Pendahuluan

  • Kata, “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah, adalah kata yang dikutip dari dua sumber utama di PL, yakni Kel 19;5-6 dan Yes 43;21. Kedua bagian Firman Tuhan ini mencatat tentang janji agung Allah atas bangsa Israel, dimana mereka akan menjadi pelayan keajaiban.
  • Adapun maksud dan tujuan rasul Petrus mengutip kedua bagian Firman Tuhan tersebut adalah untuk menjelaskan bahwa:
  • Janji agung yang Allah sampaikan kepada umatNya Israel di PL tersebut telah, sedang dan akan terus digenapi melalui Israel baru yaitu gereja – orang percaya.
  • Untuk menjelaskan maksud dan tujuan keberadaan orang percaya dimuka bumi ini, yaitu untuk menyatakan perbuatan – perbuatanNya yang besar, ajaib dan luar biasa (1 Pet 2;9b).
  • Menyimak apa yang disampaikan oleh nats Firman Tuhan ini maka dapatlah kita mengerti bahwa keberadaan kita sebagai orang percaya dimuka bumi ini  adalah sebagai pelayan – pelayan keajaiban, pelaku – pelaku keajaiban setiap hari.   

Kunci mengalami keajaiban

  • Menyadari bahwa panggilan orang percaya adalah sebagai pelayan atau pelaku – pelaku keajaiban, maka dari itu sesungguhnya adalah normal jika kita mengalami keajaiban setiap hari dan ini telah, sedang dan akan terus terjadi pada gerejaNya.
  • Pertanyaannya adalah, bagaimana caranya agar setiap orang percaya dapat melihat dan mengalami keajaiban – keajaiban  tersebut setiap hari? Hal ini penting untuk diselidiki mengingat masih banyak orang percaya yang terkejut ketika mengalami keajaiban padahal sesungguhnya itu biasa.
  • Berikut adalah penjelasan mengenai kunci agar dapat mengalami keajaiban setiap hari:
  1. Jangan remehkan perbedaan (urapan) yang ada (1 Pet 2;9).
  2. Perhatikan kalimat yang berbunyi: Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah.
  3. Kalimat, “bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah” adalah menjelaskan bahwa: Orang – orang percaya adalah orang – orang yang berbeda dengan kebanyakan orang pada umumnya.
  4. Perbedaannya bukan pada warna kulit, postur tubuh atau hal – hal fisik lainnya, melainkan pada kenyataan bahwa kita telah dikhususkan (hagios) dan diurapi untuk sebuah rencana Illahi, yakni menyatakan perbuatanNya yang ajaib. Perbedaan inilah yang harus dijaga/dihargai, sebab ini merupakan keuntungan/ nilai lebih kita.
  5. Urapan itu sama seperti bahan bakar bagi sebuah kendraan. Orang bisa saja memiliki kendraan paling mahal, kapasitas mesin paling besar, interior paling mewah dan penampilan paling indah. Tetapi jika ia tidak diisi dengan bahan bakar maka tidak banyak yang bisa dilakukan oleh mobil tersebut bagi kita.