PEMBEDA ANTARA IMAN DAN PERASAAN (LUK 6;43-45).

Ruben Yonatan

Pendahuluan

  • Tiga minggu berturut – turut kita telah belajar  tentang berani mendeklarasikan atau berani menyatakan. Hal ini  kita pelajari dari kitab  Maz 91;1-2.  
  • Pasal ini memberitahukan bahwa umat Tuhan tidak boleh hanya berhenti pada tahap memikirkan/mempercayai Firman Tuhan saja sebaliknya, kita harus berani menyatakan/mengumandangkan apa yang kita percayai.
  • Alasan mengapa Alkitab mendorong umat Tuhan harus berani menyatakan  atau mendeklarasikan apa yang dipercayai/Imani adalah:  
  1. Karena prinsip percaya yang benar adalah  harus berani menyatakan apa yang dipikirkan, doakan dan percayai (Mzm 91;1-2 ; 116;10. 2 Kor 4;13).
  2. Karena apa yang dinyatakan itu yang akan datang (Mzm 91;3-4).
  3. Karena pernyataan mengubah keadaan  (Yeh 37;1-10)
  • Pada kesempatan ini saya akan mengajak kita sekalian untuk melihat alasan lain dari mengapa kita tidak boleh berhenti hanya pada  memikirkan/ mempercayai Firman Tuhan saja, yakni karena : 

Pernyataan adalah pembeda antara iman vs perasaan (dikendalikan Firman/perasaan)

  • Perhatikan bunyi kalimat yang dicatat dalam ay;45 ayat bacaan kita ini, yakni kalimat yang berbunyi: Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat  dari perbendaharaannya yang jahat.
  • Yang dimaksud dengan “mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik’ dan “mengeluarkan barang yang jahat  dari perbendaharaannya yang jahat” adalah: Bahwa pernyataan merupakan alat pembeda  yang membedakan antara orang yang benar – benar hidup dalam iman vs dikendalikan oleh perasaan.
  • Itu sebabnya, kalimat bagian akhir berkata: Karena yang diucapkan mulutnya meluap dari hati. Artinya, pernyataan – pernyataan yang kita ucapkanlah yang menjelaskan orang seperti apa otentiknya kita; apakah orang benar/beriman atau orang jahat/dipengaruhi oleh perasaan/keadaan yang tampak didepan mata.
  • Bd: dalam konteks ini, mulut berfungsi sebagai “katup pembuangan” bagi hati yang sudah penuh terisi. Apa yang keluar dari katup itu menunjukkan apa yang memenuhi hati kita.

Membedakan antara suara iman atau suara perasaan

  • Umat Tuhan perlu mengerti bagaimana membedakan antara suara iman dan suara perasaan, sebab kedua jenis suara ini masing – masing memiliki tuan dan mengerjakan hasil yang berbeda pula.
  • Suara perasaan bersumber dari masukan – masukan yang di informasikan oleh panca indera dan kesimpulan yang  diambil oleh pikiran. Sedangkan suara iman bersumber dari Firman Tuhan yang datang kepada kita (Rom 10;10).
  • Kedua suara ini sering sekali bertentangan namun walaupun demikian orang percaya harus memutuskan untuk tetap bersandar pada suara  iman bukan suara  perasaan/pikiran, yaitu melalui menyatakannya dengan mulut kita. Berkata – kata adalah cara wajar untuk menyatakan iman (2 Kor 4;13).
  • Bd: Abraham dan Sara (Roma 4;18-25).
  • Bd: Iman  yang tidak dinyatakan melalui ucapan ibarat bayi yang lahir tanpa suara alias mati.

Pernyataan benar menentukan penggenapan janji Tuhan yang besar

  • Salah satu thema besar kitab Ibrani adalah mengenai kedudukan Yesus Kristus sebagai Imam Besar. Hal tersebut berulang – ulang disampaikan oleh penulis kitab Ibrani ini, baik dalam 3;1 ; 4;14 ; 10;21-24.  
  • Dalam kedudukanNya sebagai Imam Besar, Yesus melayani sebagai wakil kita dihadapan Bapa. Ia membungkus kita dengan kebenaranNya, menaikkan doa bagi kita, menyampaikan kebutuhan kita  serta menjamin penggenapan akan janji Allah atas hidup kita.
  • Jika kita mempelajari bagian ayat Alkitab ini secara baik maka kita akan menemukan bahwa pernyataan – pernyataan kita sangat menentukan sejauh mana Yesus bebas menjalankan pelayananNya sebagai Imam Besar di sorga. Itu sebabnya kalimatnya berkata: “Yang kita akui” dan “berpegang teguh pada pengakuan iman.”
  • Artinya, setiap kali   kita mengucapkan pernyataan – pernyataan yang benar, maka kita akan didukung oleh seluruh otoritas Kristus sang Imam Besar kita. Sebaliknya, jika kita menyatakan keragu – raguan, maka kita tidak memberikan kesempatan kepada Kristus sebagai Imam Besar untuk melayani kita/berhentilah pelayanan itu.

Nyanyian dan Penyembahan

  • Hanya Kau Tuhan penolongku
  • YEsus Sanggup melakukan perkara besar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *