MELAWAN JEBAKAN MEDIA SOSIAL (1 KOR 7:22).

Pendahuluan

  • Kita hidup di era digital, era di mana media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan orang beriman. Ayat Alkitab yang kita baca ini mengingatkan kita, orang-orang percaya  bahwa: Kita adalah orang bebas atau milik Tuhan, yakni: orang yang tidak terikat dan tertekan oleh hal apa pun yang berasal dari dunia ini, termasuk oleh himpitan dan tekanan media sosial (1 Kor 7:22).
  • Adalah merupakan rencana Tuhan sedari awal untuk memerdekakan kita dari keterikatan dosa dan keterikatan akan hal apapun yang berasal dari dunia ini. Ini mencakup kemerdekaan kita dari jebakan dan kecanduan apapun termasuk media sosial.
  • Memang harus diakui dengan jujur bahwa media sosial berkontribusi besar untuk kemajuan kehidupan masyarakat modern ini, baik pekerjaan, hubungan maupun pelayanan. Kita bisa menjangkau teman dan keluarga yang jauh, berbagi informasi dan edukasi, membangun bisnis secara on line, menyaksikan berbagai hiburan melalui handphone, mendapat  kebutuhan psikologi, dll.
  • Pada dasarnya ide awal menciptakan media sosial ini adalah untuk tujuan yang baik, yakni supaya kita bisa melampaui batas ruang dan waktu. Ide ini disebut dengan “memperpendek” jarak atau ruang atau cakupan, sehingga secara bersamaan kita “memperpendek” waktu tempuh pula.
  • Tetapi kenyataannya, media sosial tidak hanya membawa dampak positif, jika tidak disikapi dengan bijak, media sosial bisa memberi pengaruh negatif, bahkan berpotensi merusak kesehatan mental seseorang (1 Kor 10:23. Mzm 1:1-3).

Dampak negatif penggunaan media sosial secara berlebihan  

  • Berikut adalah laporan hasil penelitian yang mengungkap bahwa orang yang aktif di internet secara berlebihan akan memperoleh dampak negatif hingga dewasa, dikarenakan sedari kecil sudah terpapar dengan media sosial.
    • Peningkatan Kecemasan dan Depresi: Studi dari ⁠University Of California Davis Health menemukan bahwa sifat adiktif media sosial memicu pelepasan hormon dopamin, yang mana saat kadarnya menurun akibat tidak menggunakan aplikasi, pengguna bisa merasakan cemas, kesepian, dan depresi.
    • Masalah Citra Tubuh (Body Image): Penelitian dari Universitas Airlangga mengungkapkan bahwa remaja yang lebih sering menggunakan media sosial cenderung merasa lebih buruk tentang citra tubuh mereka akibat paparan standar kecantikan yang tidak realistis.
    • Gangguan Tidur dan Kecanduan: Paparan layar ponsel hingga larut malam dan kecanduan digital tidak hanya mengganggu kualitas tidur, tetapi juga dapat memicu masalah perilaku dan penurunan kemampuan fokus.
    • Cyberbullying dan Tekanan Sosial: Berdasarkan publikasi dari ⁠Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, interaksi di media sosial rentan terhadap cyberbullying yang secara drastis dapat menurunkan harga diri (self-esteem) remaja.

Jebakan media sosial

  • Dalam bukunya, “Being Jesus Online”, Dennis Moles menulis bahwa kehadiran alat komunikasi yang luar biasa di masa sekarang ini tidak hanya mengubah cara kita berhubungan dan berkomunikasi, tetapi juga telah mengubah cara banyak orang dalam menjalani hidup.  Tidak dapat dipungkiri bahwa, perubahan alat komunikasi dan fitur-fitur di dalamnya yang semakin canggih telah mempengaruhi perilaku penggunanya.
  • Sekali dua kali kita menggunakan medsos, maka kita akan semakin tertarik. Di rumah ataupun di luar, waktu-waktu kita akan banyak tersita untuk asyik sendiri dengan ponsel kita. memang banyak teman-teman baru yang didapat di dunia maya, tapi meski demikian di dunia nyata malah kebalikannya. Kita kehilangan komunikasi yang hangat dengan orang-orang di sekeliling kita, karena setiap kali bertemu mereka, kita lebih banyak tertunduk dan asyik sendiri dengan ponsel kita.
  • Penyebab mengapa orang mulai tidak memperdulikan komunikasi tatap muka adalah karena nyaman komunikasi dengan layar ponsel, tanpa disadari sesungguhnya kita telah benar-benar kecanduan atau terjebak dengan media sosial. Disinilah akar permasalahannya, sebab kenyamanan sering membuat kita tidak bertumbuh, alih-alih hidup berbuah, kita malah kehilangan relasi  dengan sesama dan Tuhan, di gereja kita menjadi tidak fokus, baca Alkitab dan berdoapun menjadi jarang.
  • Bd: Bukan hanya generasi digital atau anak remaja dan pemuda, orang lanjut usia pun banyak terpeleset atau terjebak dalam konten-konten buruk media sosial; menyampaikan berita bohong, ujaran kebencian, memprovokasi, mengumbar nafsu, pelecehan, penghinaan, dst.  Mengapa hal demikian dapat terjadi? Karena terjebak dengan konten-konten di media sosial tersebut. 
  • Bd: Gereja sebagai komunitas iman yang notabene berlandaskan kebenaran dan kebaikan Tuhan harus mampu memanfaatkan media sosial sebagai media untuk membangun pergaulan yang baik dan benar. Hal ini adalah tantangan kita kedepan dan harus menjadi tanggung jawab kita bersama.

Jebakan yang harus dilawan  

  • Berikut ini adalah beberapa jenis jebakan yang harus dihindari atau dilawan saat menggunakan media sosial, termasuk apa yang harus dilakukan jika kita mulai terobsesi dengan media sosial, antara lain:
  1. Pamer tubuh atau pamer harta
    • Media sosial telah menjadi ajang persaingan siapa yang memiliki aset terbaik dalam hidup. Dan yang saya maksud dengan aset adalah tubuh dan harta benda. Media sosial telah menjadi cara bagi orang-orang untuk memposting foto yang mengatakan, “Hei, lihat aku, aku seksi. Lihatlah perutku yang kencang ini dan tubuhku yang sempurna ini.” Atau, “Lihat mobil baruku, aku keren kan? Ya, aku kaya. #diberkati.”
    • Sebagai seorang Kristen, apakah kita benar-benar berpikir sebelum mengunggah foto-foto provokatif atau foto-foto yang memamerkan tubuh itu, memuliakan Tuhan atau tidak? Mana yang lebih baik, mengunggah foto-foto yang memamerkan tubuh, dan harta benda atau menunjukkan isi hati kita atau kesaksian hidup kita?
    • Alkitab menyerukan supaya kita menghormati Tuhan dengan tubuh kita, dan untuk bersikap sederhana dalam penampilan kita (1 Kor 3:16 ; 6:19-20). Ketika kita memamerkan tubuh kita di media sosial, apa pun alasannya, kita tidak memuliakan Tuhan dengan tubuh kita. Tubuh kita dimaksudkan untuk memuliakan Tuhan, bukan untuk dipamerkan dengan cara yang penuh nafsu atau provokatif.
    • Ketika kita mengunggah foto-foto provokatif, sebenarnya kita sedang berusaha mendapatkan persetujuan orang lain sehingga kita semakin percaya diri. Seorang wanita yang beriman tahu bahwa kecantikan dan nilainya berasal dari Tuhan, bukan dari jumlah orang yang menyukai fotonya di Instagram.
  2. Menghabiskan waktu terlalu banyak di media sosial
    • Alkitab mendorong kita untuk memanfaatkan waktu kita di bumi sebaik-baiknya, dan tidak bermalas-malasan (Ef 5:15-17). Kata,”Pergunakanlah waktu yang ada” menegaskan bahwa Allah ingin agar setiap kita MEMANFAATKAN WAKTU  yang ada/yang diberikan Tuhan  kepada kita sebaik-baiknya. Allah tidak ingin kita membuang-buang waktu atau menyia-nyiakannya dengan percuma.  
    • Jika sudah menggunakan media sosial cukup lama, perlu segera menyadari betapa mudahnya menghabiskan setengah jam atau bahkan berjam-jam, tanpa berpikir panjang menggulir Instagram, menonton Reels dan Stories orang lain. Oleh sebab itu penting untuk mengidentifikasi berapa banyak waktu yang kita habiskan di media sosial dan apakah hal itu memengaruhi kemampuan kita menyelesaikan hal-hal lain?
    • Waktu bukanlah sesuatu yang dapat dibeli atau diupayakan dengan kekuatan dan keterampilan seseorang, waktu adalah milik Tuhan, oleh sebab itu, ia harus dipergunakan secara baik dan maksimal. 
    • Disamping itu, waktu adalah hal yang paling berharga daripada apapun yang pernah kita miliki. Ia lebih berharga dari pada uang, emas dan permata lainnya. Dengan waktu kita dapat menghasilkan uang dan harta, tetapi uang dan harta  tidak dapat menghasilkan waktu.
    • Bd: Bagaimana cara kita mengelola uang; membelanjakannya dengan tepat sasaran dan terencana, dan bukan menghambur-hamburkannya? 
  3. Terobsesi atau menjadikan media sosial sebagai idola
    • Apakah mungkin seseorang terobsesi dengan media sosial, atau bisakah seseorang menjadikan media sosial sebagai idola? Ya, sangat bisa. Sama seperti hal lainnya yang kita gunakan secara berlebihan akhirnya menyebabkan kita menjadi ketergantungan atau kecanduan, dan akhirnya kita terobsesi dengannya.
    • Menurut Addiction Center , diperkirakan sebanyak 5 hingga 10% warga Amerika memenuhi kriteria kecanduan media sosial saat ini. Mereka mendefinisikan kecanduan media sosial sebagai: “Suatu kecanduan perilaku yang ditandai dengan kekhawatiran berlebihan terhadap media sosial, didorong oleh keinginan tak terkendali untuk masuk atau menggunakan media sosial, dan mencurahkan begitu banyak waktu dan upaya untuk media sosial sehingga mengganggu bidang kehidupan penting lainnya.”
    • Media sosial bisa sangat adiktif karena dopamin dilepaskan saat menggunakan media sosial, khususnya setiap kali kita mendapatkan notifikasi, suka, atau komentar. Tetapi seiring waktu, otak kita akan mengubah dirinya sendiri untuk mendambakan imbalan yang diberikan media sosial. Hal ini mengakibatkan kebiasaan adiktif atau kebutuhan untuk menggunakan media sosial agar terus menerima kesenangan atau imbalan.
    • Bd: Kecanduan terhadap apa pun atau siapa pun berbahaya bagi kesehatan kita, dan ketika kita kecanduan atau terobsesi dengan media sosial, pada dasarnya kita menjadikannya berhala dengan menempatkannya di atas Tuhan (Kel 20:3-5).
    • Bagaimana kita tahu bahwa kita punya masalah, atau menggunakan media sosial secara berlebihan, atau terobsesi dengan media sosial? Tanyakan beberapa pertanyaan ini pada diri sendiri:
      • Apakah media sosial adalah hal pertama yang kita lihat saat bangun tidur di pagi hari, dan hal terakhir yang kita lihat sebelum tidur?
      • Berapa jam sehari kita habiskan di media sosial?  
      • Per-berapa menit kita meraih ponsel dan membuka media sosial untuk melihat apakah ada suka atau notifikasi baru?
      • Apakah kita merasa stres atau cemas karena ingin mendapatkan lebih banyak like dan follower?
      • Saat bersama orang lain secara langsung, apakah kita menghabiskan waktu di media sosial di depan mereka dan bukan terlibat dalam percakapan nyata dengan orang yang duduk di seberang kita?
      • Apakah kita menghabiskan hari-hari kita untuk mengunggah postingan di media sosial dan menanggapi komentar?
      • Apakah kita mampu melewati satu hari tanpa menggunakan media sosial sama sekali? Bagaimana dengan beberapa hari?
  4. Menggunakan media sosial sebagai cara untuk beristirahat
    • Kita diciptakan untuk beristirahat. Kita melihat betapa pentingnya memelihara hari Sabat dan beristirahat bagi Tuhan, sebagaimana Dia sering mengingatkan kita dalam Alkitab. Dan itu bukan sekadar anjuran, istirahat adalah perintah (Ibr 4:11).
    • Mungkin terasa menenangkan di penghujung hari yang panjang untuk meringkuk di sofa dan menghabiskan waktu berselancar di media sosial, tetapi apakah kita benar-benar merasa segar setelah beraktivitas di media sosial? Saya tidak tahu bagaimana dengan yang lain, tetapi menurut saya berada di media sosial justru membuat kita merasa lebih lelah dan letih. Artinya, media sosial tidak memberikan istirahat bagi otak kita.
    • Mungkin ada yang senang menonton video anjing dan bayi yang lucu, tetapi mulailah memperhatikan bagaimana perasaan kita setelah menggunakan media sosial. Apakah itu menguras energi kita, memberi energi baru atau membuat kepala dan mata kita sakit?
    • Beristirahat dari layar adalah hal yang baik. Lakukan apa pun yang perlu dilakukan untuk mematikan notifikasi, otak dan tubuh kita akan berterima kasih.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *