apa yang di kehendaki Allah (ay;2). Hal ini sesuai dengan pembahasan kita sepanjang bulan April ini.
Dua kehendak Allah
- Berdasarkan penjelasan Alkitab, ada dua arti dari kata KEHENDAK ALLAH. Kedua arti ini masing – masing sangat jelas di gambarkan dalam Alkitab dan juga sangat jauh berbeda. Jika umat Tuhan tidak mengetahui perbedaan antara kedua arti dari kata yang sama ini maka ini dapat menimbulkan kebingungan.
- Agar tidak menimbulkan kebingunan, baiklah kita mempelajari apa yang merupakan arti dari kata KEHENDAK ALLAH itu, dan kehendak Allah yang dibicarakan dalam kitab Roma ini sendiri adalah kehendak Allah dalam arti yang mana?
1. Kehendak Allah yang disebut sebagai ketetapan Allah (Mat 26;39)
- Jelang penagkapan Yesus di taman Getsemani, Dia berdoa: “Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” (Mat 26;39).
- Kata, “yang Engkau kehendaki” yang disampaikan oleh Yesus melalui doaNya ini merujuk kepada kehendak Allah yang disebut sebagai ketetapan Allah sebagai penguasa yang berdaulat atas semua yang sudah-sedang-dan akan terjadi, termasuk dalam jam – jam kehidupan Yesus Kristus (Lih, Kis 4;27-28. Yes 53;10).
- Bd: Adalah “kehendak Allah” agar Yesus mati di kayu salib. Ini adalah rencana-Nya – ketetapan-Nya – ketentuanNya. Tidak ada seorangpun yang dapat mengubahnya termasuk Yesus. Yesus harus tunduk serta berkata, “Ini adalah permohonan-Ku, tetapi semua kembali kepada kehendakMu yang berdaulat.
- Bd: Jangan salah, Herodes, Pilatus, para serdadu, para pemimpin Yahudi – mereka semua adalah orang berdosa yang telah ditentukan untuk menggenapi kehendak Allah agar Anak-Nya disalibkan (Yesaya 53:10. Bd, 1 Pet 3;17).
- Bd: Alkitab memberikan suatu pernyataan ringkas yang meyakinkan kita bahwa providensia Allah atas alam semesta meluas hingga begitu detail dan mencakup keputusan manusia (Efesus 1:11. Matius 10:29. Amsal 16:33 ; 16:1 ; 21:1. Bd, Dan 4; 35).
2. Kehendak Allah yang disebut sebagai perintah Allah
- Arti lain dari “kehendak Allah” yang disebut dalam Alkitab adalah apa yang disebut sebagai perintah, yakni apa yang Ia perintahkan pada kita untuk kita lakukan. Disinilah kita sering gagal dan sering tidak taat (Rom 12;2. Mat 7;21. I Tes 4;3 ; 5;18. Bd, I Yoh 2;17).
- Belajar dari perikop-perikop yang kita baca ini serta banyak perikop lainnya di Alkitab maka kita menemukan bahwa ada dua cara untuk membicarakan kehendak Allah. Dan keduanya benar, penting untuk dipahami dan harus dipercayai.
- Perbedaan dari kedua kehendak ini adalah: kehendak yang disebut sebagai ketetapan Allah pasti terjadi, tidak peduli kita mempercayainya atau tidak. Sedangkan kehendak Allah yang disebut sebagai perintah Allah tidak dapat terjadi apabila dilanggar.
Melakukan koreksi arah
- Pada bagian awal pembacaan Firman Tuhan telah disampaikan agar setiap kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup (Rom 12;1). Pokok permasalahan yang sering terjadi dengan para persembahan yang hidup adalah mereka terus – menerus merangkak keluar dari mezbah korban persembahan.
- Jam ini mereka melakukan komitmen kepada Tuhan untuk berpegang teguh pada janji Firman Tuhan tetapi dalam 10 atau 15 menit kemudian mereka keluar dari komitmen mereka; mungkin karena macat, diperlakukan dengan kasar, di abaikan, dst.
- Alasan inilah kita perlu melakukan koreksi arah secara terus – menerus, sebab didalam diri kita ada daging yang harus ditundukkan.
- Bd: Kesaksian Jim Erwin seorang astronot asal Amerika Serikat.
Nyanyian dan perjamuan kudus
- Ini aku Tuhan bentuklah hidupku
- Seringku tak mengerti (JejakMu Tuhan)
- Ku rindu setiap waktu hidupi kebenaranMu
- Inilah rinduku kepadaMu – Kusembah Kau Tuhan ku mengangkat tanganku


