MERESPON PERILAKU EKSTRIM KAUM DIGITAL

GEnerasi digital, gbi life springs berastagi

Pendahuluan

  • Minggu lalu kita belajar dari kitab Kisah Para Rasul 2:14-21 yang kita baca ini. Dari keterangan Alkitab ini kita mengetahui bahwa generasi digital adalah pewaris dari gerakan Roh Kudus yang baru, mereka adalah generasi yang menggairahkan di akhir zaman, para juara-juara hebat yang akan Allah pakai untuk membawa Injil kepada generasi berikutnya, atau mungkin merupakan generasi terakhir yang akan menerima janji Allah, yang demikian bunyinya:… (Kis 2:17). 
  • Menyadari kebenaran ini, maka gereja perlu mengerti bagaimana cara memperlakukan generasi digital, memberi diri untuk mengasihi, merangkul dan menerima mereka, baik laki-laki maupun perempuan sebagai pemberian Allah yang paling besar bagi gereja. Dengan demikian maka kita sedang menyenangkan Roh Kudus, meresponi panggilanNya atas kita untuk meluncurkan generasi berikut sehingga mengalami kasih dan rencana Allah dimasa depan (Kis 2:21).

Perilaku kaum digital  

  • Berkaitan dengan perilaku ekstrim kaum digital sebagaimana topik pembahasan kita hari ini, saya memberi beberapa catatan untuk memperlihatkan bahwa benar dan nyata adanya perilaku ekstrim yang membedakan antara generasi digital imigrant (generasi orang  tua) dengan generasi digital atau generasi muda yang lahir sekarang ini.
  • Menurut studi literatur dan psikologi, jika tidak segera ditangani, maka dampak dari perilaku ekstrim kaum digital ini dapat merusak kepercayaan diri dan membuat cemas ketika berhadapan langsung dengan lingkungan nyata, mengakibatkan terjadinya  penyimpangan psikologis dan sosial akibat penggunaan teknologi yang berlebihan, yang ditandai dengan pengabaian norma nyata, penurunan kesehatan mental, serta rentannya anak muda terhadap paparan konten kekerasan.
  • Berikut adalah kriteria perilaku ekstrim dari kaum digital, antara lain:
  1. Kecanduan internet parah
  • SCREEN TIME TINGGI ATAU KECANDUAN LAYAR: Bisa menghabiskan rata-rata di atas 6-8 jam per hari untuk gadget, game, internet bahkan mengabaikan aktivitas fisik, dan sulit mengontrol waktu.
  • KEHILANGAN FOKUS DAN PRODUKTIVITAS: Kemampuan konsentrasinya (attention span) mengalami penurunan drastis demikian dengan prestasi akademik/kerjanya.
  • GANGGUAN FISIK DAN PSIKOLOGIS: Mengalami gangguan pola tidur (insomnia), perubahan pola makan drastis, hingga kecemasan berlebih saat jauh dari perangkat atau saat koneksi internet terputus.

2. Krisis Identitas

  • Krisis identitas atau yang disebut dengan istilah ISOLASI SOSIAL: Ditandai dengan penarikan diri dari dunia nyata, mereka menghindari interaksi tatap muka dengan keluarga dan teman, lebih memilih hidup di ruang virtual.
  • ANTI EMPATI: Mereka memiliki kecenderungan untuk melontarkan ujaran kebencian atau cyberbulliyng, perundungan atau komentar agresif yang bersembunyi dibalik anonimitas atau dibalik layar.
  • KETERASINGAN EMOSIONAL: Mengalami kesulitan menjalin hubungan sosial yang sehat di dunia nyata karena terbiasa dengan relasi artifisial di media sosial.

3. Radikalisme dan Ekstremisme Ideologis

  • EKSKLUSIVE DALAM KOMUNITAS. Mereka terjebak dalam gelembung informasi di mana mereka hanya berinteraksi dengan mereka yang dianggap pandangannya sama – sefrekunsi. Hal ini membuat mereka mengklaim kelompoknya paling benar dan merendahkan yang lain.
  • INDOKTRINASI ONLINE: Mereka rentan terhadap propaganda radikal, terorisme, atau intoleransi yang disebarkan melalui gaming atau media sosial.
  • KEJAHATAN SIBER (Cybercrime): Keterlibatan dalam aktivitas ilegal seperti peretasan, pencurian data, atau penyebaran hoaks secara masif, dll.

Cerminan perasaan kaum digital             

  • Beberapa artikel dan tulisan peneliti memberi catatan tentang cerminan perasaan dari generasi digital atau masyarakat digital. Selain, kontemporer atau suka berubah-ubah,  tidak merasa aman dengan keterasingan, dengan identitas lama seperti agama, sejarah, dll.
  • Cerminan dari perasaan kaum digital juga dicatat sebagai berikut: senang tekhnologi dan dunia fantasi, pemalu, merasa seperti yatim piatu, merasa dihina atau ditolak, merasa mudahpatah semangat.

Menghadapi perilaku ekstrem kaum digital

  • Setelah melihat secara garis besar beberapa kriteria perilaku ekstrim kaum digital, maka pada kesempatan ini kita perlu mengerti bagaimana merespon perilaku ekstrim kaum digital tersebut? 
  • Berikut adalah penjelasan mengenai bagaimana merespon atau menghadapi perilaku ekstrim kaum digital, yaitu:
  1. Bangun kebersamaan (Yoh 17:1-5).
  • Perhatikan bunyi kalimat yang dicatat dalam ay;4 ayat bacaan kita ini, khususnya kalimat yang berbunyi: Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Dari kalimat ini dapat kita mengerti bahwa Yesus berhasil menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepadaNya.
  • Apabila kita memperhatikan secara sekilas perjalanan pelayanan Yesus Kristus selama 3,5 tahun di muka bumi ini, maka kita akan menemukan bahwa: Yesus pernah mengumpulkan sejumlah besar orang di puncak popularitasNya, Ia mengadakan berbagai mujizat, menyembuhkan orang – orang sakit, melepaskan orang dari ikatan kuasa gelap dan membangkitkan orang mati.
  • Namun setelah kematianNya, Alkitab melaporkan bahwa orang – orang yang bertahan dan tetap bersama Dia adalah 120 orang (Kis 1;15). Kemana perginya ratusan orang lainnya yang mengelu – elukan Dia ketika Ia hendak masuk ke kota Yerusalem, atau ribuan orang yang berkumpul saat mendengarkan Dia berkhotbah diatas bukit?
  • Jumlah yang berkumpul di loteng Yerusalem sehari jelang Pentakosta ini adalah gambaran yang menunjukkan sebuah pelayanan yang mengalami kemunduran dan kegagalan, bukan keberhasilan yang baik yang mendatangkan kemuliaan, atau sebuah kegerakan yang mengguncang dunia melainkan ketiadaan harapan.
  • Namun diluar dari semua perkiraan, Yesus tanpa ragu menyatakan bahwa Ia telah mengerjakan apa yang diperintahkan Bapa untuk dilakukanNya, dan Ia berhasil menyelesaikannya. Apa yang bisa menjelaskan ketidaksinkronan ini? Secara kriteria pelayanan Yesus tampak gagal atau tidak begitu berharga, apalagi membanggakan, tetapi disatu sisi, Yesus merasa sangat puas dan damai dengan pencapaianNya?

Membangun kebersamaan

  • Satu – satunya kalimat yang dapat menggambarkan cara terbaik yang dilakukan Yesus untuk menyelesaikan tugas pelayanan-Nya sehingga Ia berhasil adalah Yesus membangun kebersamaan dalam hidup sehari-hari.  
  • Yesus meluangkan waktu membersamai para murid, mengajak mereka untuk turut serta dalam beberapa pelayanan, mendampingi mereka dalam pelayanan, membiarkan mereka mengamati kita dan belajar tentang bagaimana menjadi dewasa rohani, belajar dari kesalahan dan kekeliruan serta saling mengakui dengan rendah hati, dst.
  • Bd: Dari semua tugas pelayananNya, Yesus lebih banyak memfokuskan agendaNya pada membangun hubungan dengan sesama. Dia berkumpul dan berbicara dengan banyak orang, tetapi Dia juga menemui beberapa laki – laki dan perempuan dan berinvestasi secara lebih mendalam dengan mereka sehingga mereka menjadi sekumpulan pengikut yang menjungkirbalikkan dunia (Kis 17;6).
  • Bd: Pemimpin – pemimpin lain dalam Kerajaan Allah juga melakukan investasi hubungan yang serupa: Musa berinvestasi dalam diri Yosua, kaleb, dan Harun. Nabi Elia memanggil Elisa dan memintanya untuk menyertainya sebagai hamba dan meneruskan warisan kenabian kepada Elisa (2 Raj 2;9). Paulus membimbing Timotius dan Titus (2 Tim 2;2), dan seterusnya.    

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *