Pendahuluan
- Kita patut menaikkan syukur tanpa henti kepada Tuhan atas kebaikan dan kemurahanNya yang tak terhingga yang selalu dicurahakan atas kita. Disamping karena kebaikan dan kemurahanNya yang tak terhingga, kita juga patut bersyukur karena setiap kali kita membaca Alkitab, kita menemukan janji Tuhan yang Ya dan Amen serta penuh kuasa. Tidak heran, jika setelah membacanya kita menjadi kuat, tidak mudah goyah dan tawar hati walaupun harus melewati berbagai musim kehidupan, sebab kita mengetahui bahwa penyediaan Tuhan melampaui kemampuan kita menerima.
- Dicatat dalam ayat Alkitab yang kita baca ini bahwa di Israel kuno, ada sebuah keluarga yang takut akan Tuhan sedang dalam keadaan masalah besar, yaitu terlilit hutang. Selain terlilit oleh hutang, keluarga ini juga tidak mampu membayar hutang tersebut, tidak memiliki sumber apapun yang bisa diharapkan untuk dapat membayar hutang itu, dan sekarang si penagih hutang datang hendak membawa kedua anaknya menjadi budak sebagai ganti atau jaminan atas hutang mereka (2 Raj 4:1).
- Walau tidak disebutkan secara langsung mengenai nama dari nabi yang takut akan Tuhan dan yang meninggalkan hutang yang sangat besar ini. Namun hampir semua para ahli sepakat bahwa nama dari nabi yang dimaksud adalah Obaja. Hal ini berhubungan dengan peristiwa dalam 1 Raj 18:1-4, dimana nabi Obaja menyelamatkan 100 orang nabi Tuhan dengan menyembunyikannya disebuah gua dan memberi mereka makan, sehingga mereka selamat dari pembunuhan yang dilakukan oleh raja Ahab.
- Bd: Besar kemungkinan bahwa penyebab mengapa keluarga hamba Tuhan ini terlilit hutang yang sangat besar adalah karena perjuangan dan pengorbanan yang dilakukan oleh nabi Obaja demi terpeliharanya kelangsungan pelayanan pekerjaan Tuhan kepada bangsa Israel.
Mujizat bisa terjadi, namun bisa pula berhenti
- Terlepas dari apapun yang menjadi penyebab seseorang terlilit dengan berbagai persoalan berat dalam hidupnya; apakah akibat krisis yang berkepanjangan, kondisi alam, keadaan politik, perbuatan buruk orang lain atau bahkan diri kita sendiri! Apabila kita datang kepada Tuhan meminta pertolonganNya, maka Ia pasti membuka jalan serta mencurahkan mujizatNya secara tak terhingga keatas hidup kita sebagaiamana yang dilakukanNya pada keluarga di Israel kuno ini.
- Ketika perempuan singgle Mom itu datang kepada Tuhan melalui nabi Elisa, maka Elisa berkata: Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu…, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah (4:3-4).
- Lalu pada bagian ayat berikutnya diberitahukan: Ketika bejana-bejana itu sudah penuh, berkatalah perempuan itu kepada anaknya: “Dekatkanlah kepadaku sebuah bejana lagi,” tetapi jawabnya pada ibunya: “tidak ada lagi bejana.” Lalu berhentilah minyak itu mengalir (4:6). Kalimat, “lau berhentilah minyak itu mengalir” menjelaskan bahwa mujizat bisa terjadi kapan saja, tetapi ia juga bisa berhenti kapan saja, khususnya ketika kita tidak waspada.
- Bd: Mujizat berhenti atau tidak bergantung kepada masing-masing kita sipenerima bukan Sang Pemberi. Ini adalah tanggungjawab kita, bukan terserah pada Tuhan. Tuhan adalah sumber dari segala sesuatu yang kita butuhkan, tak seorangpun mampu menghambat gerakan Allah dalam hal mencurahkan mujizat, mujizat akan terus mengalir, selalu dan selamanya atau tiada henti.
- Pertanyaan yang perlu untuk kita renungkan adalah: Bagaimana supaya mujizat itu mengalir tanpa henti? Mengapa mujizat bisa berhenti mengalir? Hal apa yang harus kita lakukan ketika mujizat berhenti mengalir? Simak penjelasan berikut ini:
- Terbeban dengan pekerjaan Tuhan (2 Raj 4:3).
- Perhatikan kalimat: “Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Menjelaskan bahwa Allah ingin agar setiap kita peduli tidak hanya pada bejana-bejana kosong kita, Allah ingin agar setiap kita tidak hanya terbeban dengan bejana-bejana kosong yang ada dirumah kita sendiri, tetapi juga bejana-bejana kosong dirumah tetangga, keluarga, sahabat dan sesama kita yang lain. Pergilah, kumpulkanlah dan isilah bejana-bejana mereka juga.
- Dengan kata lain Alkitab mau berkata, orang beriman tidak boleh berpikir sektoral, egois atau hanya tentang dirinya sendiri, dengan berkata; “Oh, bejana ku adalah bejanaku, bejanamu adalah bejanamu”, atau “Aku tidak akan pernah mau memberikan bejanaku untuk dipinjam oleh siapapun, nanti bejana ku hilang atau rusak, dsb”.
- Sebagai orang percaya sungguhnya kita ini saling bergantung kepada satu sama lain; sebagaimana tangan membutuhkan tubuh demikian tubuh membutuhkan tangan. Sebagaimana seorang pelaut membutuhkan kapal demikian kapal membutuhkan awak dan nahkodanya, begitu pula dengan gereja membutuhkan jemaat dan jemaat juga membutuhkan gereja. Demikianlah kunci terjadinya mujizat (1 Kor 12:21).
- Bd: Bagaimana proses terhentinya mujizat di rumah perempuan singgle Mom itu? Apakah karena Allah berfirman, “Cukup sudah untuk hari ini, Aku tidak mungkin memberkatimu secara tak terhingga?” Jelas tidak! Mujizat masih terus dicurahkan, sampai mereka sendiri yang tidak berhasil menemukan bejana lagi. Berkat Allah itu tiada akhir, ia melampaui kapasitas penerimaan kita.
- Bd: Perempuan serta kedua anaknya mungkin telah kesana kemari meminjam bejana, kendi, panci atau apa saja, namun sikap mementingkan diri sendiri dari para tetangga yang tidak mau meminjamkan bejana tersebut tanpa disadari justru telah membantu mujizat itu berhenti.
YOUTUBE: https://youtu.be/kEGdxQovvzE


