Apakah Uang Dapat Merusak Hubungan Suami Istri?

dollars, currency, money-499481.jpg

Pendahuluan

  • Salah satu penyebab terbesar terjadinya perceraian dalam pernikahan diberbagai negara adalah uang. Bahkan menurut berbagai sumber dan hasil laporan para konselor pernikahan, persoalan uang adalah sumber dari kebanyakan ketegangan dalam pernikahan, dan akhirnya merembes kebidang lain.
  • James Petterson dan Peter Kim dalam penelitiannya melaporkan bahwa: ada beberapa hal yang rela dilakukan oleh orang-orang demi memperoleh sejumlah uang sepuluh juta dolar, yakni:
  • Bersedia meninggalkan keluarga besarnya (25%), meninggalkan gerejanya (25%), menjadi pelacur selama seminggu (23%), pindah negara (16%), memberikan kesaksian palsu untuk membebaskan seorang pembunuh (10%), membunuh (7%), menyerahkan anaknya kepada orang lain (3%).

Masalahnya bukan pada uang, tapi pada sikap.

  • Lukas 12:15 berkata: Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan. Kata, “berjaga-jagalah dan waspadalah …” menunjuk  pada: bagaimana Allah menginginkan agar setiap kita terbebas dari sikap tamak, yakni: tamak akan harta, uang, kemewahan, dll. 
  • Belajar dari kebenaran ini maka dapatlah kita mengerti bahwa, masalah yang sebenarnya adalah bukan pada uang melainkan pada sikap kita terhadap uang serta bagaimana cara mereka menanganinya. Bukan pada seberapa besar jumlah uang yang kita miliki dan yang tidak kita miliki?
  • Bd: Yesus menjalani gaya hidup sederhana tapi Ia membawa dampak pada        sejarah manusia melebihi manusia manapun yang pernah hidup.
  • Bd: Pada era primitive, orang-orang mendapatakan kebutuhan dasar          sandang, pangan dan papan tanpa membutuhkan uang (menikah, membangun rumah  beratap jerami, membuat pakaian dari kulit binatang, dll).
  • Memang kita tidak hidup di era dimana masyarakat tidak menggunakan uang, melainkan sebaliknya; kita hidup di era industry modern, dimana masyarakatnya didorong untuk mengembangkan spesialisasi masing-masing.  Sehingga ada yang bisa membuat rumah/pakaian/makanan/dll, dan setiap kita menerima uang untuk pekerjaan yang kita lakukakan tersebut, dan bisa membeli apa saja…
  • Tetapi jika kita menemukan sudut pandang yang sehat tentang uang serta dapat menemukan cara yang tepat dalam mengelola uang, maka uang akan berhenti menjadi sebuah area konflik dalam pernikahan, sebaliknya; ia akan menjadi sebuah aset untuk mempermuliakan nama Tuhan dalam pernikahan.

Bagaimana sikap yang benar terhadap uang?

  1. Uang Adalah Berkat Allah
    • Banyak orang kristen berkata bahwa; mereka mengenal Allah dan  mereka mengakui bahwa Allah adalah sumber segala sesuatu, tapi sering sekali hidup mereka tidak mencerminkan pengertian akan kebenaran itu. Mereka berpikir bahwa uang adalah hasil kerja keras, keringat dan air mata mereka sendiri, bukan sebagai berkat Allah.
    • Ketika kita berpikir bahwa uang berasal dari hasil kerja keras, keringat dan air mata kita sendiri, maka kita akan memegangnya jauh lebih erat, dan akan menjadi terikat dengannya/didominasi olehnya, dst. 
    • Tetapi ketika kita melihat uang sebagai berkat Allah, meskipun kita bekerja dan mendapatkan gaji, kesadaran akan kebenaran itu akan mengubah peran yang dimainkan oleh uang dalam hidup kita. Uang tidak akan mengendalikan kita melainkan hanya sebagai sebuah sarana dalam hidup kita.
    • Bd: Sikap sang tuan terhadap bendaharanya yang tidak jujur (Luk 16:1-9).
    • : Abraham, Kejadian 12:1-3 ; 10-20.  20:1-18 Bd 13:8-11,14-18. 15:1.
    • Bd: Alasan mengapa Alkitab meminta kita memberi persembahan kepada              Tuhan (buah sulung, persepuluhan, dll) adalah sebagai pengakuan kita        atas berkatNya.
  2. Uang  Bukan Tujuan (Mat 6:33).
    • Secara konteks, ayat Alkitab yang kita baca ini sedang berbicara mengenai “Hal Kekuatiran”, yakni; hal-hal yang dikuatirkan oleh kebanyakan orang pada umumnya, seperti: kebutuhan hidup dan kebutuhan tubuh (uang dan kemakmuran). Itu sebabnya mengapa kalimatnya berkata; Janganlah kuatir…
    • Setelah menyampaikan pesan yang terkait dengan hal yang sering dikuatirkan oleh banyak orang pada umumnya, yakni; kebutuhan hidup, dst. Kemudian  Yesus berkata: Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu (ay:33).
    • Yang dimaksud dengan kata, “semuanya itu akan ditambahkan padamu” adalah menunjuk pada, apa yang disebutkan dalam ay:25 diatas, yakni:  kebutuhan hidup dan kebutuhan tubuh, termasuk uang dan kemakmuran.
    • Belajar dari kebenaran ini, maka dapatlah kita mengerti bahwa uang dan kemakmuran bukanlah tujuan melainkan efek samping dari mencari Allah. Dengan kata lain, bagi orang beriman, uang dan kemakmuran berkaitan dengan iman atau komitmen mencari Allah.
    • Bd: Nabi Elia dan ibu janda disarfat (I Raja 17:7-24).
    • : Allah memberi kita 2 tangan, satu untuk memberi, satunya lagi untuk    menerima. Jika Allah bisa membuat uang mengalir melalui kita, maka Ia    juga    bisa membuat uang mengalir kepada kita.
  3. Uang  Adalah Sarana Hidup Dan Pelayanan.
    • Ada banyak orang yang memiliki sasaran kerja yang keliru dan yang tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Mereka berpikir bahwa, mereka bekerja dengan sasaran dan harapan agar dapat memuaskan kebutuhan mereka semata; membayar tagihan bulanan, membeli makanan, pakaian, dll.
    • Rasul Paulus, ketika menulis surat kepada jemaat di Efesus, ia mendorong jemaat di Efesus untuk berpikir secara berbeda dengan kebanyakan orang terkait dengan sasaran kerja. Ia berkata: Orang yang mencuri, janganlah ia mencuri lagi, tetapi… supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang (Efesus 4:28).
    • Rasul Paulus tidak menyuruh mereka bekerja hanya untuk supaya mereka dapat membayar tagihan bulanan, memuaskan kebutuhan, membeli makanan dan pakaian mereka. Paulus meminta mereka bekerja keras supaya mereka dapat membagikan sesuatu kepada orang yang kekurangan.
    • Belajar dari apa yang disampaikan oleh rasul Paulus ini, maka dapatlah kita mengerti bahwa: Setiap Rupiah yang kita peroleh memiliki potensi untuk mempengaruhi kehidupan seseorang menjadi lebih baik.
    • Bd: Raja Daud (I Twr 29:1-19. Matius 10:30. Filipi 4:19).

Ancaman terbesar diabad ini

  • Salah satu ancaman terbesar yang kita hadapi diabad ke- 21 ini, sebenarnya bukanlah serangan teroris, krisis, bencana alam, dsb. Melainkan serangan-serangan terhadap pernikahan atau rumah tangga kita.
  • Setiap hari buku, majalah, iklan, film dan internet membombardir semua orang dengan siaran dan gambar-gambar yang tidak menghormati pernikahan. Para pria/wanita jalan sama dengan yang bukan pasangannya, anak-anak muda/remaja sudah gonta-ganti pasangan, dst.
  • Bd: Orang-orang dalam memilih teman hidup itu sudah sama seperti belanja pakaian. Ada yang menganut Filosopi: sekali pake lepas. Ada yang menganut, tanggal kadaluarsa, dll.
  • Menyadari adanya serangan-serangan tersebutlah, sehingga Allah memerintahkan kita untuk menjaga dan menghormati pernikahan kita lebih dari apapun, termasuk uang, pasangan dan perasaan kita. (Lih, Ibrani 13:4). 

Tidak ada pasangan yang sempurna yang ada ialah saling menerima

  • Seorang pria berkata, pak..! Kami dulu saling mencintai dan saling menyayangi, tetapi akhir-akhir ini kami merasa bahwa kami sudah tidak cocok lagi, itu sebabnya kami harus berpisah. 
  • Sebenarnya, tidak ada 2 orang yang sepenuhnya cocok didunia ini, bahkan walaupun mereka dibesarkan dalam lingkungan dan keluarga yang sama. Yang ada ialah, belajar untuk menjadi pasangan yang cocok.
  • Artinya, kita harus belajar       berkorban, mengabaikan beberapa hal, mau berkompromi demi kebaikan hubungan-hubungan kita.  

Belajar dari raja Salomo

  • Kitab Kidung Agung adalah Kitab yang mencatat tentang kisah percintaan PASUTRI yang Alkitabiah. Dalam Kitab yang berisi 8 pasal itu, Salomo memuji istrinya 40x. Dalam Kitab itu raja Salomo menulis tentang, kecantikan, kekuatan, dan kepandaian istrinya (Lih Kidung Agung 4:1).
  • Belajar dari apa yang dilakukan oleh raja Salomo ini dapatlah kita mengerti bahwa, salah satu hal terpenting yang harus kita jaga dan kita upayakan dalam pernikahan kita adalah: menjaga serta memperhatikan kata-kata dan nada suara kita dengan teliti. 
  • Apakah cara kita berbicara membangkitkan semangat atau tidak, memberkati/tidak. Bukan berarti kita harus puitis dan romantis setiap saat. Tetapi ucapkanlah sesuatu yang mendorong dengan tulus. Mis: Engkau adalah ibu yang hebat bagi anak-anak, Istri yang rajin serta dapat dibanggakan, dst.
  • Bd; Banyak para pasangan tidak pernah mendapatkan dukungan dan pujian, bukan karena mereka tidak layak. Melainkan karena mereka tidak saling menghargai/menghormati. Yang mereka ucapkan ialah, apa yang salah       yang mereka lakukan; masakan tidak enak, dsb.
  • Bd: Menyentuh kompor gas.  Itulah yang dapat ditimbulkan oleh kata-kata yang menyakitkan. Kita mengucapkannya hanya dalam beberapa detik, tapi 3 bulan/tahun kedepan orang masih dapat merasakan sakitnya.
  • Bd: Jika tergoda untuk marah..tarik nafas dalam-dalam…Maju 7 langkah..

Suami adalah perekat rumah

  • Kata yang dipergunakan untuk menyebut suami atau Ayah dalam bahsa Inggris adalah: Husband. Kata “Husband” berasal dari bahasa Latin, yaitu: Houseband. Artinya: Perekat rumah.
  • Bd  :Gelang karet yang mengikat sekeliling suatu benda dan menyatukannya.

Istri yang cakap adalah mahkota suami

  • Amsal 12:4 berkata: Istri yang cakap adalah mahkota suaminya. Artinya, istri adalah cerminan dari keberadaan laki-laki/suaminya. Jika penampilan istri kita suka murung, cemberut, kotor, dsb, itu adalah cerminan bagaimana suami memperlakukan mereka.
  • Bd: Putra/Putri kita kelak akan menikah. Bagaimana perasaan kita jika        kelak        pasangannya memperlakukan mereka dengan kasar/keras?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *